• Home
  • 24 Januari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 24 Januari 2005

    Meneropong Singapura, Sang Kota Tua

    DISCOVER SINGAPORE ON FOOT Penulis: Dominique Grêle Fotografer: Lydie Raimbault Penyunting: Nancy Chng Tebal: 155 halaman Penerbit: Select Publishing, Singapore, Desember 2004

    Adakah Singapura mampu mengirim kita kepada masa lalu, ketika lorong-lorong itu masih sunyi dan penuh pejalan kaki dan mal-mal belum menjadi rumput yang menyelimuti seluruh negeri?

    Bagi warga Indonesia (kaya-raya), Singapura pernah menjadi surga belanja. Yang lebih tua mungkin masih ingat akan suasana di Bugis Street pada malam hari 1970-an, tatkala para transeksual dengan kostum provokatif meliuk dan melenggang di antara meja-meja warung makan terbuka, sementara aroma parfumnya sejenak memenuhi udara. Bagi pelancong Barat, Singapura menjadi perhentian nyaman untuk meloncat ke negara eksotik Asia lainnya. Buku Discover Singapore on Foot hasil penelitian Dominique Grêle and Lydie Raimbault, yang disunting dengan telaten oleh Nancy Chng, layak disambut hangat. Pada era gerak cepat yang para penghuninya tak sempat mengurangi laju langkah, buku ini muncul bagai sahabat, yang menggenggam tangan kita dan menggugah bawah sadar kita.

    Buku ini seolah mengajak kita melakukan pelancongan mini dengan menelusuri tiap kawasan, bukan saja sambil menyimak apa yang tampak di sekitar kita, tapi juga sejarahnya. Ambil contoh salah satu perjalanan di kawasan Chinatown, yang diberi subjudul Religious Sites of the First Migrants. Sambil melangkah menjelajahi jalan-jalan dan lorong-lorong, kita bisa mencuci mata menyusuri arsitektur bangunan-bangunan di kiri-kanannya; mencari kaitan mental dengan apa yang sempat kita pelajari tentang arus-arus pendatang, yang datang sendiri maupun yang didatangkan oleh pemerintah kolonial Inggris. Tempat-tempat ibadah yang menjadi saksi yang membisikkan ceritanya ke dalam benak kita dan rumah-rumah lama yang sanggup berkisah.

    Sayang, banyak juga peninggalan bersejarah yang ditelantarkan begitu saja. Selain memeliharanya, bangunan-bangunan ini juga digunakan dalam kehidupan sekarang. Mereka memberi tempat pada restoran-restoran dan toko-toko yang menjajakan barang yang lumrah dipakai maupun yang unik.

    Setelah penyusuran yang sekelumit melalui buku ini saja, barulah kita menyadari betapa kaya kota Singa ini akan budaya sejarahnya, karena "saksi-saksi" dari kekayaan ini, yang masih berdiri di berbagai tempat dan tetap terpelihara. Sayang, rumah atau gedung bersejarah itu tampak kerdil dan redup karena berjejer dengan bangunan-bangunan modern yang menjulang bagai raksasa bertolak pinggang menghalangi pemandangan di baliknya. Apalagi kita lazim lebih memperhatikan gedung-gedung baru atau mal untuk berbelanja.

    Ada beberapa bagian yang berkisah tentang nama-nama jalan yang lucu bagi telinga Indonesia, umpamanya Jalan Ampas. Buku ini, pada akhirnya, juga membangun sebuah jigsaw puzzle, yang menggambarkan sejarah terbentuknya dan berkembangnya Singapura hingga kini. Inilah perjalanan metaforis yang pasti membawa kepuasan lahir dan batin.

    Dewi Anggraeni


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Nyawa Dulu, Halal Kemudian

Album

Album

Buku

Meneropong Singapura, Sang Kota Tua

Catatan Pinggir

Kotak Hitam

Seni Rupa

Patung, Bukan Patung

Televisi

Hari-hari Bersama Dora dan Spons

Demam Dora di Mal Jakarta

TEMPO|interaktif

RCTI Anggap Lumrah Aduan Live Pesta Anang-Ashanty

42 Negara Ikuti Borobudur Internasional Hash

Olahraga

Kemana Guardiola Berlabuh: Liverpool atau Chelsea?

Kim Kardashian Diduga Kecanduan Pil Valium?

Pacar Tara Reid Seumur Kakeknya

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ternyata Ogah Didikte

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

Nasional

Usai Grasi Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian 'BLBI'  

Nasional

Rata-rata Nilai UN SMA DKI Jakarta Kalah Jauh dari Jatim

Jumlah Perempuan Perokok di Indonesia Naik Empat Kali Lipat

Olahraga

Inter Milan Rintis Sekolah Bola di Jakarta

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif