• Home
  • 31 Januari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 31 Januari 2005

    Info Kesehatan

    Ikan Bakar Lebih Sehat

    Temuan ini patut dicamkan oleh para orang sepuh yang menderita penyakit jantung. Ternyata memakan ikan yang dibakar atau direbus lebih menyehatkan daripada ikan yang digoreng. Hasil studi para ahli dari Harvard School of Public Health, Amerika Serikat, menyimpulkan ikan bakar dan ikan rebus bisa menurunkan risiko terkena stroke.

    Mereka telah meneliti 4.700 orang berusia 65 tahun selama 12 tahun. Hasilnya menunjukkan, semakin banyak seseorang makan ikan goreng atau sandwich ikan, semakin makin tinggi risiko terkena stroke. "Risikonya meningkat hingga 10 persen untuk tiap konsumsi ikan per minggu," kata Dr. Dariush Mozaffarian dalam media Internal Medicine edisi 24 Januari.

    Hal berbeda terjadi bila ikan direbus atau dibakar. Insiden stroke pada orang yang mengkonsumsinya justru berkurang. "Tren stroke sebesar 14 persen lebih rendah terjadi pada mereka yang biasa makan ikan yang dibakar atau direbus tiga kali dalam sebulan," ujar Dariush.

    Semakin sering memakan ikan bakar atau rebus akan semakin sehat. Buktinya orang yang mengkonsumsinya sebanyak lima kali sebulan mempunyai resiko terkena stroke lebih rendah lagi, sebesar 28 persen, dibanding orang yang memakan ikan goreng.

    Mencegah Kanker dengan Pisang

    Bergembiralah wahai para penyuka pisang, wortel, dan kubis. Sebuah penelitian membuktikan: tingkat konsumsi yang tinggi atas buah dan sayuran ini mampu mengurangi risiko terkena kanker ginjal.

    Penelitian telah dilakukan para ilmuwan dari Institut Karolinska di Stockholm, Swedia, terhadap 61 ribu wanita berusia 40-76 tahun selama 13 tahun. Di awal riset, para wanita ditanyai tentang jenis makanan yang mereka konsumsi selama 6 bulan terakhir. Pada akhir penelitian, ditemukan sebanyak 122 wanita telah mengidap kanker ginjal.

    Para peneliti, seperti dipublikasikan dalam International Journal of Cancer edisi Januari, mengungkapkan, wanita yang mengkonsumsi pisang hingga enam kali seminggu terbukti lebih sehat. Mereka memiliki risiko terkena kanker ginjal lebih rendah, hingga 50 persen, dibanding yang tidak pernah mengkonsumsinya. Sayur-sayuran yang berasal dari umbi-umbian seperti wortel juga memiliki pengaruh menurunkan risiko terkena penyakit yang sama sekitar 50-65 persen.

    Rahasianya sederhana. Pisang memiliki zat antioksidan yang tinggi, yakni phenolics. "Adapun wortel mengandung isothiocyanates, zat kimia yang mengandung kekuatan menghancurkan formasi tumor," kata Dr. Bahram Rashidkhani, sang kepala penelitian.

    Rentannya Anak-anak Ber-IQ Rendah

    Beruntunglah anak-anak muda yang mendapat hasil yang bagus dalam tes inteligensia (IQ). Mereka memiliki risiko bunuh diri lebih kecil dibanding remaja yang mendapat hasil tes dengan skor lebih rendah. Demikian hasil penelitian para ahli Swedia yang dipublikasikan dalam British Medical Journal baru-baru ini.

    Pakar dari Institut Karolinska meneliti hasil tes IQ atas 987.308 lelaki Swedia yang pernah mendaftar untuk pendidikan militer. Setelah 26 tahun ditemukan, sebanyak 3.000 dari mereka telah bunuh diri. Dari pengecekan silang disimpulkan, kebanyakan para pelaku bunuh diri memiliki hasil tes IQ rendah. "Ada hubungan antara inteligensia dan kejadian bunuh diri," kata Finn Rasmussen, salah seorang peneliti.

    Orang-orang yang bunuh diri umumnya didorong oleh keadaan depresi atau skizofrenia. Nah, orang dengan tingkat inteligensia lebih rendah mungkin memiliki kemampuannya yang lebih rendah dalam menyelesaikan masalah hidupnya. Mereka menganggap bunuh diri sebagai solusi. "Tapi perlu dilakukan kajian lebih dalam tentang sebab-sebab orang melakukan bunuh diri," ujar Finn.

    Reuters, CNN, BBC


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Jalan Terjal Niciren Syosyu

Album

Album

Buku

Sebuah 'Jembatan' Bernama Chicklit

Dua yang Diberkati Pasar

Dari Toko Buku Hingga Layar Kaca

Catatan Pinggir

Surat kepada Seorang Teman yang Mencemooh Indonesia

TEMPO|interaktif

RCTI Cermati Aduan Live Pesta Anang-Ashanty

42 Negara Ikuti Borobudur Internasional Hash

Olahraga

Kemana Guardiola Berlabuh: Liverpool atau Chelsea?

Kim Kardashian Diduga Kecanduan Pil Valium?

Pacar Tara Reid Seumur Kakeknya

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ternyata Ogah Didikte

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

Nasional

Usai Grasi Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian 'BLBI'  

Nasional

Rata-rata Nilai UN SMA DKI Jakarta Kalah Jauh dari Jatim

Jumlah Perempuan Perokok di Indonesia Naik Empat Kali Lipat

Olahraga

Inter Milan Rintis Sekolah Bola di Jakarta

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif