• Home
  • 29 November 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 November 2004

    Hambatan di Jalan Bebas Hambatan

    UNTUK sebuah negeri modern dengan perekonomian yang diharapkan berpacu laju, pembangunan infrastruktur berupa jalan merupakan tuntutan mutlak. Inilah kenyataan yang sudah disadari sejak zaman baheula, ketika pemerintah pada awal 1960-an membangun Jakarta By-Pass, "jalan bebas hambatan" masa silam. Di era Orde Baru, kesadaran itu menjadi lebih tajam dengan pembangunan jalan tol yang, pada awalnya, benar-benar bebas hambatan.

    Kini siapa pun tahu: jalan itu tak lagi benar-benar bebas hambatan. Sudah menjadi pemandangan sehari-hari, kendaraan angkutan umum dan angkutan produksi bisa terkatung-katung merambat di jalan yang memungut bayaran itu. Tiba-tiba, muncul berita besar: pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan membangun 1.600 kilometer jalan tol baru dalam lima tahun ke depan. Fantastis!

    Dibandingkan dengan negeri jiran, Indonesia memang ketinggalan jauh. Indonesia, yang membangun jalan tol sejak 1978, baru punya 700 kilometer. Malaysia, yang belajar dari proyek Jagorawi dan mulai membangun jalan tol pada 1989, kini sudah punya 3.000 kilometer. Cina ketinggalan dua tahun dari Malaysia, tapi kini jalan tolnya sudah terbentang sepanjang 19 ribu kilometer.

    Ditilik dari "minat" konsumen, potensi calon pemakai jalan tol di Indonesia sangatlah besar. Cuma, pengembalian investasi (payback period) pembangunan jalan tol di Indonesia selama ini terlalu lama, yaitu 12-15 tahun. Padahal, investor ingin investasinya kembali dalam 7-8 tahun. Ini berkaitan dengan tarif tol di sini yang dianggap belum menguntungkan investor. Padahal, dengan meningkatnya volume kendaraan setiap tahun, investor harus pula menanggung biaya pemeliharaan yang juga meningkat.

    Di samping menguntungkan dari aspek bisnis, pembangunan jalan tol sesungguhnya tak repot-repot amat. Apalagi sekarang, ketika pembangunan itu tak benar-benar dimulai dari nol. Kendala tentulah ada, dan yang terutama menyangkut transparansi proyek pembangunannya sendiri. Penyakit mark-up dan korupsi membuat biaya investasi, yang mestinya cuma Rp 75 miliar per kilometer, membengkak jadi tidak keruan.

    Kendala berikutnya, yang justru luar biasa penting, masalah pembebasan lahan. Di era otoriter rezim yang lampau, kendala ini bisa diatasi dengan cara-cara represif, yang tentu tak laku dijual di masa "perubahan" ini. Bukan rahasia pula, dalam urusan pembebasan lahan ini berkembang subur praktek makelar dan centeng-centengan, yang membuat harga tanah melambung tinggi padahal pemiliknya tak menikmati harga yang tinggi itu.

    Semua kendala ini membuat investasi di jalan tol jadi mahal. Biaya pembangunan akan jadi masalah. Pemerintah terdengar menyiapkan lima jalur pembiayaan, yaitu penerbitan obligasi, kredit perbankan, pinjaman lunak dari luar negeri, investasi swasta, dan pendanaan dari pemerintah. Melihat seretnya kemampuan keuangan pemerintah dan swasta lokal, investasi asing adalah pilihan yang paling masuk akal. Nah, muncullah problem laten: investor asing meminta jaminan dari pemerintah untuk berjaga-jaga bila proyek macet.

    Menteri Koordinator Perekonomian sudah mengisyaratkan penerbitan comfort letter, yang menjamin pemerintah tak akan menghentikan proyek kendati terjadi krisis keuangan. Jika surat itu beres, investor tak akan ragu. Dengan begitu, dalam dua atau selambat-lambatnya tiga tahun, tambahan 1.600 kilometer tol itu bisa rampung, jika tak ada kendala lain. Sebab, untuk menyelesaikan satu ruas jalan tol diperkirakan perlu waktu dua tahun.

    "Mimpi" ini bisa dicapai jika landasan pekerjaan besar itu disiapkan lebih dini. Pertama-tama tentulah transparansi dalam sistem tender sampai pada tingkat operasional dan kendali mutu. Untuk masalah yang begini kompleks, seyogianya pemerintah bersama DPR memikirkan dan merumuskan undang-undang jalan tol yang komprehensif hingga meliputi, misalnya, harga tanah yang pantas untuk pembangunan jalan tol bagi kemaslahatan bersama itu.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Dr. Thoralf Hanstein:

"Ambil Hukum Islam yang Hidup di Indonesia"

Album

Album

Buku

Kebaya vs Negara

Catatan Pinggir

Kejadian

Seni Rupa

Timur yang Gaib dan Sakral

TEMPO|interaktif

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif