• Home
  • 03 Januari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip

Selingan

  • Aceh tanpa Gelimang Gas


    Nanggroe Aceh Darussalam binasa dalam sekejap setelah gempa bumi dan gelombang tsunami menggilasnya pada pekan lalu. Ribuan nyawa melayang, kehidupan melorot ke titik nadir. Padahal, selama tiga dasawarsa provinsi ini pernah berjaya berkat kemakmuran yang dialirkan oleh gas alam Aceh yang masyhur. Sekitar 17,1 triliun kaki kubik gas alam yang dulu tersimpan di perut bumi Aceh telah menegakkan berbagai industri di wilayah tersebut. Tanah Aceh bagai besi berani bagi ribuan pencari kerja. Namun, cadangan gas alam itu kian pupus, membuat napas pabrik-pabrik tersendat. Kota-kota gas yang pernah riuh dan bercahaya kini redup, mati, dan miskin. Selama dua pekan, wartawan Tempo Ali Anwar merekam kehidupan di pesisir utara Aceh yang tak lagi bergelimang gas--dan kini tengah diterpa kehancuran. Berikut ini laporannya:
  • Ke Atas Tampak Lutut, ke Bawah Tampak Pusar


    Napas industri gas, kertas, dan pupuk kian tersengal. Ribuan karyawan kehilangan pekerjaan, ribuan lainnya di ambang pengangguran.
  • Mereka Kembali ke Habitatnya


    Kompleks perumahan bertaraf internasional itu mulai dikunjungi satwa liar. Mencari kobra Australia dan New Zealand.
  • Tak Berakhir Bersama Gas


    Ketika industri raksasa mulai redup, masih ada solusi untuk bertahan hidup. Putra-putri Aceh itu kini membatik.
cover

Album

Album

Buku

Hannah Arendt di Mata Oneng

Catatan Pinggir

Tsunami

Seni Rupa

Mikropolitik Sang Bunglon

TEMPO|interaktif

Nasional

Rachland: Klaim Ruhut-Sutan Obrolan Warung Kopi

Inforial

Megawati Beri Apresiasi Peringatan 1 Juni  

MPR RI

Inforial

Kongres dan Pemerintah AS Menolak Kemerdekaan Papua

DPR RI

Inforial

JCG Management Competency Assessment

JAKARTA CONSULTING GROUP

Inforial

Memperkenalkan Jajaran Manajemen Baru

Telkomsel

Inforial

Sambut Liburan dengan Fasilitas Menarik

Aston Marina Jakarta

Inforial

Kepedulian Tim Hijau di Balekambang

Best Western Premier Hotel Solo

Inforial

Serunya Memasak dan Menembak

Aston Primera Pasteur

Inforial

Kumpul Bersama Peduli Kanker

Hotel grandkemang Jakarta

Teknologi

Pelaku E-commerce Berharap Transaksi PayPal  

Teknologi

Alat Ini Memungkinkan Injeksi tanpa Jarum Suntik  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif