PAGI datang tanpa isyarat di Banda Aceh. Juga bagi Sudirman Mansyur, lelaki muda yang berjalan girang menuju lapangan Blang Padang untuk meliput lomba maraton 10 kilometer, Ahad 26 Desember lalu.
Sudirman, wartawan lokal itu, menggenggam notes dan pena. Ia bergabung dengan panitia lomba lari yang memperebutkan piala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Di tanah seluas dua kali lapangan sepak bola itu berkumpul sekitar 100 warga Banda Aceh yang senam, jalan-jalan, atau sekadar mencari jajanan pagi pengganjal perut.
Matahari di atas kota berusia tujuh abad itu tinggi dan hangat. Tak jauh terdapat replika pesawat Seulawah RI 001?yang disumbangkan para saudagar Aceh kepada Republik Indonesia yang muda?mengacung, menantang langit.
Seratusan pelari yang menggunakan baju dan celana training bertebaran di sepanjang kota. Jam menunjukkan 07.59 WIB ketika peristiwa itu datang. Bumi bergemeretak. Mansyur mengira kiamat tiba. Sekitar 15 peserta lomba sudah mencapai garis finish saat gempa mendera.
Wartawan muda itu tiarap. Terpana ia menyaksikan Hotel Kuala Tripa, hotel terbesar di Banda Aceh, runtuh bagaikan menara kertas. Sesaat kemudian gempa berhenti. Tapi horor masih berlanjut. Orang-orang berlarian dari arah Pantai Ulee Lheu sambil berteriak, "Air! Air! Lari!"
Sudirman hengkang bersama ratusan orang yang panik. Tapi terlambat. Humbalang air berwarna cokelat kehitaman itu melibas tubuhnya. Sekenanya ia meraup tumpukan kayu mengambang. Ia terseret dan baru berhenti ketika kayu itu menumbuk pokok asam beberapa ratus meter kemudian.
Ia memanjat bersama empat orang lainnya, termasuk wanita dan anak-anak. Air terus meninggi. Lelaki itu menunggu dan baru lega ketika mendengar raung ambulans. "Artinya masih ada jalanan yang bisa dilalui kendaraan," ujarnya. Satu jam di atas pohon, Sudirman turun ketika air tinggal selutut.
PAGI yang sama, Aini Agustina baru saja menikmati hari liburnya sebagai guru Taman Kanak-Kanak Aisyah, Banda Aceh. Ahad 07.00 WIB, ia menengok latihan senam ibu-ibu di lapangan Blang Padang. "Ramai sekali di sana," katanya.
Sekitar setengah jam kemudian, ia pulang ke rumah mencari keempat anak perempuannya. Tetapi, ketika baru sampai di belakang kompleks perguruan tinggi Muhammadiyah di Jalan K.H. Ahmad Dahlan, bumi gonjang-ganjing. "Saya pikir karena saya tidak sarapan, badan terasa goyang," tuturnya.
Lalu sebuah bangunan yang belum diplester di dekatnya runtuh. Ketika itu ia telah bersua dengan dua anaknya. Lalu orang-orang berteriak, "Air! Air!" Buih menggunung. "Suaranya seperti gemuruh pesawat terbang," kata Aini.
Ia menggandeng kedua anaknya, usia delapan bulan dan lima tahun. Tapi derasnya air melepas pegangan. Kedua anak itu hanyut tak tentu. Aini dibawa arus hingga tersangkut di bangunan SMA Negeri 1, beberapa ratus meter dari rumah.
DI Hotel Kuala Tripa, pramugara pesawat Garuda, Santoso Adi Purnomo, baru saja selesai sarapan dan berniat kembali ke ranjangnya di kamar 405, Ahad pagi itu. Tapi Haris Hadian, rekan sejawatnya di kamar yang sama, memperlihatkan gelagat aneh. Wajahnya tegang.
"Gempa! Gempa!" Haris berteriak sedetik kemudian. Santoso berusaha tenang. Ia punya pengalaman dengan gempa semasa bertugas di Jepang. Tapi ia mengira ini hanya gempa biasa, hingga beberapa detik kemudian guncangan berikutnya datang lebih keras lagi.
Seketika ia lari mengikuti semua tamu lain yang panik berhamburan dan berteriak-teriak. "Hotel bergoyang keras," kata Santoso. Seorang tamu urung menggunakan lift karena pengangkut itu keburu ambrol lepas dari pengaitnya. Bumm..., lift jatuh berantakan.
Hanya dengan pakaian di badan, sebagian lainnya bahkan berbalut handuk, para tamu berhamburan keluar. Seorang polisi masuk memberi pengumuman ketika getaran berikutnya datang. Kali ini lantai di atas lobi runtuh dengan gelegar yang membuat semua orang mengkerut. Hotel besar itu miring seperti Menara Pisa.
Di luar, kekacauan terjadi. Dari arah Jalan Abdullah Ujong Rimba di depan hotel, puluhan mobil dan motor tiba-tiba saling bertabrakan karena memutar balik dengan mendadak. Menit-menit berikutnya air menggulung. Melumat. Melibas. Santoso selamat setelah memanjat gedung Departemen Agama, tak jauh dari Kuala Tripa.
ABDULLAH lain lagi. Bekas anggota DPRD Kota Banda Aceh itu ditemukan tewas mengambang di garasi rumahnya di Lampulo, Banda Aceh. "Jika bukan di rumah, mungkin kami tak mengenalinya lagi," kata Nurmayani, kemenakan Abdullah. Ketika ditemukan, jenazah Abdullah sudah gembung.
Sebelum tewas, dia sempat menyelamatkan istrinya, Samsidar, dan dua anak mereka. Meri Abdullah, putri mereka yang lain, diperkirakan tewas. Diduga, Meri, yang masih tinggal bersama Abdullah, tewas bersama kedua anak dan suaminya, Imran. "Tak tahu kami mau mencari ke mana lagi. Saya selalu mencoba mencari tahu dengan memperhatikan jenazah yang hanyut di dalam sungai, tetapi susah mengenalinya," kata Nurmayani.
BADAI tsunami akibat gempa 9 skala Magnitudo itu menghabiskan apa saja. Banda Aceh, Meulaboh, Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, dan kawasan pantai lain di ujung Sumatera itu rata dengan tanah. Ibu kota Banda Aceh menjadi kota yang batal.
Kota tua yang malang: sampah bertumpuk di sekujur kota. Kapal motor besar Java Ikan Terbang nyangsang di halaman Hotel Medan di pusat keramaian. Tak jauh dari sana dua mobil bertindihan di tengah berton-ton tumpukan sampah kayu. Mesin cetak milik Serambi Indonesia terlempar satu kilometer dari kantor harian itu di Jalan Krueng Raya.
Mayat menyemut. Di trotoar, sungai, dan gorong-gorong. Di gang dan lorong yang dulu dijadikan tempat bermain anak-anak. Di atas pohon, di atap-atap. Semua bengkak. Menghitam. Berair. Lendir.
Meulaboh, kota pesisir yang paling dekat dengan pusat gempa, musnah tak berbekas. Hanya sepuluh persen bangunan yang tinggal. Sisanya cuma tembok-tembok setinggi pinggang di atas rawa-rawa becek. Dari udara, kawasan itu hanya lapangan terbuka. Kawasan yang kehilangan punuknya. Kota menjadi fosil. Cuaca dekil.
Sejarah mencatat, tsunami yang menghantam Aceh dan sejumlah negara di tepi Laut Hindia ini merupakan yang terburuk dalam 40 tahun terakhir. Palang Merah Internasional menduga 100 ribu orang tewas di Indonesia?80 persen di antaranya di Banda Aceh. Di seluruh dunia, lebih dari 125 ribu jiwa melayang (lihat infografik).
Diduga, korban akan bertambah jika relawan bisa menjangkau kawasan pesisir, terutama di Aceh Besar dan Aceh Barat Daya. Menurut Sekretaris Jenderal Pawang Laot Aceh, Said Abdullah, korban terbesar adalah nelayan. Ia menaksir lebih dari 50 ribu nelayan Aceh dan keluarganya tewas dalam bencana itu. Di kawasan Banda Aceh para nelayan bermukim di Krueng Raya, Alue Naga, Ulee Lheu, dan Lhoknga.
Di Banda Aceh, penjara dan markas militer ikut remuk. Para napi, entahlah, melarikan diri atau dijemput maut. Tentara ikut tewas, gudang senjata milik Brigade Mobil di Jeulingke jebol. Akibatnya, banyak alat peledak seperti granat dan amunisi tercecer di jalan. "Satu granat meledak sendiri di Jeulingke," ujar Ismail, mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Syah Kuala.
Kecuali para relawan yang datang ke Aceh, tak banyak yang peduli dengan mayat yang bergeletakan. Warga lokal?didera letih dan lapar mengetam?sudah kehabisan tenaga. Mereka hanya menutupi jenazah seadanya untuk kemudian melenggang mencari kerabat yang hilang.
Di Jalan Teuku Nyak Arief, seorang lelaki setengah baya menyeret koper di siang terik pada hari ketiga bencana gempa itu. Ia memeriksa semua mayat yang dilaluinya. Ia tak banyak bicara. Matanya kosong. "Anak saya belum ketemu," katanya lirih, berulang-ulang.
Di depan sesosok mayat bocah, ia berhenti. Kanak lima tahunan itu sudah kaku. Si lelaki menunduk, membungkus jasad itu dengan kain, lalu mendekapnya. Di sepanjang trotoar ia kembali lalu-lalang sambil menggendong si bocah dan menyeret koper. Tak jelas hendak ke mana.
Anakku sayang si cindur mata
Tidur bersama rama-rama
Di kawasan Lambaro, tempat mayat dikumpulkan, sekitar 2.300 jenazah ditumpuk dan dijejerkan di pinggir jalan. Sebagian tertutup tenda-tenda darurat dari plastik, sebagian lainnya meluber keluar karena kelewat sesak. Para relawan mengenakan masker memasukkan beberapa mayat ke kantong jenazah.
Di pojok, di sisi jalan, jasad perempuan muda tergeletak. Rambutnya hitam, wajahnya sudah tak bisa dikenali. Seperti tubuh lainnya, ia juga telah bengkak berair.
Lalu, tak jauh dari sisinya, sesosok bayi mungil meringkuk. Dari dekat, tampaklah?ya Tuhan?sekerat usus menjuntai dari pangkal dua kaki wanita itu, menghubungkan pusar si mungil dengan rahim ibunya.
JENAZAH adalah problem utama Aceh pasca-tsunami. Sejauh ini baru sekitar lima persen mayat yang di-evakuasi dari dalam kota ke pos penampungan mayat di Lambaro.
"Kami kekurangan tenaga," kata seorang petugas Palang Merah. Padahal, kondisi mayat sudah sangat buruk: busuk dan meruapkan bau menusuk. Sampai Kamis lalu, daerah Ulee Lheu sama sekali belum tersentuh. Juga di sepanjang jalan protokol Teuku Nyak Arief, Jeulingke, Peurada, dan Darussalam. Selain pula di kawasan Ulee Lheu, Krueng Raya, dan Lhoknga.
Evakuasi di hari pertama, misalnya, hanya dilaksanakan oleh sekitar 300 relawan mahasiswa. Itu pun dengan kemampuan minimal. Ada pula pengusaha lokal yang menyumbang alat berat seperti buldoser dan deko untuk membersihkan jalan. "Saya baru mampu mengerahkan 15 buldoser," ujar Iskandar A.S., pedagang yang menggerakkan rekan-rekannya meminjamkan alat berat. "Sebagian alat tidak bisa dipakai karena tidak ada yang mengoperasikan."
Para pengangkut mayat kewalahan. "Kami prioritaskan mayat yang di tengah kota," ujar Ismail. "Masyarakat masih bingung. Mereka tak bisa diajak menangani mayat-mayat itu."
Dokter-dokter yang diterbangkan dari Jakarta banyak yang tidak bisa bekerja akibat tak adanya peralatan dan minimnya obat dan fasilitas rumah sakit lainnya. "Tolong kalau ada yang mengambil obat segera dicatat, ya," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, dr Marzuki, kepada salah seorang bawahannya di posko kesehatan di kawasan Kampong Ateuk Munjeng.
Wajah dokter itu pucat litak. Klinik Permata Hati miliknya kini rata dengan tanah. Sebanyak 23 pekerja di klinik serta beberapa pasien yang sedang dirawat hilang tergulung ombak. Lima anak Marzuki raib. Beruntung istrinya terhindar dari bala karena sedang berobat ke Malaysia.
Bantuan tenaga dan bahan makanan bukan tak ada. Tapi penyalurannya yang belum sempurna. Bahan makanan menumpuk di Bandar Udara Polonia, Medan (lihat, Setelah Peta-peta Hanyut). Tak semua pesawat bisa mendarat di lapangan terbang itu karena keterbatasan luas landasan.
Belum lagi ancaman bencana susulan yang menghantui warga. Ancaman semacam ini bukan igauan. Di Lisbon, 1755, setelah diguncang gempa 9 skala Richter dan tiga empasan tsunami setinggi enam meter yang membunuh sepertiga penduduk, kota itu masih diganggu guncangan susulan sebanyak 500 kali antara November 1755 dan Agustus 1756.
Itu sebabnya trauma meruap di sekujur Aceh. Penduduk yang selamat mengaku sulit tidur karena diganggu mimpi buruk. Tempo, yang menemui warga yang selamat di jalan-jalan, menemukan orang-orang dengan mental yang labil. Teriakan "Awas! Air! Air!" bisa membuat mereka kalang-kabut menyelamatkan diri. Waswas menjelma menjadi desas-desus.
GEMPA besar ini bukan tidak bisa diprediksi. Adalah peneliti Departemen Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Danny Hilman Natawidjaja, yang termasuk getol mengkampanyekan bahaya gempa bumi besar yang mengancam dari balik kepulauan kecil di barat Sumatera. Dari satu seminar ke seminar lain, bersama peneliti tsunami Institut Teknologi Bandung, Dr Hamzah Latief, Danny rajin mengingatkan ancaman bahaya gempa besar dan tsunami yang mengancam dari pesisir barat Sumatera.
Tapi ia tak mengira pusat gempa akan berada di Simeulue, pulau kecil di dekat Nias. Sebelumnya dia menduga gempa akan terjadi di dekat Mentawai. Kawasan Simeulue memang belum mereka periksa. Penelitian LIPI belum mencapai wilayah itu, terhambat status darurat militer (lihat, Meramal Gelombang, Menggantang Ancaman).
Tapi terlambat memang selalu berarti nasib buruk. Kini yang tersisa adalah ribuan tubuh yang menghitam, bau bangkai, dan ibu kota yang menjadi tong sampah raksasa.
Wahid, 10 tahun, terselip di antara hiruk-pikuk itu. Ia kehilangan orang tua dan empat saudara kandungnya. Tubuhnya dekil, matanya kosong. Ia sebatang kara. "Hana lon tuho jak le (saya tak tahu mau ke mana lagi)," katanya.
Ia tak menangis. Ia tak lagi bisa menangis.
Arif Zulkifli, Nezar Patria, Nurlis E. Meuko, Edy Can, Yuswardi A. Suud (Banda Aceh), Tomy Aryanto (Jakarta)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
