• Home
  • 08 November 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Iqra
  • Seni
    • Fotografi
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 November 2004

    Jika Samudra Berkata-kata

    Sebuah buku dan beribu kata. Dapatkah dan perlukah kita segera memahami pemikiran dan isi hati seorang Imam Samudra? Melalui buku setebal 276 halaman buku berjudul Aku Melawan Teroris yang ditulis oleh pelaku bom Bali ini memberikan apa yang disebutnya sebagai Biografi Setengah Hati, karena, menurut Imam, "Tidak layak aku menulis otobiografi."

    Layak atau tidak, sebetulnya yang penting apakah jalan pemikiran dan latar belakang Imam Samudra alias Abdul Aziz ini bisa menjelaskan seluruh perilakunya yang membuat dirinya kemudian dikenal sebagai teroris (oleh mereka yang mengutuknya) atau "pejuang" (oleh mereka yang mendukungnya)?

    Mungkin ada beberapa hal yang membedakan buku ini dengan biografi tokoh sejarah. Buku ini berkisah tentang sebuah kamar belajar yang memampangkan peta Afganistan. Tentu saja ini bukan sebuah pertanda cinta geografi, tetapi menunjukkan sebuah tekad yang pernah tumbuh di sana. Di meja belajarnya terdapat tumpukan buku-buku, di antaranya berjudul Ayatur Rahman fie Jihadi Afghanistan (Tanda-tanda kekuasaan Allah dalam Jihad di Afganistan) karya Dr. Abdullah Azzam yang mengupas konsep jihad dan kisah peperangan di Afganistan.

    Abdul Aziz?kelak lebih dikenal sebagai Imam Samudra?melumat kata demi kata itu. Ia baru berusia 16 tahun. "Aku hanya bisa membayangkan, menghayati, dan kemudian melamun," katanya. Selesai membacanya, tumbuhlah gairah Imam remaja untuk bisa berjihad di Afganistan. Sepulang ke Tanah Air, ia memegang apa yang dia artikan sebagai jihad dengan menebar bom. Bom Bali yang meledak pada 12 Ok-tober 2002 dilakukan dengan kesadaran penuh dan diakuinya sebagai simbol perang melawan AS dan Israel.

    Untuk beberapa bab, Imam mengabdikan tulisan biografi setengah hati itu dengan berbagai sejarah peperangan keterlibatan AS dianggap sebagai salah satu pendorong utama dari perbuatannya (dan kawan-kawannya). Harap diingat, karena ini adalah sebuah kisah kesaksian satu orang, maka tentu kita bukan berhadapan dengan setumpuk fakta dan investigasi, melainkan sebuah kesaksian, tekad yang bulat yang tak terbantahkan, sehingga tak ada lagi ruang untuk mempertanyakan, melemparkan keraguan, apalagi mengajak sebuah perdebatan.

    Ini adalah sebuah keyakinan yang bukan main?jika tak membuat hati gentar?dari seorang pria (lahir di Banten, 14 Januari 1971) yang dengan romantis mengisahkan masa kecilnya dengan sang kakek. Sekilas, masa kecilnya tak jauh berbeda dengan anak-anak desa pada umumnya. Dia mengenyam pendidikan Ibtidaiyah pada siang hari sepulang dari Sekolah Dasar, lalu dia melalui masa "sekuler"?demikian pengakuannya?dengan menonton televisi di rumah kawan. Pada halaman 26 buku itu, Imam mengaku "buldoser" pendidikan sekuler itu telah menggusur minat pendidikan agamanya karena dia harus ikut lomba matematika, catur, puisi, mengarang. Ketika remaja, Pelabuhan Merak menjadi tempat mangkal serta membolos dari madrasah. Tetapi Imam merasa batinnya terganggu. Dia mulai merasakan keindahan Islam serta bulan Ramadan dan satu-satunya jalan menuju kemuliaan hidup di dunia dan akhirat adalah Islam. Dia menyesali masa lalunya ketika dia bergaul dan bebas bersalaman dengan kaum putri.

    Tahun 1990 adalah awal dari penjelajahan Imam ke masjid Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Bersama Jabir, temannya (meninggal dalam peristiwa bom Antapani, Bandung) mereka berangkat ke Afganistan berbekal tabungan Rp 300 ribu.

    "Satu babak kehidupan baru yang amat membahagiakan. Musik kami adalah rentetan peluru, ledakan mortar, dentuman zigoyak dan da-scha-ka (senjata antiserangan udara). Nyanyian kami adalah nasyid-nasyid pembangkit semangat jihad. Senandung kami adalah lantunan ayat Al-Quran yang tak pernah berhenti selama 24 jam. Tiada suara wanita, tiada tangis anak kecil, apalagi musik-musik jahiliyah, panggilan setan" (halaman 46).

    Afganistan tengah musim salju. Seusai perang, Imam Samudra pulang dengan dua nama yang dianggapnya sebagai musuh utama: Amerika dan Israel.

    Setelah kata-kata ini, setelah "biografi setengah hati" ini, setelah 276 halaman, apakah pembaca kemudian berhasil memahami gelombang pemikiran Imam Samudra yang mengesahkan pengeboman di Bali, yang mematikan ratusan jiwa? Jika kita tak paham, jika Anda tak paham, itu bukan karena kita tak paham bahasa Indonesia.

    Rommy Fibri/LSC


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Bertahan dan Kecewa dengan Tradisi

Catatan Pinggir

Saman

Fotografi

Tamasya di Antara Citra dan Realitas

TEMPO|interaktif

Pacar Tara Reid Seumur Kakeknya

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ternyata Ogah Didikte

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

Nasional

Usai Grasi Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian 'BLBI'  

Nasional

Rata-rata Nilai UN SMA DKI Jakarta Kalah Jauh dari Jatim

Jumlah Perempuan Perokok di Indonesia Naik Empat Kali Lipat

Olahraga

Inter Milan Rintis Sekolah Bola di Jakarta

Nasional

Di Yogya Para Menteri Masuk Istana, Dahlan Pilih ke Pabrik Gula

Nasional

Menteri Nuh: Daripada Lady Gaga, Mending Bee Gees

Nasional

KPK Mulai Usut Duit Kongres Demokrat

Nasional

Rekor Buncit Kelulusan di NTT Akibat Jebloknya Nilai IPA

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif