• Home
  • 03 Januari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 03 Januari 2005

    Dua yang Terseret Global

    BANK Global dibekukan. Dana dua badan usaha milik negara (BUMN) ikut tersangkut di dalamnya. Yang segera bisa disimpulkan dari dua kejadian itu: kebijakan investasi dan penyertaan modal dua BUMN itu perlu cepat-cepat dibenahi.Saran ini diajukan karena dua BUMN tadi?PT Jamsostek dan PT Pertamina Saving & Investment?sama-sama mengelola uang yang dikumpulkan dari hasil keringat karyawan, buruh, pekerja, juga para manol. Dari uang yang disisihkan setiap bulan itulah para buruh berharap ada dana jaminan di masa pensiun?yang jumlahnya mungkin tidak memadai bagi mereka yang tergolong buruh kasar atau pekerja yang mengandalkan otot. Tugas perusahaan seperti PT Jamsosteklah untuk membuat uang pensiun para buruh, terutama buruh kasar dan pekerja rendahan, mencukupi untuk hidup layak di masa tua mereka.

    Maka, pengelolaan dana buruh itu mutlak perlu dilakukan dengan berhati-hati. Menginvestasikan dana dalam bentuk surat berharga atau obligasi perusahaan tidak bisa hanya didasarkan pada bunga tinggi yang ditawarkan. Kredibilitas perusahaan harus jadi acuan pertama. Acuan selanjutnya adalah rating dari obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik swasta maupun perusahaan milik negara.

    Dalam kasus Bank Global, seharusnya direksi dua BUMN itu lebih waspada. Bank Global bukan bank besar apabila ditilik dari sisi aset. Bank itu pun memberikan penawaran bunga yang terlalu tinggi, sekitar dua kali lipat dari bunga Sertifikat Bank Indonesia yang 7 persen. Dalam hal ini saja, seharusnya ?bencana? sudah bisa tercium. Lebih-lebih lagi, beberapa saat sebelum dibekukan, seharusnya ?sepak terjang? bank itu di pasar uang dengan mencari pinjaman untuk menutup kekurangan modalnya sudah bisa dideteksi para pengelola investasi dua BUMN tadi. Hasil deteksi itu mestinya bisa dipakai untuk menyelamatkan investasi mereka di Bank Global?jumlah dana PT Jamsostek Rp 100 miliar dan milik PSI sebesar Rp 85 miliar.

    Tentu diharapkan dana milik buruh ini bisa kembali ke tangan dua BUMN itu. Bank Indonesia memang akan menjamin deposito yang disimpan di Bank Global. Namun, dalam kasus ini ternyata ada dana yang dipakai membeli obligasi subordinasi, instrumen yang tidak termasuk dalam program penjaminan BI. Kalau BI bertahan dengan ketentuan ini, dan aset Bank Global tidak mencukupi untuk membayar obligasi subordinasi, maka ?lenyaplah? dana investasi dua BUMN itu.

    Mungkin jumlah yang ?lenyap? itu bisa saja dianggap sebagai ?kerugian usaha?. Mungkin dianggap jumlahnya terlalu kecil dibandingkan dana yang diinvestasikan PT Jamsostek sebesar Rp 24 triliun pada 2003, tapi soalnya bukan sekadar statistik. Soalnya adalah pertanggungjawaban investasi oleh direksi dua BUMN itu. Seharusnya lembaga pengelola uang pensiun itu melakukan investasi dengan membeli obligasi bank-bank BUMN yang mapan atau proyek lain yang benar-benar aman.

    Maka, langkah Kementerian BUMN untuk meminta audit khusus atas dua BUMN itu sudah tepat. Hasil audit akan menjelaskan banyak hal, yang terutama: sudahkah penempatan dana di Bank Global dilakukan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dan tidak dilakukan dengan memanfaatkan ?kekuasaan?, seperti yang dikhawatirkan Menteri BUMN Sugiharto. Tentu sejumlah tindakan dan langkah pengamanan perlu dilakukan setelah audit khusus ini jelas hasilnya.

    Mungkin juga hasil audit itu nanti akan menentukan hal yang lebih penting, misalnya sudahkah tiba waktunya dua BUMN itu direstrukturisasi, atau malah sekalian diswastakan saja.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Hannah Arendt di Mata Oneng

Catatan Pinggir

Tsunami

Seni Rupa

Mikropolitik Sang Bunglon

TEMPO|interaktif

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif