• Home
  • 20 Desember 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
  • Selingan
    • Perjalanan
    • Layar
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 Desember 2004
    Bom Palu

    Sebuah Pesan dari Palu

    Tubuh Mabinti Jaya, 61 tahun, langsung tersungkur. Darah mengucur deras dari kepala, bahu, dan tangannya. Ledakan bom, Minggu dua pekan lalu itu, telah membuat petugas satuan keamanan Gereja Jemaat Imanuel Lolu, Palu, Sulawesi Tengah, itu tak mampu berkutik.

    Suasana khidmat yang terjadi di dalam gereja pada pukul 19.00 WITA itu tiba-tiba saja pecah. Para jemaat yang tekun menyimak khotbah Pendeta Erna Lagarince kocar-kacir. Khotbah yang dikumandangkan pendeta tak lagi mereka hiraukan. Ledakan bom berkekuatan rendah itu membuat ritual keagamaan umat nasrani menjadi gaduh.

    Cukup? Ternyata tidak. Sekitar 1 kilometer dari lokasi itu, rentetan tembakan membuat jemaat Gereja Anugerah Masomba kocar-kacir. Desingan peluru membuat dua jemaat yang berada paling belakang terkapar. Beberapa selongsong peluru berkaliber 5,56 mm terlihat berceceran.

    Polisi kecolongan, jelas. Kepala Polda Sulawesi Tengah, Brigjen Aryanto Sutadi, mengakuinya. Katanya, "Ini adalah kasus kedua setelah peristiwa penembakan Pendeta Susianti Tinulele, Juli lalu."

    Aryanto juga tampak geram. Sebab, saat itu tak ada penjagaan sama sekali dari polisi. Beberapa saat kemudian, ia pun mencopot Kepala Kepolisian Resor Kota Palu Ajun Komisaris Besar Noman Siswandi dan Kepala Kepolisian Sektor Kota Palu Selatan, Ajun Komisaris Sumantri Sudirman, dari jabatan masing-masing. Keduanya dinilai lalai dan tidak mematuhi perintah atasan. "Ini perintah langsung dari Kapolri," katanya.

    Siapa pelaku sebenarnya? Kepada Tempo, Mabinti yang pensiunan TNI AD itu menuturkan, saat itu ia melihat dua orang mengendarai motor Yamaha FIZ-R baru. Perawakannya tinggi kekar, memakai jaket serta topi. "Yang melempar bom pakai jaket krem. Satunya lagi berjaga-jaga di motor memakai jaket biru tua dengan celana warna gelap," katanya.

    Ketika itu, kata dia, kedua pelaku berada di seberang jalan depan Gereja Imanuel itu. Dia sempat melihat pelaku membakar sumbu lalu melemparkannya ke arah gereja. Ketika salah seorang itu ditegur, pelaku malah melepas tembakan yang mengenai kaki kanannya. Tembakan kedua mengenai tangan kirinya. Mereka pun langsung lari.

    Keterangan lebih jelas diberikan oleh seorang saksi kepada juru gambar wajah yang dikirim Mabes Polri ke Palu. Menurut salah seorang juru gambar yang tak mau disebut namanya itu, berkat keterangan seorang saksi itu kini polisi sudah bisa mereka-reka pelaku. Sang pembuat sketsa bercerita, sketsa itu dibuat berdasarkan penuturan seorang saksi yang berasal dari kawasan Kawatuna, sebelah barat Bandara Mutiara, Palu, kira-kira 10 kilometer dari Gereja Imanuel. Katanya, saksi itu mengaku pernah ditawari oleh seorang pengendara mobil Kijang GLX biru, beberapa jam sebelum peledakan itu.

    Saat itu, menurut juru gambar yang ditemui Tempo di Polda Sulawesi Tengah, Kamis pekan lalu, saksi yang sudah berumur sekitar 60 tahunan itu tidak sengaja menyetop sebuah mobil Kijang yang melintas di daerahnya. Mobil yang berisi tiga orang itu pun berhenti dan mengangkutnya menuju Palu. Dalam perjalanan itu, saksi mengaku ditawari uang Rp 10 juta. "Syaratnya, Bapak mau meledakkan bom ini," kata salah seorang dalam mobil itu. Dengan muka pucat dan badan gemetaran, ia langsung minta turun.

    Dari sketsa yang sempat dilihat Tempo, terlihat pelaku itu berambut pelontos, leher besar, muka bulat telur. "Dugaan kuat, pelakunya dari kelompok Pian (Sofyan Jumpai) yang ditangkap di Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una," ujar Aryanto. Pian, 28 tahun, pada Agustus lalu ditangkap Polda Sulawesi Tengah karena melakukan penembakan terhadap Jaksa Ferry Silalahi pada akhir Mei lalu. Polda Sulawesi Tengah kala itu mencurigai kelompok ini terkait dengan konflik Poso.

    Namun Aryanto belum mau memastikan apakah pelaku adalah orang yang terlibat dalam konflik Poso atau tidak. Ia juga menduga kasus ini merupakan bentuk pengalihan perhatian. Sebab, saat ini Polda Sulawesi Tengah sedang menangani kasus-kasus penyelewengan dana pengungsi Poso senilai Rp 1,6 miliar dari total bantuan Rp 2,1 miliar. Begitu juga Mabes Polri belum menuduh siapa-siapa. Kepala Humas Polri, Irjen (Pol.) Paiman, menuturkan pihaknya belum bisa memastikan siapa dan dari mana asal kelompok pelaku. Jadi? "Ini yang kita bingung," katanya. Yang jelas, menurut Paiman, bom Palu ini bisa jadi berhubungan dengan Natal, sebagai upaya untuk memancing keadaan sekaligus memancing umat Kristen marah.

    Para petinggi agama langsung melakukan pertemuan di Jakarta. Isinya, mereka sepakat bom Palu ini bukan masalah agama tapi murni kekerasan. "Ini tindak kekerasan melawan hukum," ujar Syafi'i Ma'arif, Ketua Umum PP Muhammadiyah.

    Ujian berat bagi Polri. Kalau pelakunya tak segera ditangkap, hantu bom akan terus gentayangan di Palu.

    Fajar W.H., Darlis Muhammad (Palu), Dian Yuliastuti (Semarang)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dunia Lewis, Dunia Perkelahian

Catatan Pinggir

Jasih

Layar

Sang Raja Dunia, Bernama Alexander

Bukan Resep Coca-Cola

Alexander Sang Legenda

Tari

Tujuh dalam Didik

TEMPO|interaktif

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif