LAGU Right Here Waiting mengalun perlahan. Suara merdu penyanyi Richard Marx menenteramkan kamar nomor 3 Unit Perawatan Khusus Stroke (UPKS) Soepardjo Rustam, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Di atas satu-satunya tempat tidur di ruangan itu, terbaring sosok perempuan 33 tahun. Ia berbaju biru muda dengan selimut putih menutup sebagian tubuhnya.
Setiap kali nyanyian selesai, perempuan berkulit putih bersih itu selalu meminta agar lagu diputar kembali. Dengan suara lirih dan terbata-bata, ia pun ikut berdendang. "Ini lagu kesukaannya," kata Dini dari Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan, yang selalu menungguinya.
Dialah Agian Isna Nauli, perempuan yang selama berbulan-bulan sempat tergolek tak berdaya. Selain tak sadarkan diri, seluruh tubuhnya lumpuh. Cuma tarikan napasnya yang menandakan bahwa tubuhnya itu masih bernyawa.
Setelah sekitar enam bulan dalam kondisi koma, tiba-tiba "mukjizat" datang pada awal Januari lalu. Agian mulai bisa bergerak. Seperti yang dilihat Tempo pada Kamis pekan lalu, ia pun sudah bisa bernyanyi.
Perkembangan itu tidak pernah terbayangkan beberapa bulan sebelumnya. Saat itu suaminya, Panca Satriya Hasan Kesuma, telah putus asa melihat kondisi Agian yang terus memburuk. Ia lalu membuat keputusan dramatis pada September tahun lalu. Hasan, 33 tahun, meminta agar istrinya disuntik mati (eutanasia). "Saya tak kuat melihat dia menderita begitu. Saya minta dia disuntik mati agar dia mati terhormat. Itu lebih baik dibanding dia dibiarkan mati begitu saja," kata Hasan. Warga Bogor, Jawa Barat, ini juga punya alasan lain. Ia mengaku tak mampu lagi menanggung biaya pengobatan istrinya. "Sampai hari ini utang saya sudah lebih dari Rp 100 juta," katanya.
Petaka yang menimpa Agian datang setelah ia menjalani operasi caesar saat melahirkan anak keduanya pada 20 Juli 2004. Tekanan darahnya terus meninggi dan pemberian obat penurun tekanan darah tidak bisa menolongnya. Ia malah tidak sadarkan diri. Beberapa kali Agian berpindah rumah sakit, sampai akhirnya, Agustus silam, ia dibawa ke RSCM. Di sini ia ditangani oleh tim dokter yang diketuai oleh Prof Dr Yusuf Misbach.
Menurut Misbach, Agian mengalami kegagalan fungsi saraf pusat akibat peristiwa ekslamsia atau keracunan saat proses persalinan. Tekanan darahnya melonjak seiring dengan meningkatnya hormon tertentu ketika melahirkan. Rupanya ekslamsia yang menyerang mengakibatkan sel-sel otaknya rusak. Lalu, terjadilah kegagalan fungsi saraf pusat yang membuat tubuhnya lumpuh total.
Meski sel otaknya telah rusak, sejak semula Dokter Misbach optimistis Agian masih bisa diobati. Sel otak yang rusak bisa diganti lewat proses terapi dan stimulan. "Karena jaringan sel otak yang masih hidup akan mengambil alih fungsi sel-sel yang mati, akhirnya bisa tumbuh jaringan baru," kata Misbach. Dengan munculnya jaringan baru, organ tubuh Agian yang selama ini lumpuh perlahan-lahan dapat berfungsi kembali.
Pengobatannya tak terlalu pelik. Agian selalu diberi makanan yang bergizi. Selain itu, pihak RSCM juga melatih anggota gerak, kemampuan bicara dan pendengaran Agian. Ia selalu diajak berbicara kendati selalu diam saja. Perawat juga rajin memutarkan kaset yang berisi ayat-ayat Al-Quran dan lagu. "Semua itu dilakukan setiap hari," kata Suster Eni, suster kepala yang menangani perawatan Agian.
Terapi itu membuahkan hasil. Agian akhirnya bisa bergerak dan bersuara. Dia juga sudah mampu berkomunikasi dengan orang lain. Ketika Tempo menjenguknya, ia bisa menanggapi beberapa pertanyaan yang diajukan, meski masih dengan jawaban pendek. Misalnya, ketika Tempo bertanya, apakah ia sudah makan, Agian menjawab pendek, "Sudah," katanya. "Bagaimana kabar anak-anak?" "Sehat," katanya senang. Di sela tanya-jawab, sesekali Agian meringis sambil mengatakan perutnya sakit dan mulas. Agian juga terlihat beberapa kali menggerakkan kaki dan tangannya, meski gerakannya belum begitu banyak.
Hasan mengaku senang dengan kondisi istrinya sekarang. Setiap kali menjenguk istrinya, ia selalu melatih Agian untuk melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran dan membantunya mengingat nama dirinya dan anak-anaknya. Sang suami sudah tak ingin istrinya disuntik mati. "Kalau tetap begitu, berarti saya tidak mensyukuri nikmat dari Allah," katanya.
Rian Suryalibrata, Eni Saeni, Ramidi
Setelah Tekanan Darah Meninggi
19 Juli 2004 Panca Satriya Hasan Kesuma dan istrinya, Agian Isna Nauli, berkonsultasi dengan Gunawan M. Rahmat, dokter spesialis kandungan, di Klinik Bale Binarum, Bogor. Meski usia kandungan baru tujuh setengah bulan, diputuskan agar Agian menjalani operasi caesar keesokan harinya.
20 Juli 2004 Agian melahirkan anak keduanya melalui operasi caesar di Rumah Sakit Islam Bogor. Karena rumah sakit ini tidak punya inkubator, sang bayi dipindahkan ke RSU PMI Bogor. Setelah kondisinya dianggap stabil, Agian sendiri dibawa ke RS Bersalin Yuliana untuk istirahat.
21 Juli 2004 Tekanan darah Agian meninggi, sehingga ia harus dibawa lagi ke RS Islam Bogor. Hasan disarankan membeli obat penurun tekanan darah buat istrinya. "Sampai empat kali saya bolak-balik membeli obat," kata Hasan. Karena kondisinya terus memburuk, bahkan tak sadarkan diri dan kemudian lumpuh, Agian dipindahkan ke RSU PMI Bogor.
11 Agustus 2004 Agian dibawa ke RS Pusat Pertamina Jakarta untuk mengetahui kondisi kerusakan saraf otaknya. Sepekan kemudian, diperoleh hasil CT Scan yang menyatakan, ada kerusakan permanen di pusat saraf otak yang mengakibatkan Agian lumpuh.
27 Agustus 2004 Agian dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Pemindahan dilakukan karena RS PMI tidak sanggup merawat Agian.
17 September 2004 Di tengah acara rapat koordinasi DPRD Kota Bogor dengan Kepala Dinas Kesehatan, Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Direktur RSU PMI, dan Direktur RS Islam, Hasan meminta izin pemerintah agar istrinya disuntik mati (eutanasia). Selain tak tega melihat penderitaan istrinya, faktor biaya yang mesti dikeluarkan juga menjadi pertimbangan.
22 Oktober 2004 Hasan mengajukan surat permohonan tindakan eutanasia ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
26 Oktober 2004 Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari menjenguk Agian di RSCM dan berjanji meringankan biaya perawatan Agian.
6 Januari 2005
Menteri Kesehatan kembali menjenguk Agian. Saat ini kondisinya justru membaik. Menurut pihak RSCM, sejak awal tahun ini Agian sudah mampu berbicara dan bahkan bercanda.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
