• Home
  • 10 Januari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 10 Januari 2005

    Monster Bersungut dari Sangkulirang

    Yayuk R. Suhardjono memandang takjub. Sesuatu di dekat mulut gua Talabar di kawasan karst Sangkulirang, Mangkalihat, Kalimantan Timur, itu membuatnya terpana. Jelas, itu kecoa, lengkap dengan sungut. Yang membuat Yayuk terpana, dibanding kecoa biasa, benda itu terbilang raksasa. Panjang badannya 10 sentimeter, lebarnya kira-kira 3 sentimeter. Hampir sebesar kotak rokok. Ini tiga kali lipat dibanding besarnya kecoa yang biasa ditemukan di rumah-rumah yang termasuk jenis American cockroach (Periplaneta americana) dengan panjang sekitar 3-4 sentimeter.

    Setelah mengamati lebih dekat, peneliti bidang zoologi pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, itu segera mafhum. ?Benar ini kecoa! Ini kecoa besar, kecoa jenis baru,? teriaknya kegirangan. Yah, ekspedisi tim peneliti LIPI dan The Nature Conservancy (TNC) selama lima pekan, 31 Juli sampai 4 September lalu, akhirnya tidak sia-sia.

    Kecoa raksasa tadi hanya satu dari sekian spesies unik yang mereka temukan. Tim beranggotakan 10 ahli zoologi dan arkeologi serta 2 ahli botani dari Amerika Serikat, Singapura, Venezuela, dan Indonesia itu berhasil mendokumentasikan keragaman flora dan fauna di kawasan tersebut. ?Kami membagi rombongan menjadi dua tim, masing-masing 6 peneliti, 2 juru masak, 7 pembawa barang dan penunjuk arah,? kata Yayuk, doktor ahli serangga tanah jebolan Universitas Indonesia.

    Karst Mangkalihat terbentang di wilayah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur. Kawasan ini pilih sebagai wilayah ekspedisi karena masih perawan. Di wilayah seluas 9.000 hektare itu mereka memilih enam gua di empat lokasi; formasi Suatan Kecamatan Tubaan dan formasi Tintang terutama di Danau Tebo, Merapun?keduanya di Kabupaten Berau. Dua lokasi lainnya adalah Ambulabung di sepanjang Sungai Baai di Kecamatan Pengadan serta Gunung Marang di Kecamatan Bengalon, keduanya berada di Kutai Timur (lihat peta).

    Setelah gua Tabalar, tim peneliti melanjutkan perjalanan puluhan kilometer menuju Desa Pengadan. Dari desa paling ujung di Berau ini mereka menyambung dengan jalan kaki selama 3 jam menuju gua Mardua dan gua Ampanas Tengkorak. Tiga gua lainnya ada di daerah Marang, yakni gua Kebobo, gua Sungai dan gua Tengkorak, 8 kilometer dari gua Mardua.

    Sulitnya medan membuat mereka harus bekerja ekstra keras. Untuk mencapai gua Talabar, misalnya, Yayuk harus berjalan 3 jam dari base camp di pinggir Sungai Baa?i. Itu pun masih harus memanjat dinding bukit selama satu jam. Maklumlah, mulut gua berada 75 meter dari kaki bukit.

    Semua kerja keras itu tak sia-sia. ?Hanya dalam lima minggu, tim ekspedisi telah menemukan beberapa spesies unik yang belum pernah ditemukan di dunia,? kata Scott Alexander Stanley, Manajer Program TNC untuk Wilayah Kalimantan Timur.

    Selama ekspedisi, mereka berhasil mengumpulkan 1.500 spesimen. Temuan ini terdiri dari 120 spesies burung, 34 spesies kelelawar, lebih dari 200 spesies serangga gua, 51 spesies ikan, dan 400 spesies tanaman. Bonus terbesar yang mereka dapatkan adalah dari enam gua yang ternyata dihuni berbagai spesies unik.

    Selain kecoa raksasa tadi, jenis serangga unik lain yang mereka lihat adalah millipede atau si kaki seribu albino sepanjang 6,5 sentimeter. Ada pula laba-laba khas gua heteropoda sebesar telapak tangan, jangkrik gua (Rhaphidophora) dengan antena delapan kali panjang tubuhnya atau sekitar setengah meter. Semuanya memang serba raksasa. ?Hampir semua serangga yang kami kumpulkan adalah jenis yang belum dikenal dunia ilmu pengetahuan,? kata Louis DeHarveng, rekan satu tim Yayuk. Louis adalah peneliti entomologi dan direktur lembaga penelitian French Academy of Science. ?Sangkulirang memiliki diversity gua terlengkap di dunia,? kata dia lagi.

    Temuan lain adalah kelelawar. Dari 92 jenis makhluk hitam gelap ini, tim peneliti mendokumentasikan 34 jenis kelelawar yang belum pernah dijumpai di Kalimantan. Juga ditemukan 124 spesies burung yang seperempat di antaranya bukan jenis yang melakukan migrasi. Selain itu, ada dua spesies baru bunga begonia, satu spesies baru tanaman berdaun tunggal yang disebut Monophyllaea, dua spesies keong, kepiting mini (micro-crab), beberapa spesies ikan, dan sejenis udang kecil transparan yang bisa bergerak cepat.

    Bintang semua temuan itu tentulah sang kecoa raksasa. Tim ekspedisi menduga ini tergolong spesies baru. Keunikannya terlihat pada bagian belakang kepala dan bagian pipih di sisi toraks. Aksesori aneh ini membuat sang kecoa pantas dijuluki monster. Menurut Yayuk, dibanding kecoa rumahan yang lincah, si raksasa hanya bisa bergerak lambat hingga mudah ditangkap. Makanannya pun hanya mengandalkan guano (kotoran penghuni gua).

    Yayuk belum bisa memberi nama bagi kecoa temuan mereka itu. Pasalnya, di seluruh dunia diperkirakan terdapat 3.000-4.000 spesies yang ditemukan sejak 1800-an hingga 2004. ?Perlu waktu panjang untuk memberi nama kecoa spesies baru itu,? kata Yayuk.

    Jika benar ini jenis temuan baru, inilah rekor kecoa terbesar. Temuan mereka akan mengalahkan ukuran kecoa terbesar di dunia saat ini, yaitu jenis giant burrowing cockroach atau rhinoceros cockroach (Macropanesthia rhinoceros) dari North Queensland, Australia. Badan kecoa ini panjangnya 8-9 sentimeter dan berat 30-35 gram. Kecoa raksasa lainnya adalah kecoa desis Madagaskar atau Madagascar hissing cockroach (Gromphadorhina portentosa) yang panjangnya 8 sentimeter.

    Sayangnya, dua contoh kecoa temuan Yayuk dkk itu keburu mati setelah mereka tangkap untuk diambil sebagai contoh. ?Karena ekosistem gua tertutup, hewan gua ini lebih rentan dan sensitif ketika dibawa ke luar gua, apalagi kena sinar matahari,? katanya.

    Toh matinya dua kecoa itu tak mengurangi makna penemuan mereka. Kalaupun ada yang membuat galau, itu adalah nasib kekayaan keanekaragaman hayati di Sangkulirang. Menurut Scott, tanpa perlindungan khusus, terutama dari penambangan dan pembalakan liar, kekayaan itu akan hilang. ?Entah berapa banyak lagi (spesies unik) di sana. Bila kawasan itu tidak dilindungi, lusinan spesies akan musnah sebelum manusia tahu mereka ada,? katanya.

    Raju Febrian, Deffan Purnama (Bogor)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Sebuah Gelanggang Pertarungan

Catatan Pinggir

Tsunami

Indonesiana

Indonesiana

Layar

Requiem untuk Aceh

Sebilah Duka dalam Kata-kata

Ekspresi Puitis Aceh Menghadapi Musibah

TEMPO|interaktif

Olahraga

Kemana Guardiola Berlabuh: Liverpool atau Chelsea?

Kim Kardashian Diduga Kecanduan Pil Valium?

Pacar Tara Reid Seumur Kakeknya

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ternyata Ogah Didikte

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

Nasional

Usai Grasi Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian 'BLBI'  

Nasional

Rata-rata Nilai UN SMA DKI Jakarta Kalah Jauh dari Jatim

Jumlah Perempuan Perokok di Indonesia Naik Empat Kali Lipat

Olahraga

Inter Milan Rintis Sekolah Bola di Jakarta

Nasional

Di Yogya Para Menteri Masuk Istana, Dahlan Pilih ke Pabrik Gula

Nasional

Menteri Nuh: Daripada Lady Gaga, Mending Bee Gees

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif