• Home
  • 10 Januari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 10 Januari 2005

    Indonesiana

    Kisah Slamet Raharjo dari Sleman

    Dalam tradisi orang Jawa, anggota keluarga yang telah meninggal selalu dikirimi doa lewat acara selamatan. Begitu pula yang dilakukan oleh sebu-ah keluarga di Desa Margoagung, Ke-camatan Seyegan, Sleman, Yogyakarta, beberapa pekan silam. Hanya, acara ini gagal karena tiba-tiba muncul "hantu" berwujud seorang lelaki kurus berusia 30 tahun. Para tamu pun segera kalang-kabut karena ketakutan.

    Selamatan itu buat mendoakan Muji Raharjo yang telah dinyatakan meninggal. Suatu hari, seorang petugas kantor desa datang menemui Sarinem, istri Mu-ji, membawa berita duka. Dikabarkan, Muji tewas akibat kecelakaan lalu lin-tas di Arjowinangun, Cirebon, Jawa Barat. Tanpa banyak tanya, hari itu ju-ga Sarinem langsung berangkat ke Rumah Sakit Arjowinangun untuk melihat jenazah suaminya. Karena kondisi mayat hancur, sang istri hanya diperbolehkan melihat kaki sang mayat. "Sepertinya memang kaki Mas Muji," kata Sarinem.

    Ibu satu anak ini semakin yakin bah-wa jasad kaku itu suaminya, karena petugas rumah sakit juga menyerahkan KTP atas nama Muji. Sarinem langsung membawa pulang mayat suaminya, dan pada 17 Desember sore, jenazah Muji langsung dimakamkan.

    Nah, selang tiga hari, saat keluarga besar Muji sedang melakukan acara selamatan atas kematiannya, tiba-tiba Muji Raharjo muncul. Terang saja, orang-orang ketakutan karena menganggap-nya hantu. Muji sendiri terbengong-bengong tak tahu apa yang sedang terjadi. Ia pun kaget karena dianggap telah meninggal dunia.

    Rahasia baru terkuak setelah Muji bercerita bahwa ia kehilangan pakaian serta dompet berisi uang dan KTP, dalam kereta yang ditumpanginya menuju Jakarta. KTP itulah yang kini berada di tangan keluarga Muji Raharjo bersama sesosok mayat lelaki yang sudah dikuburkan.

    Siapa sebenarnya jenazah lelaki yang sudah dikubur itu? Tak ada yang tahu. Meski begitu, Muji dan Sarinem tetap akan mengadakan doa selamatan hing-ga 40 hari untuk jenazah lelaki yang ti-dak dikenal itu.

    Muji sendiri langsung mengganti namanya. Alasannya, nama itu membawa sial. Apalagi nama yang lama sudah ditulis di papan nisan seorang lelaki tak dikenal. Sekarang, Muji menyandang nama baru: Slamet Raharjo. "Agar selamat terus," katanya.

    Satu Pohon buat Menikah

    Achmad Husaini, 30 tahun, seorang warga Desa Banyuputih, Lumajang, Jawa Timur, kelimpungan. Sudah lama ia ingin menikah. Calon istri sudah ada, mas kawin dan biayanya pun telah disiapkan. Tapi masih ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi, yakni sebatang bibit pohon. "Kini saya harus menyiapkan dana tambahan untuk membeli pohon," katanya.

    Permintaan khusus sang calon istri? Sama sekali bukan. Syarat unik itu dibuat oleh Bupati Lumajang, Achmad Fauzi, pada Desember lalu. Siapa saja yang hendak menikah diwajibkan me-nanam pohon di desanya masing-masing. "Tujuannya, agar para warga sadar, pentingnya menanam pohon untuk mencegah bencana alam," kata Fauzi.

    Fauzi agaknya gemas dengan daerahnya yang sering sekali mengalami bencana. Dalam beberapa tahun terakhir ini, setiap musim hujan tiba, Lumajang memang menjadi langganan bencana tanah longsor, banjir, dan angin puyuh. "Bencana itu terjadi karena banyaknya hutan yang gundul dan tanah kosong," katanya.

    Maka dibuatlah aturan terobosan. Setiap pasangan yang hendak menikah diwajibkan menyerahkan satu bibit pohon pada saat ijab kabul. Pasangan yang baru memiliki bayi juga diwajibkan menyerahkan satu bibit pohon. "Pohon itu diserahkan ketika orang tua si bayi hendak meminta akta kelahiran kepada petugas pencatat akta," kata Fauzi.

    Bagi pasangan yang hendak bercerai, syaratnya lebih berat. Mereka mesti menyerahkan sepuluh bibit pohon ketika sidang di pengadilan agama.

    Kendati agak berkeberatan dengan aturan itu, Achmad Husaini yang sudah ngebet menikah tak kuasa menolaknya. Apalagi saat datang ke Pengadilan Agama Lumajang beberapa waktu lalu, pe-tugas di sana meminta agar aturan itu ditaati. Daripada tidak bisa menikah, akhirnya Husaini memutuskan untuk menyisihkan sebagian duitnya buat membeli sebatang bibit pohon.

    Rian Suryalibrata, Heru C. Nugroho (Yogyakarta), Mahbub Djunaidy (Lumajang)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Sebuah Gelanggang Pertarungan

Catatan Pinggir

Tsunami

Indonesiana

Indonesiana

Layar

Requiem untuk Aceh

Sebilah Duka dalam Kata-kata

Ekspresi Puitis Aceh Menghadapi Musibah

TEMPO|interaktif

Kim Kardashian Diduga Kecanduan Pil Valium?

Pacar Tara Reid Seumur Kakeknya

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ternyata Ogah Didikte

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

Nasional

Usai Grasi Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian 'BLBI'  

Nasional

Rata-rata Nilai UN SMA DKI Jakarta Kalah Jauh dari Jatim

Jumlah Perempuan Perokok di Indonesia Naik Empat Kali Lipat

Olahraga

Inter Milan Rintis Sekolah Bola di Jakarta

Nasional

Di Yogya Para Menteri Masuk Istana, Dahlan Pilih ke Pabrik Gula

Nasional

Menteri Nuh: Daripada Lady Gaga, Mending Bee Gees

Nasional

KPK Mulai Usut Duit Kongres Demokrat

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif