• Home
  • 06 Desember 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 06 Desember 2004

    Setelah Tragedi Lion Air

    Memang sulit menentukan penyebab kecelakaan pesawat udara. Apalagi kecelakaan pada saat pendaratan. Ada banyak orang yang terlibat ketika pesawat mendarat. Ada pengawas menara kontrol di darat yang memberitahukan segala hal tentang kondisi landasan. Ada pilot yang bertanggung jawab sepenuhnya dan menentukan apakah pesawat akan didaratkan atau tidak. Lebih rumit lagi mengusut penyebab kecelakaan itu jika pilot ikut menjadi korban. Semuanya itu membutuhkan waktu. Dan itulah yang dialami pesawat Lion Air yang terperosok di Bandara Adi Soemarmo Solo, yang menewaskan 26 orang, termasuk pilot dan seorang pramugari.

    Untunglah, kotak hitam yang merekam segala hal teknis?termasuk rekaman percakapan pilot dengan pengawas menara kontrol?sudah ditemukan. Begitu pula kopilot yang berkebangsaan Belanda tidak ikut tewas, meski harus menunggu kesembuhan untuk bisa dimintai keterangan. Nantinya, kalau pemeriksaan sudah menyentuh kotak hitam dan kopilot, akan menjadi jelas apa penyebab kecelakaan Lion Air ini, apakah faktor pesawatnya ataukah hal-hal lain di luar pesawat. Di luar pesawat ada banyak faktor pula, apakah kesalahan pilot (human error) atau masalah bandara dengan segala perlengkapannya yang tidak mendukung pada saat cuaca buruk.

    Lion Air yang terperosok di Solo ini sebuah pesawat tua buatan tahun 1982, dan orang lantas menghubung-hubungkan dengan layak tidaknya terbang. Namun hasil keterangan sementara menyebutkan pesawat itu dinyatakan laik terbang. Semua instrumen dalam pesawat tidak ada masalah. Hasil penyidikan sementara tidak menunjukkan ada "kesalahan" pada pesawat, bahkan semua alat pengaman di dalam pesawat tersedia sesuai dengan standar dan bekerja sebagaimana mestinya. Ban yang semula diduga gundul sehingga menyebabkan pesawat tergelincir juga tidak benar adanya.

    Karena itu dugaan sementara penyebab kecelakaan Lion Air ada di luar faktor pesawat. Misalnya, diduga pilot mendaratkan pesawat tidak di ujung landasan, melainkan terlalu ke tengah. Sehingga, panjang landasan yang tersisa tidak mencukupi untuk menghentikan pesawat dengan aman.

    Jika hal ini benar, kenapa bisa begitu? Apakah cuaca demikian buruknya sehingga jarak pandang pilot terbatas dan ia tidak tahu bahwa pendaratannya terlalu ke tengah? Atau ada "angin belakang" yang mendorong pesawat sehingga mendarat agak di tengah landasan? Semuanya sedang dikaji.

    Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah meminta agar Departemen Perhubungan melakukan audit terhadap semua bandara yang ada di Indonesia. Ini juga langkah yang bagus, karena banyak bandara yang sesungguhnya bermasalah pada saat musim hujan. Bukan hanya jarak pandang jadi pendek yang disebabkan oleh hujan lebat itu, tetapi landasan di bawah tergenang air. Bandara Adi Soemarmo masih tergolong baik, genangan air hanya 2 sampai 5 milimeter pada saat Lion Air mendarat. Bandara Ahmad Yani Semarang sering terendam air lebih tinggi jika hujan datang. Ini membuktikan bahwa sistem aliran air hujan dari landasan ke tanggul pinggir landasan tidak sempurna.

    Saatnya pemerintah membenahi masalah perhubungan udara ini, mengingat luasnya wilayah Indonesia. Apalagi, sebagai negara kepulauan, pembenahan sarana hubungan udara makin mendesak untuk memperpendek waktu tempuh dan tentunya tetap aman dalam berbagai cuaca.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Hukum Suap yang Membuat Cemas

Dari DNA sampai JIL

Album

Album

Buku

Ruang yang Semakin Sempit

Catatan Pinggir

Van Gogh

Layar

Kegilaan Keenam Jiffest

Impian-Impian Musim Kemarau

Visualisasi Sebait Puisi

Televisi

Mutiara di Pinggir Selokan

TEMPO|interaktif

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif