• Home
  • 24 Januari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 24 Januari 2005

    Demam Dora di Mal Jakarta

    Tahun 2005 memperkenalkan kepanikan baru bagi kocek orang tua: Dora dan SpongeBob. Sementara di masa lalu para orang tua biasa diganggu rengekan anak-anak yang meminta dibelikan merchandise tokoh-tokoh film Walt Disney melalui McDonalds, kini jika Anda sedang bokek, ya, jauhilah mal-mal dulu. Baik itu ITC Mangga Dua, Kuningan, Cempaka Mas, maupun mal-mal besar seperti Blok M atau Taman Anggrek kini memajang aneka tas, boneka, T-shirt, daster, hingga selimut bergambar Dora the Explorer dan SpongeBob SquarePants. Inilah booming merchandise menyusul melejitnya film Dora the Explorer dan SpongeBob SquarePants produksi Nickelodeon, yang diputar di Lativi sejak Februari tahun lalu.

    Seperti curah hujan yang deras, aneka barang bergambar dua karakter ini tengah membanjir. Harganya bermacam-macam. Kita bisa menemukan boneka Dora seharga Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu. Tas dari bahan plastik seharga Rp 10 ribu bisa ditemukan di counter berbagai mal di Jakarta. Tempat minuman dan selimut dengan gambar Dora ini biasa dibarengi dengan karakter Boots, monyet yang menemaninya bertualang.

    Merchandise SpongeBob juga ikut membanjir. Bahkan sebuah lapak di Blok M mengaku kehabisan stok selimut SpongeBob. "Belum datang dari pabriknya di Bandung. Soalnya, pabrik mendahulukan untuk ekspor," kata penjual tersebut yang enggan disebut namanya. Boneka SpongeBob harganya lebih mahal. Maklum, biasanya spons kuning ini dibentuk dalam ukuran lebih besar daripada boneka Dora. Bentuknya yang kotak juga kerap dirancang multifungsi untuk tas ransel.

    Setiap kali Lativi menayangkan film Dora dan SpongeBob, stasiun televisi itu juga menampilkan beberapa produk mainan kedua karakter itu bersama presenter yang membuka acara. "Kami khusus menampilkan (produk) asli," kata Celerina, Manajer Promosi Lativi. Menurut Celerina, harga produk asli sangat jauh selisihnya dengan produk tiruan. Boneka Dora dari kain berharga Rp 119 ribu, dan produk Mattel Mattel (produsen Barbie) menjualnya dengan harga Rp 129 ribu hingga Rp 500 ribu. Boneka asli SpongeBob dihargai Rp 99 ribu hingga Rp 350 ribu

    Produk tiruan SpongeBob mulai membanjir ketika program It's SpongeBob Time ditayangkan mulai Desember tahun lalu. Program ini menempatkan seorang presenter dewasa dan beberapa anak kecil yang membuka acara pemutaran SpongeBob dengan membahas karakter kartun ini.

    Dari sisi desain, bisa dikenali bahwa produk tiruan lazimnya menggunakan teknik sablon, stiker tempel, dan jahit aplikasi di atas T-shirt, selimut, bed cover, atau dompet. Pada pembuatan boneka yang dijual di lapak-lapak, tampak tubuh kuning Bob menjadi biru. Celana cokelatnya juga menjadi hitam. Beberapa bahkan terlihat tak sama dengan karakternya. Hanya terlihat seorang gadis kecil berambut pendek dan mengenakan tas ransel dengan wajah yang berbeda.

    Produk asli Dora lebih mudah ditemukan ketimbang SpongeBob. Kita bisa menemukannya di counter seperti Familia, Gramedia, atau Toy City & KidzStation di mal-mal besar. Di tempat-tempat itulah pembeli bisa menemukan berbagai produk Dora. "Kami baru saja memperoleh lisensinya November lalu, dan hanya memegang izin pembuatan stationary dan barang-barang plastik seperti tempat minuman dan makanan," ujar Fadjar Indra, Direktur Utama PT Trisinar Indotama, pemegang lisensi Dora.

    Sebagai pemegang lisensi, PT Trisinar berhak menggunakan desain dan gambar yang diberikan Viacom International Inc. sebagai pemegang lisensi internasional, dalam bentuk cakram. "Dari CD itu, kami mengambil gambarnya dan menempatkannya di produk-produk kami. Sementara untuk bahan produknya, kami dibebaskan," kata Fadjar. Mereka menjamin keaslian produk mereka dengan beberapa ciri. Ada legal marking bertuliskan 2004 Viacom International Inc., hang-tag bertuliskan underlicense: technoplast, dan gambar Dora yang lebih tajam dan tidak memakai stiker. Meski baru November tahun lalu, Trisinar sudah menjual 80 ribu buah dengan nilai nominal 600 juta rupiah.

    Oke, ibu-ibu, bapak-bapak, siap tahan napas saat melangkah masuk mal-mal....

    F. Dewi Ria Utari


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Nyawa Dulu, Halal Kemudian

Album

Album

Buku

Meneropong Singapura, Sang Kota Tua

Catatan Pinggir

Kotak Hitam

Seni Rupa

Patung, Bukan Patung

Televisi

Hari-hari Bersama Dora dan Spons

Demam Dora di Mal Jakarta

TEMPO|interaktif

RCTI Cermati Aduan Live Pesta Anang-Ashanty

42 Negara Ikuti Borobudur Internasional Hash

Olahraga

Kemana Guardiola Berlabuh: Liverpool atau Chelsea?

Kim Kardashian Diduga Kecanduan Pil Valium?

Pacar Tara Reid Seumur Kakeknya

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ternyata Ogah Didikte

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

Nasional

Usai Grasi Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian 'BLBI'  

Nasional

Rata-rata Nilai UN SMA DKI Jakarta Kalah Jauh dari Jatim

Jumlah Perempuan Perokok di Indonesia Naik Empat Kali Lipat

Olahraga

Inter Milan Rintis Sekolah Bola di Jakarta

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif