• Home
  • 08 November 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Iqra
  • Seni
    • Fotografi
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 November 2004

    Saman

    Saman adalah sebuah teror purba. Pada abad ke-2 orang Druid percaya bahwa dialah yang dipertuan di dunia kematian, yang tiap 31 Oktober malam akan mendatangkan barisan roh jahat. Penduduk wilayah Gaulia dan kepulauan Britania akan menunggu saat itu dengan gentar. Konon pada malam itulah para arwah akan datang mengetuk pintu rumah yang pernah mereka huni.

    Ketakutan kolektif ini melahirkan upacara?sebuah upaya melunakkan hati para demit yang melahirkan "pesta" Halloween.

    Ritual lama itu terus. Bukan karena takhayul masih kuat, tapi karena manusia tampaknya menggemari rasa takutnya sendiri. Cerita hantu gampang laku dan kecemasan mudah disebar-luaskan. Kini "horor" itu bahkan jadi bagian dari industri budaya. Pelbagai benda dan jasa beredar di toko dan kaki lima dunia: kedok setan, jubah Drakula, pesta dalam gelap, novel Stephen King?.

    Di Amerika Serikat, tahun 2004, pemasaran setan-setanan 31 Oktober itu dapat menjelaskan kenapa ketakutan pasca-11 September berlanjut terus. Dalam persaingan sengit dua calon presiden, ketakutan kolektif itu ("Awas teror!") diolah dengan kampanye yang panjang dan dana terbesar dalam sejarah: $ 550 juta dihabiskan untuk iklan di TV.

    Betapa kebetulan, tapi betapa cocok, ketika Usamah bin Ladin mendadak muncul 48 jam sebelum Halloween. Pemimpin "Al-Qaidah" yang menyatakan diri sebagai pengatur penghancuran ke Menara Kembar itu menyiarkan statemennya. Berbicara dari sebuah waktu yang tak jelas dan tempat yang entah di mana, ia memang personifikasi teror yang pantas bagi orang Amerika: Usamah adalah Saman yang dipertuan di dunia kematian, yang tampak sejenak dari sebuah rekaman video yang agak kabur. Jenggotnya panjang, sosoknya seperti jerangkong, pakaiannya seperti kostum si Tua Jahat dari dongeng Tolkien. Berbicara dengan yakin dan tenang, ia tunjukkan bahwa gempuran Amerika?sekian ribu prajurit, sekian ton amunisi, bertubi-tubi selama tiga tahun?tak mampu membunuhnya. Bak hantu orang Druid, ia hadir di antara ada dan tiada: teknologi yang piawai menampilkannya dari dekat, tapi teknologi yang setaraf tak dapat menjangkaunya.

    Ketak-jelasan itulah ciri pokok terorisme kini. Dulu, selama perang kemerdekaan Aljazair, bila bom meledak di subway atau di kafe Paris, orang tahu siapa pelakunya dan tujuan apa yang hendak dicapai. Hal yang sama terjadi semasa Perang Vietnam, bila di satu sudut Kota Saigon mendadak suara gelegar terdengar dan korban jatuh. Front Nasional Pembebasan Aljazair, seperti Front Nasional Pembebasan Vietnam ("Vietkong"), adalah organisasi perjuangan politik, dan teror hanyalah salah satu metodenya. Tapi "Al-Qaidah"? Sebuah organisasi besar? Sebuah "aliran"?

    Kini teroris tersebar, tapi tak jelas apa hubungan bom di Bali dengan bom di Spanyol, ledakan di Pakistan dengan pembunuhan di Mesir. Dan gambarannya kian ruwet setelah penculikan dan bom bunuh diri berkecamuk di Irak sejak Amerika menduduki negeri itu. Apa yang menyatukan aksi yang tersebar itu? Apa yang membedakannya?

    Memang sering dunia diberi tahu motif keagamaan mereka yang keras. Dunia juga tahu apa yang membuat mereka marah. Tapi tak pernah jelas bagaimana program politik di balik semua itu, dan bila mereka anti-Amerika, tak dapat dibayangkan bagaimana mereka akan mengalahkan "Sang Setan Besar".

    Dalam kekaburan itu bahasa mencoba menemukan ekonominya sendiri untuk lebih jernih. Pengertian disederhanakan, kata dicoba diberi bangunan makna yang ajek. Sebagaimana "rasa takut" purba diberi sosok "gendruwo" atau "kuntilanak", juga "teror" abad ke-21 diberi sosok "Al-Qaidah". "Musuh" juga secara samar-samar diberi wajah "Islam", tak peduli apa itu datang dari Iran, Arab, Inggris, atau Negeri Dongeng.

    Dalam pidato yang disiarkan di TV itu, misalnya, tak sepatah pun saya temukan kata "muslim" dalam teks Usamah bin Ladin; ia hanya menyebut Libanon dan Palestina. Tapi laporan Douglas Jehl dan David Johnston di The New York Times menulis bahwa tokoh "Al-Qaidah" itu berbicara tentang "muslim securities". Beberapa hari sebelumnya The Boston Globe mengutip seorang Amerika yang pernah disandera oleh kaum militan pada tahun awal Revolusi Iran. Ia menghubungkan penyanderaan di Teheran itu dengan pembantaian di World Trade Center tahun 2001. "Saya tahu mereka akan datang lagi," katanya?seakan-akan "mereka" yang di Iran dua dasawarsa yang lalu sama dengan "mereka" yang menghantui Amerika sejak "11 September".

    Dengan kata lain, berlainan dengan ketika menghadapi gerakan komunisme internasional, kini orang Amerika tetap tak tahu siapa gerangan musuh itu dan kenapa dan dari mana ia muncul. Bahasa dapat diberi bangunan makna yang ajek, namun yang "nyata" tetap luput. Teror tak mudah diringkas. Mambang dan peri akan tetap gentayangan. Bahkan para perencana di Pentagon tak tahu kapan perang melawan terorisme akan berakhir, bagaimana pula kemenangan dan kekalahan dirumuskan dalam rancangan operasi.

    Mungkin ini perang yang akan tak usai. Lingkaran setan dengan mudah terbentuk. Sebab telah tampak betapa mudahnya mengganggu keseimbangan jiwa orang Amerika, dan betapa mudahnya para politisi mengubah paranoia khalayak ramai jadi patriotisme dan xenofobia jadi uniletaralisme?yang pada gilirannya akan kian mengucilkan Amerika di dunia. Seregu kecil orang yang bersedia menghancurkan apa saja yang "Amerika" akan dapat memicu semua itu.

    Seperti Halloween, di sini pun rasa takut dapat mendatangkan hal-hal yang dapat diperdagangkan; senjata, misalnya. Tapi berbeda dari Halloween, dalam perang melawan terorisme itu ada kematian, kehancuran, dan kebencian yang berjangkit. Juga kehilangan perspektif. Orang lupa bahwa lebih besar ketimbang "Al-Qaidah" adalah ancaman kemiskinan, penyakit menular, hutan tropis yang habis, air bumi yang terkuras, ozon yang berlubang, dan bumi yang bertambah panas.

    Goenawan Mohamad


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Bertahan dan Kecewa dengan Tradisi

Catatan Pinggir

Saman

Fotografi

Tamasya di Antara Citra dan Realitas

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ternyata Ogah Didikte

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

Nasional

Usai Grasi Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian 'BLBI'  

Nasional

Rata-rata Nilai UN SMA DKI Jakarta Kalah Jauh dari Jatim

Jumlah Perempuan Perokok di Indonesia Naik Empat Kali Lipat

Olahraga

Inter Milan Rintis Sekolah Bola di Jakarta

Nasional

Di Yogya Para Menteri Masuk Istana, Dahlan Pilih ke Pabrik Gula

Nasional

Menteri Nuh: Daripada Lady Gaga, Mending Bee Gees

Nasional

KPK Mulai Usut Duit Kongres Demokrat

Nasional

Rekor Buncit Kelulusan di NTT Akibat Jebloknya Nilai IPA

Teknologi

Mengapa Kopi Hangat Tidak Enak?

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif