Barat tak lagi berposisi sebagai satu-satunya kiblat bagi teater masa kini. Teater Timur yang hadir sebagai pengalaman spiritual juga memiliki sejarah dan masa depannya sendiri. Kedua pilar teater itu sedang berinteraksi dengan mesra, tetapi sesungguhnya juga panas. Multikultural menjadi isu besar dalam dunia pertunjukanmelahirkan kolaborasi di mana-mana. Dapatkah kedua belah pihak sama-sama menjadi pemenang? Membawa serta pertanyaan itu, Putu Wijaya berangkat ke Beograd beberapa waktu lalu. Di sana, budayawan ini menyutradarai pertunjukan yang didukung pemain setempat untuk membuka Festival Teater Beograd 2004. Dan Putu menemukan: kolaborasi selalu dibarengi rasa pedih karena itu sesungguhnya tak kurang dari meditasi. Berikut ini, laporannya:
Proses berteater menolong menembus batas negara, mengenal mereka sebagai manusia. Mereka orang-orang Serbia yang tersekap dan kini menghirup udara bebas.