Dari gurat di wajahnya dan rambut panjangnya, tampaklah ia lahir pada tahun 1940-an. Ia, Ziauddin Sardar, tergolong baby boomer, aktivis politik tahun 1960-an, juga pemikir muslim dengan pandangan khusus. Dalam pikirannya, ada sebuah negeri yang bisa dijadikan contoh. Negeri yang memiliki elemen-elemen kebangkitan Islam. Negeri yang memeluk pluralisme, keadilan, kebebasan berbicara, dan berpikir. Tapi, dalam prakteknya, ia menelusuri negeri-negeri muslim di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Semua dituangkan dalam buku otobiografi terbarunya, Desperately Seeking Paradise. Majalah ini mencoba menukilkan buku itu untuk Anda, dan membandingkan perjalanan tokoh di atas dengan tokoh-tokoh lain.
Ia mungkin orang yang sangat rasional. Tapi apa yang dilakukannya mengingatkan kita pada Don Quixote, tokoh rekaan dalam novel Cervantes. Ya, Ziauddin Sardar menghabiskan 40 tahunan hidupnya untuk sebuah kebangkitan Islam. Dan ia telah berjalan jauh, sangat jauh.
Hassan Hanafi contoh lain pergumulan yang menarik dari seorang pemikir Islam. Dikenal terbuka pada Barat, ia mengaku "kiri" sekaligus "fundamentalis". Berikut petilan pergulatan batinnya, sebagaimana tertulis dalam otobiografinya.