• Home
  • 15 November 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 15 November 2004

    Hanya Beda Sebatas Dinding

    KEMARAU panjang yang mendera Kendari membuat Arifin Dg. Marakka pusing. Dahi pria 75 tahun ini tambah berkerut ketika seorang pembantunya melaporkan kekeringan kulah?penampungan air wudu?di masjid mereka. Padahal waktu isya hampir tiba, dan masih banyak jemaah yang belum mendapat giliran berwudu. Sudah lebih dari dua bulan, hujan sama sekali tak turun.

    Ketika itu Ramadan memasuki hari ke-15 dan ke-16, dan jamaah di masjidnya membludak. "Turunnya Lailatul Qadar dipercayai terjadi waktu-waktu ini," kata Arifin. "Semua ingin berada di tempat dan waktu yang tepat, jangan heran kalau sekarang masjid selalu penuh." Itu sebabnya urusan air ini sungguh mengganggu Arifin, yang dalam 24 tahun ini menjadi imam Masjid Da'wanita, Kelurahan Kandai, Kecamatan Kendari, Sulawesi Tenggara itu.

    Sedang khusyuk berpikir, seorang petugas masjid menghampirinya seraya berbisik, "Ibu Pendeta di sebelah mau ketemu Pak Imam." Sesaat Arifin tambah kalut. "Ada masalah apa lagi ini?" pikirnya. Seingat dia, pengurus masjid tak pernah berselisih dengan pengelola dan jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Bukit Zaitun Kendari, yang kebetulan bersebelahan dengan Da'wanita.

    Sedikit tergopoh Arifin membuka pintu belakang masjid, tempat Pendeta Pien Lumangkun sedang menanti. "Maaf, Pak Imam, apa benar Anda membutuhkan air untuk ibadah?" kata Pien tersenyum ramah. Pendeta perempuan itu segera meminta pembantunya menyalakan mesin pompa air, dan menyambungkannya dengan selang ke kulah masjid. "Silakan pakai dulu," katanya sebelum berlalu.

    Arifin tak kalah gesit. Segera ia mengerahkan para petugasnya mengambil ember besar untuk menampung air pemberian Ibu Pendeta. "Itu hanya contoh kecil," kata Arifin. Pada Idul Adha tahun lalu, pengurus Bukit Zaitun menyumbangkan seekor lembu untuk disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin dan yatim piatu.

    Tanpa menyimak kisah Arifin, potret kerukunan hidup antara dua komunitas berlatar agama beda di Kendari ini sebenarnya sudah tergambar dari letak bangunan tempat ibadah mereka yang bersebelahan, dan hanya terpisah tembok. "Sejak saya bocah, posisinya sudah begitu," kata Arifin, yang tak bisa memastikan kapan persisnya kedua rumah ibadah itu dibangun.

    Dulu itu, kata Arifin, "Masjid masih berdinding papan, dan di sebelahnya sudah ada rumah pendeta yang kerap dipakai berdoa umat Kristiani." Selama itu pula tak pernah terdengar protes dari umat kedua pihak. Pada awal 1970-an, Masjid Da'wanita mulai direnovasi. Dindingnya diganti tembok, ruang dalamnya diperluas. Tak lama berselang, Gereja Bukit Zaitun juga mulai dibangun.

    Bangunan lama, berupa rumah dengan hanya satu kamar, dirobohkan. Gantinya dibangun lebih kukuh. "Kesulitan" mulai muncul ketika kemudian kedua pihak ingin meluaskan bangunan rumah ibadahnya masing-masing. Bukannya bersikeras tentang batas tanah, keduanya malah sama-sama tak ingin saling menyinggung dan memicu perselisihan.

    "Setelah musyawarah, kami akhirnya sepakat menggunakan satu dinding sebagai pemisah antara bangunan gereja dan masjid," Arifin menjelaskan. Dicky Mokogenta, keponakan Ibu Pendeta yang sejak 1970 tinggal di paviliun samping gereja, membenarkan cerita itu. "Kami mulai berimpit dan hanya terpisah satu dinding sejak 1981," kata Dicky. Waktu itu Pendeta John San Lumangkun, suami Pien, melihat perkembangan jemaatnya tak lagi tertampung di bangunan gereja lama.

    Tak ada formula rahasia, apalagi jimat, yang dipiara kedua pemimpin umat ini untuk menjaga kerukunan di antara mereka. "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku," kata Arifin, mengutip Al-Quran. "Kita jalankan perintah agama masing-masing, tapi kalau soal kerja bakti membersihkan got, mari kita kerja sama-sama." Dicky menimpali, "Ini bukti nyata bahwa toleransi dalam kehidupan bermasyarakat antara umat Islam dan Kristiani bisa berjalan dengan baik dan rukun."

    Y. Tomi Aryanto, Dedy Kurniawan (Kendari)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Bara di Atas Nama Tuhan

Mencari Tuhan di Lapangan Voli

Hanya Beda Sebatas Dinding

Album

Album

Buku

Sebuah Dunia di Mata Autis

Catatan Pinggir

Liberalisme

TEMPO|interaktif

Metro

Rekonstruksi Pengeroyokan Geng Motor Digelar Lagi  

Nasional

Polisi Medan Ditangkap Saat Transaksi Sabu  

RCTI Cermati Aduan Live Pesta Anang-Ashanty

42 Negara Ikuti Borobudur Internasional Hash

Olahraga

Kemana Guardiola Berlabuh: Liverpool atau Chelsea?

Kim Kardashian Diduga Kecanduan Pil Valium?

Pacar Tara Reid Seumur Kakeknya

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ternyata Ogah Didikte

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

Nasional

Usai Grasi Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian 'BLBI'  

Nasional

Rata-rata Nilai UN SMA DKI Jakarta Kalah Jauh dari Jatim

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif