USMAN tak punya kata lain selain syukur. Lelaki 34 tahun itu selamat dari amuk gempa dan gelombang tsunami di pesisir barat Aceh, 26 Desember lalu. Istri dan dua anak balitanya juga lolos dari el-maut. Kini sang kontraktor tinggal di rumah sanak saudaranya di Banda Aceh. Ia berhasil pergi dari kampungnya setelah melalui perjalanan yang sangat berat.
Saat petaka tiba, Usman sedang berada di rumahnya di Kampung Blang, Kecamatan Calang, Kabupaten Aceh Jaya. Tanpa mengetuk pintu, tiba-tiba gempa datang. Bumi gemeratak. Anak-beranak itu berhamburan ke luar rumah. Dari halaman rumahnya, sekitar 25 meter dari bibir pantai, Usman melihat laut surut. Ikan-ikan menggelepar di pasir basah. Tapi itu tak lama. Beberapa menit berselang, ombak setinggi lima meter datang bergulung-gulung laksana kabut hitam yang siap menerkam.
Meski cemas, Usman mencoba tenang. Istri dan dua anaknya dihalau masuk mobil. Usman memutuskan lari ke Teunom, rumah ayah dan ibunya. Sayang, mobilnya tak bisa melaju mulus. Dari arah berlawanan, deretan mobil berjalan menghalangi. Tembok-tembok raksasa air terus mengejar. Dia tak lagi bisa berpikir panjang. Segera sekeluarga itu keluar dari mobil dan lari bergegas me-manjat bukit di seberang jalan. Tsunami baru datang penuh tatkala kaki mereka sudah ada di ketinggian bukit.
Dari puncak bukit, Usman menyaksikan enam pintu ruko yang selama ini jadi tempat tinggalnya ludes disapu tsunami. Hanya beberapa detik, seluruh perkampungan itu tiba-tiba rata oleh lumpur. "Yang tersisa hanya lantai," kata Usman. Selain itu: puing kayu, bangunan, sampah. Dan mayat-mayat.
Malam itu, bersama sejumlah orang, mereka bermalam di atas bukit. Esoknya, Suhenni, istrinya, mengajaknya turun dan pergi ke Teunom. Usman pun menggendong dua anaknya. "Kami berniat mencari orang tua dan sanak saudara yang menetap di sana," kata Usman.
Jarak Calang ke Teunom tak berapa jauh sebenarnya, hanya 60 kilometer atau satu setengah jam dengan mobil. Tapi hari itu tak ada lagi mobil. Keluarga itu harus berjalan kaki dua hari dua malam, tanpa bekal makanan sesuap juga. Pakaian pun hanya tersisa yang melekat di badan. Yang membuat mereka bertahan adalah kelapa muda dan pisang hutan. "Tak ada yang bisa dimakan kecuali buah-buahan itu," ujarnya. Bantuan yang diimpikan tak kunjung datang.
Tiba di Teunom, Usman melongo. Kampung mertuanya sudah hilang. Sepanjang mata memandang hanya puing bangunan berserakan. Sebentar kemudian dia tahu, sebagian keluarganya tak lagi bernyawa. Mertuanya pun wafat. Usman dan istrinya memutuskan kembali ke Calang. Meski waktu tempuh relatif singkat, tetap saja mereka harus berjalan kaki melalui jalan raya pesisir barat. Kali ini mereka berjalan sehari semalam. Naik-turun bukit, keluar-masuk hutan. Bahkan, Usman terpaksa berenang menyeberangkan keluarganya jika menjumpai jembatan putus.
Hari ketujuh setelah tsunami, Usman tiba kembali di Calang. Kondisinya tak jauh berubah, tetap luluh-lantak. Mayat bergelimpangan di mana-mana menebarkan bau busuk. Anak-anak dan orang tua berlarian mencari makanan. Saat itu, bantuan makanan baru datang. "Tapi jumlahnya sangat terbatas," ujarnya. Merasa tak lagi bisa bertahan, Usman memilih keluar kampung. Rumah saudaranya di Desa Mibo, Banda Aceh, jadi pilihan terakhir. Beruntung, ada perahu boat ikan yang bisa ditumpanginya sampai ke Banda Aceh. Ia sekeluarga selamat.
Tak semua pengungsi seberuntung Usman. Ribuan pengungsi di delapan kecamatan di kawasan pesisir barat Nanggroe Aceh Darussalam, enam kecamatan di Kabupaten Aceh Barat, hanya bisa menunggu bantuan datang. Kecamatan seperti Suak Timah, Kuala Bubon Teunom, Keude Panga, Keude Krueng Sabee, Calang, Lageun, Patek, Babah Nipah, Lhok Kruet, Labesoe, dan Lamno, belum terjamah ketika itu.
Kondisinya sangat mengenaskan. Perkampungan padat di tepian pantai barat itu seluruhnya binasa. Di Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, misalnya, dari 48 desa dalam catatan pemerintah, kini tinggal 14 desa. Setidaknya 15 ribu jiwa binasa lantaran bencana ini. Puluhan ribu warga lainnya yang tersisa menyebar di kamp-kamp pengungsian. Mereka mempertahankan hidup.
Mau keluar kampung pun sulit. Seluruh daerah di kawasan itu terisolasi. Jalan dan jembatan ambruk, putus di sana-sini. Hubungan telepon terputus sama sekali. Kontak dengan telepon satelit pun lebih sering terhalang kabut.
Satu-satunya jalan hanya lewat laut. Itu pun butuh nyali tinggi karena kondisinya sulit. Setidaknya, Tempo bersama para relawan membutuhkan enam setengah jam untuk sampai ke Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, melalui laut. Gelombang masih tinggi menjulang dan mengocok-ngocok kapal beserta seluruh penumpangnya.
Itulah sebabnya, tak ada bantuan dari luar yang bisa mencapai kawasan ini sampai hari keempat setelah musibah itu terjadi. Kalaupun ada, itu dibawa dari helikopter dan dilempar dari kejauhan. Jumlahnya jelas amat minim, tak mencukupi bagi perut ribuan warga desa dan ratusan bayi serta balita yang tak henti merengek kelaparan. Jika sudah demikian, tak ada pilihan lain kecuali keluar dari kawasan itu guna mencari bantuan. Bagaimanapun caranya.
Begitulah yang dilakukan Tarmidzi, 40 tahun. Tak tahan melihat kondisi kampungnya, penduduk Lamno, Aceh Jaya, ini nekat membawa kapal ikan kecilnya ke Banda Aceh, mencari bantuan logistik. Baru saja meninggalkan daratan, mesin kapal itu tersedak, lalu mati tepat di tengah laut. Tak ada pilihan: Tarmidzi pun berenang.
Dengan badan letih karena dua hari hanya diisi sebungkus mi, pria beranak empat itu harus mengayuh tangannya di lautan selama hampir satu jam. Harapannya melihat daratan hampir sirna karena tubuhnya sudah mulai kaku dan ngilu kelelahan. "Saya sudah pasrah," katanya.
Beruntung, sebuah kapal karet dari Satuan Brigade Mobil menjadi dewa penolongnya. Tubuh Tarmidzi ditarik ke atas dan dibawa ke darat. Ketika itu sebuah kendaraan posko Arun tengah melintas di pinggir pantai Lhok Nga. Tarmidzi bisa menumpang mobil itu hingga ke pusat kota Banda Aceh?tempat "surga" bantuan berada.
Sepekan Tarmidzi di Banda Aceh, ia tak diam berpangku tangan. Berjibaku bersama para relawan, Tarmidzi akhirnya mengumpulkan 1,5 ton bahan makanan yang terdiri dari beras, mi instan, dan baju bekas. Dengan kapal ikan yang agak besar, barang-barang itu dibawanya berlayar mengarungi pesisir pantai barat menuju Lamno. "Barang-barang ini setidaknya bisa mengganjal perut warga desa saya," ujarnya. Matanya penuh harap. Ia membayangkan semua orang di Lamno bertahan hidup dengan bantuan ini.
Kondisi daerah-daerah yang terisolasi mengenaskan. Wajar jika Dedi Darmadi syok berat kalau harus bertahan di rumah pondokannya di Banda Aceh. Mahasiswa IAIN Ar-Raniry Banda Aceh asal Lamno ini tak tahan lagi memendam keinginannya untuk pulang menengok orang tuanya. Apalagi didengarnya, kampung halamannya itu kini porak-poranda dan mati. Apa daya, akses jalan terputus.
Dedi tak mau menyerah. Tanpa banyak pertimbangan, Dedi langsung menyambar ranselnya dan menghambur pergi menyusuri jalan menuju Lampulo, daerah pesisir bagian barat Banda Aceh. Malangnya, tak satu pun perahu yang ke Lamno. Ia pun berlari menuju Lhok Nga, dan mendapati kondisi kampung yang sama rusaknya dengan tempat lain.
Dedi tetap nekat pulang. Kecemasan kian menyergap hatinya. Tak tahan untuk segera melihat orang tua dan sanak saudaranya, Dedi berlari bagai orang kalap menuju kampung halaman, sepanjang 65 kilometer. Satu hari satu malam lamanya. Ia hanya istirahat sebentar di rumah penduduk, tatkala malam mulai tiba.
Tak ada makanan berlebih yang dibawanya. Ranselnya hanya berisi sebotol air mineral berukuran 500 ml yang harus diiritnya sepanjang jalan. Bila haus mencekik leher, Dedi terpaksa meneguk beberapa tetes. Jika lapar melilit, makanan apa pun yang ditemui terasa enak. "Kadang ada kelapa muda, kadang juga pisang di kebun orang," ujarnya.
Satu hari lamanya, Dedi akhirnya berhasil sampai di kampungnya, Kuala Daya, Lamno. Beruntung, takdir membawanya tetap bersua dengan ayah, ibu, dan salah satu adiknya. Namun kini mereka sudah tak punya apa-apa lagi. Rumah tinggal tanah. Tak ada lagi yang tersisa, juga para tetangga. Semuanya porak-poranda. Para warga kampung yang masih tersisa meratapi luka dan kebinasaan itu. Sudah begitu, stok makanan menipis, kelaparan mulai mengancam.
Pesisir barat Banda Aceh sungguh terancam.
Mardiyah Chamim, Setri Yasa, Nurdin Kalim, Yuswardi (Banda Aceh), Widiarsi Agustina (Jakarta)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
