• Home
  • 22 November 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 22 November 2004

    Dari Sepotong Evolusi Polandia

    Tuhan telah menganugerahi dua mata buat sutradara, satu untuk melihat kamera, satunya lagi untuk menangkap sinyal segala peristiwa yang bertebaran di masyarakat. Andrzej Wajda beruntung memiliki keduanya. "Bapak Perfilman Modern Polandia" itu mampu membuktikan eksistensinya dengan mengarungi dunia perfilman selama separuh abad. Karena kesetiaannya, Wajda dianugerahi Lifetime Achievement Award dalam penghargaan Piala Oscar tahun 2000.

    Menikmati Wajda lewat karya filmnya bak membaca babad evolusi politik dan sosial Polandia pasca-Perang Dunia II. Sensitif, bergairah, dan penuh pergolakan. Coba tengok debut pertamanya dalam "film sekolahan" A Generation (1954). Ini film pertama dari trilogi Perang Dunia II yang terkenal, disusul Kanal (1956) dan Ashes and Diamond (1958).

    Pokolenie atau A Generation memotret pergerakan kaum buruh kota Warsawa, ibu kota Polandia, di bawah pendudukan Nazi Jerman. Stach—diperankan Tadeusz Lomnicki—tertarik kelompok pemberontak buruh tambang berhaluan kiri. Bergabung, dan akhirnya jatuh cinta pada Dorota—dimainkan Urszula Modrzynska— pemimpin kaum pemberontak. Film ini memang memberikan sejumlah konsesi pada rezim penguasa komunis Rusia di Polandia. Ada gambar yang terpaksa disensor, hanya demi memberikan gambaran lain tentang perjuangan kaum komunis mengentaskan kelompok Yahudi dari penindasan.

    Roman Polanski, aktor dan peraih Oscar untuk film The Pianist, terlibat dalam film perdana ini. "Bagi kami, ini mahadahsyat. Semua film Polandia bermula dari sini," kata Polanski. Entah karena kepincut cara kerja dan hasil karya Wajda, Polanski pun belakangan sekolah di Lodz—sekolah film kenamaan saat itu. Salah satu alumninya, ya, Wajda itu.

    Kanal—berarti terowongan atau selokan bawah tanah—dirilis pada 1956. Kali ini, dia menampilkan Tentara Tanah Air (Home Army) yang berhaluan nasionalis sebagai lakonnya. Di Polandia saat itu, ada dua kelompok pejuang: komunis dan nasionalis. Kelompok nasionalis berkolaborasi dengan aliansi demokrasi barat (sekutu) anti-Jerman, yang memimpin pergerakan dari pengasingan.

    Gambar dibuka dengan Kota Warsawa yang luluh-lantak akibat bombardir tentara Jerman. Sejumlah 43 gerilyawan terpojok di salah satu markas persembunyian. Alih-alih diperintahkan mundur saat terdesak, mereka malah diminta menyerbu pusat kota dengan melalui selokan bawah tanah. Sesampai di kanal, petualangan buruk justru baru dimulai. Mereka kesasar, terpencar, ada yang tertangkap serdadu Nazi karena salah pintu keluar, teronggok lemas akibat luka dan kelaparan, atau mati mengenaskan terkena jebakan granat.

    Kritikus film Frank Bren menyebut kisah ini layaknya tragedi Yunani di abad modern. Lara itu terus menggerus perasaan lewat film ketiga triloginya, Ashes and Diamond. Tokoh antihero Maciek—diperankan dengan apik oleh aktor Zbigniew Cybulski—ini juga harus menemui ajal setelah menembak mati sekretaris distrik Partai Komunis. Kaum komunis digambarkan suka pesta dan mabuk-mabukan. Gara-gara ini, peredarannya sempat tertunda karena dianggap subversif. Bahkan penguasa marah besar tatkala film itu diselundupkan dan diputar di festival film di Venesia.

    Serdadu, perang, pergerakan, dan kesenian sungguh begitu mengakrabi Andrzej Wajda. Lotna (1959), Samson (1961), Ashes (1965), dan Dr. Korczak (1990), semuanya bertema perang. Ada pula yang setelah perang berakhir, semisal Landscape after a Battle (1970). Meski ia menyuguhkan variasi fase kehidupan dan karakter tokoh di berbagai situasi, semua teraksentuasi pada unsur psikologi. Seolah mencibir semangat kepahlawanan dan eksistensi individu yang timbul akibat kekejaman perang.

    Setelah runtuhnya rezim komunis pada 1989, sang sutradara terpilih menjadi anggota parlemen di bawah kepemimpinan Walesa. Toh, ia tetap berkarya dengan kritis. Pada 1990 ia merilis Korczak, kisah dokter anak yang gagal mencegah pembantaian 200 anak. Simbol bungkamnya banyak tokoh saat pembunuhan massal terjadi di Warsawa.

    Wajda banyak membuat film dengan tema gerakan sosial. Tapi, sebagai pengawal evolusi Polandia dan anak negeri selama lima dekade, Wajda paham betul perubahan zaman. Film Miss Nobody (1996), yang mengkritik situasi sosial saat itu, dilansir. Ia lebih sebagai perenungan dan kritik paling dalam terhadap masyarakat materialis dan individualis. Inilah potret Polandia pasca-komunis.

    Rommy Fibri


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Teror Bom dan Jaringan Al-Qaidah di Tanah Air

Perburuan Sampai ke Afghanistan

Catatan Pinggir

Yakin

Layar

Film-Film Politik dari Glodok

Duniaku, Dunia Maya

Dari Sepotong Evolusi Polandia

TEMPO|interaktif

Internasional

Bercinta dalam Taksi, Wanita Inggris Dibui  

Teknologi

Kiat Belanja Online Tetap Aman  

Metro

Rekonstruksi Pengeroyokan Geng Motor Digelar Lagi  

Nasional

Polisi Medan Ditangkap Saat Transaksi Sabu  

RCTI Cermati Aduan Live Pesta Anang-Ashanty  

42 Negara Ikuti Borobudur Internasional Hash  

Olahraga

Kemana Guardiola Berlabuh: Liverpool atau Chelsea?

Kim Kardashian Diduga Kecanduan Pil Valium?

Pacar Tara Reid Seumur Kakeknya

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ternyata Ogah Didikte

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif