• Home
  • 01 November 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 01 November 2004

    Serangan Antraks

    TIBA-tiba Kecamatan Babakan Madang di Kabupaten Bogor diserbu antraks, enam nyawa melayang, dan seluruh negeri baru ribut soal penyakit yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis itu. Inilah problem khas Indonesia: kita suka berpikir tentang bagaimana mengobati, tapi jarang bertindak bagaimana mencegah potensi wabah penyakit.

    Buktinya adalah antraks di Babakan Madang itu. Serangan penyakit yang dibawa oleh hewan ternak itu-seperti diungkapkan Menteri Pertanian Anton Apriyantono-sudah terjadi berulang-ulang di masa lalu. Tapi tetap saja wabah yang sama datang lagi, di kabupaten yang sama, kali ini bahkan merenggut korban nyawa terbanyak.

    Artinya, kita-masyarakat dan petugas dinas kesehatan pemerintah-lambat betul memahami persoalan antraks. Bakteri itu sudah dipelajari ahli dari Jerman, Robert Koch, 127 tahun yang lalu. Pada 1957 sudah juga diketahui bahwa bakteri ini bisa menulari manusia. Dan di Kabupaten Bogor, sejak 2001 sudah 47 orang terjangkit antraks dan 11 orang tewas-termasuk enam orang di Babakan Madang itu. Lima lokasi di Kota Bogor dan sembilan kawasan di Kabupaten Bogor adalah wilayah endemik antraks, yang diketahui ada di sana sejak 1965. Kalau kita mau lebih peduli, rasanya korban tak perlu bertambah banyak, karena jika terdeteksi pada fase dini, antraks bukan penyakit mematikan.

    Antraks adalah penyakit pada hewan piaraan dan juga hewan liar, terutama jenis herbivora, akibat bakteri antraks yang menempel di rumput atau makanan hewan lain yang termakan oleh hewan itu. Manusia akan terinfeksi oleh hewan yang sakit-misalnya sapi, biri-biri, kuda, keledai, dan kambing-melalui bakteri antraks yang masuk lewat mulut, kulit, atau terhirup bakteri antraks yang melayang di udara. Bila diketahui kurang dari 48 jam, orang yang terkena infeksi antraks masih bisa disembuhkan dengan suntikan antibiotik. Semakin cepat demam, sakit perut, atau muntah-muntah-tiga gejala umum serangan antraks-ditangani, risiko kematian semakin mungkin dihindarkan.

    Yang juga penting diketahui, spora yang menyebabkan bakteri antraks ini bisa tersimpan sampai 40 tahun di dalam tanah-hampir semua daratan di muka bumi bisa "dihuni" spora itu. Maka, perlu dijelaskan pada masyarakat, terutama di Babakan Madang, bahwa bahaya antraks bisa kapan saja muncul, walaupun sudah lama tak ada manusia yang terkena infeksi.

    Dalam kasus terakhir di Babakan Madang, langkah mengisolasi hewan ternak di daerah itu oleh Menteri Pertanian (yang mengaku tak rela melihat korban jatuh) merupakan langkah yang tepat. Langkah ini diikuti dengan vaksinasi hewan ternak di sana. Bagaimana dengan penduduk? Sebenarnya, vaksinasi untuk manusia yang belum terkena antraks bisa dilakukan dengan menelan pil Cyproflaxin, tapi pil itu konon harganya mahal-pil itu banyak dikonsumsi warga Amerika Serikat ketika terjadi teror amplop berisi spora antraks, yang menewaskan sedikitnya dua orang pada akhir tahun 2001.

    Kalau Cyproflaxin terlalu mahal, mungkin penyuluhan lebih murah dan mudah dilakukan. Anjuran penting yang utama, jangan sekali-kali penduduk menyembelih hewan ternak sendiri dan mengkonsumsinya-apalagi hewan yang disembelih itu sekarat akibat penyakit. Hewan ternak yang sehat pun harus dipotong di rumah potong hewan yang ditunjuk pemerintah daerah setempat. Cara ini akan menyelamatkan penduduk dari daging yang mengandung bakteri antraks.

    Penyuluhan itu harus terus-menerus dilakukan, sampai penduduk paham benar cara mendeteksi serangan antraks dan menghindarinya. Memang lebih baik mencegah, daripada melihat dengan perih korban terus berjatuhan.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Agian Masih Berhak Hidup

Antara Quinlan dan Agian

Album

Album

Buku

Imperium yang Pelupa

Catatan Pinggir

November

Tari

Tubuh dan Keberagaman itu

Subsidi Tiada Henti

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

Nasional

Usai Grasi Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian 'BLBI'  

Nasional

Rata-rata Nilai UN SMA DKI Jakarta Kalah Jauh dari Jatim

Jumlah Perempuan Perokok di Indonesia Naik Empat Kali Lipat

Olahraga

Inter Milan Rintis Sekolah Bola di Jakarta

Nasional

Di Yogya Para Menteri Masuk Istana, Dahlan Pilih ke Pabrik Gula

Nasional

Menteri Nuh: Daripada Lady Gaga, Mending Bee Gees

Nasional

KPK Mulai Usut Duit Kongres Demokrat

Nasional

Rekor Buncit Kelulusan di NTT Akibat Jebloknya Nilai IPA

Teknologi

Mengapa Kopi Hangat Tidak Enak?

Nasional

Seluruh Siswa di Empat SMA Ini Tak Lulus UN

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif