• Home
  • 15 November 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 15 November 2004
    Mudik

    Mengejar Tiket Impian

    Wajah Sutrisno Wibowo, 38 tahun, terlihat masygul. Warga Perumahan Bumi Anggrek, Bekasi, ini pekan lalu berburu tiket di Pusat Reservasi Tiket Kereta Api Juanda, Jakarta. Rencananya, Sutrisno akan berlebaran bersama keluarga di Jatingaleh, Semarang. Tapi semua tiket kereta api Argo Muria jurusan Jakarta-Semarang telah ludes. Sutrisno pusing tujuh keliling. Soalnya, bagi ayah dua anak ini, momen berlebaran di kampung kali ini sangat penting. "Bapak saya di kampung sudah sakit-sakitan," ujarnya.

    Sejurus kemudian, seorang lelaki perlente mendekati Sutrisno. Lelaki yang mengaku bernama Kamaludin itu menawarkan jasa baik. Kamaludin mengajak Sutrisno menjauhi keramaian. Setengah berbisik, Kamaludin mengaku bisa menyediakan empat tiket kereta api Argo Muria yang dibutuhkan Sutrisno. Ada beberapa pilihan hari dan jam keberangkatan. "Yang penting harganya cocok," ujar Kamaludin. Seperti mendapat durian runtuh, Sutrisno menyambut tawaran itu dengan sumringah.

    Tapi, kebahagiaan Sutrisno tak berumur panjang. Kamaludin hanya mau melepas tiket impian itu dengan harga Rp 500 ribu per tempat duduk. Padahal, tarif di loket resmi hanya Rp 250 ribu per tempat duduk. Tak ada tawar-menawar. Kamaludin tak beranjak dari harga yang ditawarkannya. "Ini Lebaran. Setoran buat orang dalam lebih besar," ucap Kamaludin. Karena tak punya cukup uang, Sutrisno tak bisa membeli tiket impiannya. Harapan untuk berlebaran di tanah kelahiran, bersama bapaknya yang sakit-sakitan, sirna ditelan bumi.

    Nasib nahas juga menimpa Sigit Waluyo, 29 tahun. Sigit, yang pekan lalu mencari tiket kereta api Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya, terpaksa gigit jari. Sigit mengaku terlambat mencari tiket kereta karena baru memutuskan berlebaran di rumah mertuanya di Kota Pahlawan itu. Tapi Sigit tak mendapat tiket yang dicari. "Tiket jurusan Surabaya sudah habis. Yang tersisa setelah Lebaran," ujar petugas di loket.

    Untunglah, "dewa penolong" segera datang. Seorang lelaki paruh baya menghampiri Sigit yang sedang galau. Lelaki itu menanyakan kota tujuan dan rencana tanggal keberangkatan. Dari balik jaketnya, ia menyodorkan selembar tiket untuk dua orang. Beberapa saat Sigit membolak-balik tiket untuk mengecek keasliannya. Setelah yakin itu bukan tiket bodong, Sigit terlibat tawar-menawar harga. Sigit akhirnya membayar dua tiket Argo Bromo Anggrek itu seharga Rp 950 ribu. Padahal, tarif yang tertera di tiket cuma Rp 600 ribu. "Saya tak punya pilihan," ujar Sigit, "Semua tiket pesawat juga sudah ludes."

    Menghadapi maraknya percaloan, PT Kereta Api Indonesia mengaku tak tinggal diam. Direktur Operasi PT Kereta Api Gambir, Juda Sitepu, menyatakan telah melakukan beberapa langkah untuk membatasi ruang gerak para calo tiket. Pada Lebaran kali ini, misalnya, pemesanan tiket sudah dapat dilakukan 30 hari sebelum hari keberangkatan. Petugas loket diperintahkan sedapat mungkin mencetak satu tiket untuk empat penumpang. "Sistem ini menyulitkan kerja calo," ujar Juda Sitepu. Agar lebih meyakinkan, sebuah spanduk besar digelar di Stasiun Gambir, Jakarta. Isinya: hadiah Rp 200 ribu bagi siapa saja yang berhasil menangkap calo. Bila calo yang ditangkap adalah "orang dalam", hadiahnya menjadi Rp 500 ribu. Juda Sitepu memang tak memungkiri kemungkinan keterlibatan kawan sejawatnya. Tahun lalu, kata Sitepu, PT KAI memecat dua pegawainya karena terbukti terlibat praktek percaloan tiket selama Lebaran.

    Tapi, hasil pemantauan Tempo di lapangan tak menunjukkan hasil yang menggembirakan. Memang sistem pencetakan satu tiket untuk empat penumpang mempersulit calo. Soalnya, tak semua penumpang kereta membeli empat tempat duduk. Nah, biasanya para calolah yang mencarikan teman yang memiliki tujuan yang sama. "Musim Lebaran tak sulit mencari kelompok orang yang tujuannya sama," ujar seorang calo kepada Tempo. Selain itu, ternyata tak semua tiket dicetak untuk empat penumpang.

    Yang menarik, sistem pemesanan tiket 30 hari sebelum keberangkatan justru membuat praktek percaloan tumbuh subur. Persoalannya sebenarnya sangat sederhana. Tak banyak pemudik yang sudah tahu secara pasti hari dan jam keberangkatan untuk 30 hari ke depan. Padahal, semua tiket untuk bulan depan sudah bisa dibeli. "Tiket untuk hari-hari menjelang Lebaran telah lama diborong calo," ujar Sutrisno, calon penumpang kereta api.

    Kamaludin, seorang calo yang beroperasi di Pusat Reservasi Tiket Juanda dan Stasiun Gambir, mengaku tak kesulitan saat beroperasi. Memang, gencarnya kampanye "anti-percaloan" membuat Kamaludin tak bisa beraksi terlalu terbuka. "Enggak enak dengan bapak-bapak di dalam. Kita harus menjaga wibawa mereka," ujarnya.

    Kamaludin, yang telah empat tahun berprofesi sebagai calo tiket kereta api, mengaku mendapat keuntungan lumayan. Ia mengkoordinasikan beberapa calo lain di Stasiun Gambir dan Juanda, Jakarta. Sebagai seorang pemain yang cukup disegani, Kamaludin mengaku mengeluarkan modal cukup besar. Untuk Lebaran 2004, misalnya, warga Sawah Besar ini menyiapkan modal sekitar Rp 40 juta. Selama Lebaran, Kamaludin memperkirakan dapat meraup keuntungan bersih hingga 75 persen.

    Bagaimana dengan pasokan tiket? Tak masalah. Kamaludin mengaku memiliki saudara yang bekerja di Bagian Pusat Pemesanan Tiket Kereta Api Juanda. Selain itu, ia juga memanfaatkan para pedagang asongan untuk mengantre membeli tiket. "Anak-anak yang mengantre saya beri Rp 10 ribu," ujarnya.

    Kamaludin serta calo kereta api lainnya memang memiliki lahan yang subur. Jumlah pemudik Lebaran tahun ini mencapai 17,6 juta orang, meningkat 11 persen dari Lebaran tahun lalu. Sedangkan yang akan menggunakan jasa kereta api mencapai 3,1 juta orang?tiga kali lipat dari kapasitas tempat duduk yang bisa disediakan oleh PT Kereta Api Indonesia. "Selama permintaan dan penawaran tak sebanding, akan selalu ada praktek calo," ujar Menteri Perhubungan Hatta Radjasa.

    Persaingan mendapatkan tiket yang lebih sengit sebenarnya di angkutan udara. Soalnya, moda transportasi udara mengalami lonjakan penumpang terbesar. Kondisi ini disebabkan "perang tarif" antar-maskapai penerbangan yang masih berlangsung. Pada Lebaran ini, tiket pesawat yang terjual mencapai 2,7 juta tempat duduk. Itu berarti mengalami lonjakan 35 persen. Tapi, jumlah itu masih jauh di bawah permintaan pasar yang selama H-7 sampai H+7 mencapai sekitar 5 juta tempat duduk. Walhasil, hampir semua tiket pesawat selama Lebaran telah ludes diserbu calon penumpang. Garuda, misalnya, mengaku tak memiliki sisa seat. Soal calo? Pudjobroto, Pejabat Humas Garuda, menyatakan tak terlalu khawatir. "Garuda akan mengecek kesesuaian identitas penumpang dengan nama yang tertera di tiket," kata Pudjobroto. Tapi, anehnya, Pudjobroto tak memastikan tindakan yang akan dilakukan jika terdapat perbedaan identitas calon penumpang dengan nama yang tertera di tiket. Bisa jadi, calon penumpang tetap bisa berangkat mudik.

    Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Indah Suksmaningsih, menilai praktek percaloan?baik untuk tiket kereta, pesawat, maupun kapal laut?masih menghantui para pemudik. Indah mengakui lonjakan permintaan tiket memang menjadi penyebab dasar munculnya percaloan. Tapi, Indah menilai pemerintah dan operator jasa angkutan Lebaran tak sungguh-sungguh dalam memberantas calo. Buktinya, masih kerap ditemui keterlibatan "orang dalam" yang menambah marak praktek yang membuat para pemudik merogoh kocek dalam-dalam itu. "Kalau tak ada kerja sama, tak mungkin calo berkeliaran bebas," ujar Indah Suksmaningsih.

    Menjawab tudingan YLKI, Menteri Perhubungan Hatta Radjasa mengaku tak bisa bekerja sendirian untuk memberantas calo. Peliknya persoalan?pengangguran, sistem penjualan tiket, dan mental para pegawai penyedia jasa angkutan?membuat praktek percaloan tumbuh subur. "Siapa saya ini?" ujar Hatta Radjasa, "Tak mungkin vini-vidi-vici memberantas calo tiket."

    Setiyardi


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Bara di Atas Nama Tuhan

Mencari Tuhan di Lapangan Voli

Hanya Beda Sebatas Dinding

Album

Album

Buku

Sebuah Dunia di Mata Autis

Catatan Pinggir

Liberalisme

TEMPO|interaktif

Internasional

Bercinta dalam Taksi, Wanita Inggris Dibui

Teknologi

Kiat Belanja Online Tetap Aman

Metro

Rekonstruksi Pengeroyokan Geng Motor Digelar Lagi  

Nasional

Polisi Medan Ditangkap Saat Transaksi Sabu  

RCTI Cermati Aduan Live Pesta Anang-Ashanty  

42 Negara Ikuti Borobudur Internasional Hash  

Olahraga

Kemana Guardiola Berlabuh: Liverpool atau Chelsea?

Kim Kardashian Diduga Kecanduan Pil Valium?

Pacar Tara Reid Seumur Kakeknya

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ternyata Ogah Didikte

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif