• Home
  • 31 Januari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 31 Januari 2005

    Bank Indonesia Harus Lebih Awas

    Kejahatan perbankan di Indonesia seperti tak ada habisnya. Tahun lalu kita dikejutkan oleh penutupan tiga bank: Bank Asiatic, Bank Dagang Bali, dan Bank Global. Pada tahun itu juga Bank Persyarikatan Indonesia masuk klinik Bank Indonesia. Kini, baru satu bulan tahun 2005 lewat, anggota DPR Dradjad H. Wibowo dari Fraksi Partai Amanat Nasional melontarkan sejumlah borok yang diderita Bank Victoria.

    Dradjad menyebut ada persekongkolan manajemen Victoria untuk menyelamatkan Panca Overseas Finance dengan memfasilitasi dua perusahaan fiktif Harvest Hero dan Glory Dragon International. Melalui skenario yang sebetulnya tidak terlalu rumit, kedua perusahaan ini berhasil menggagalkan upaya International Finance Corp.?lengan bisnis Bank Dunia?mempailitkan Panca karena perusahaan ini mengemplang utang US$ 13 juta (baca rubrik Ekonomi Bisnis di edisi ini).

    Di luar itu, masih ada sejumlah upaya penggangsiran bank dengan modus transaksi pembelian aset yang digelembungkan seperti melalui pembelian apartemen dan tanah di Jakarta dan Surabaya. Ada penerimaan yang tidak dicatat, ada juga pengeluaran kas fiktif. Berbagai kasus ini sebetulnya sudah dilaporkan ke kepolisian pada Juli 2004 (dua kasus) dan Januari 2005 (lima kasus).

    Sayangnya, Bank Indonesia belum melihatnya sebagai pelanggaran atau kejahatan perbankan. Bank sentral masih melihat kasus di Bank Victoria sebagai persoalan internal dan tidak mempengaruhi kesehatan bank tersebut. Padahal, melihat paparan Dradjad di depan Komisi Keuangan dan Perbankan DPR, ada indikasi kuat, borok itu ditimbulkan oleh ulah manajemen dan atau pemegang sahamnya. Setidak-tidaknya, pemegang saham mengetahui praktek lancung di bank tersebut.

    Melihat sikap Bank Indonesia itu, kita perlu menyoroti kembali unsur pengawasan terhadap jalannya roda bank tersebut, baik pengawasan yang dilakukan manajemen dan atau komisaris, pengawasan yang dilakukan auditor, maupun pengawasan oleh Bank Indonesia. Lembaga yang disebut paling belakang inilah yang menjadi benteng terakhir praktek perbankan yang berhati-hati (prudent) dan sehat.

    Dua hal tersebut menjadi dasar dari pengelolaan bank sebagai tempat nasabah mempercayakan dananya untuk dikelola oleh bank dengan harapan mendapatkan bunga. Tapi, yang terjadi, pengawasan bertingkat tersebut ternyata bisa dilewati dengan mulus. Penutupan Bank Global belum lama ini menunjukkan betapa pengawasan sangat lemah yang memudahkan pengelola dan pemilik bank melakukan sejumlah praktek kejahatan.

    Memang, pada akhirnya Departemen Keuangan bertindak mencabut lisensi auditor Bank Global. Tapi, apakah ada pegawai Bank Indonesia yang dipersalahkan? Tidak ada. Setidak-tidaknya, itulah yang kita perhatikan dari berita-berita di media massa. Padahal, melihat begitu terangnya kejahatan yang dilakukan manajemen Bank Global, mestinya staf pengawasan di Bank Indonesia menemukan adanya ketidakberesan lebih awal.

    Kita berharap, Bank Indonesia harus awas terhadap segala riak yang ada di permukaan. Sekali lagi kita mengingatkan Bank Indonesia bahwa hanya mereka yang berhak mengawasi bank. Adapun pencabutan lisensi auditor seperti yang dilakukan di Bank Global memang tepat, tapi akan jauh lebih berguna jika hal itu dilakukan sebelum kejahatan terjadi. Tindakan preventif akan jauh bermanfaat ketimbang menutup sebuah bank setelah bank yang bersangkutan babak-belur.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Jalan Terjal Niciren Syosyu

Album

Album

Buku

Sebuah 'Jembatan' Bernama Chicklit

Dua yang Diberkati Pasar

Dari Toko Buku Hingga Layar Kaca

Catatan Pinggir

Surat kepada Seorang Teman yang Mencemooh Indonesia

TEMPO|interaktif

RCTI Cermati Aduan Live Pesta Anang-Ashanty

42 Negara Ikuti Borobudur Internasional Hash

Olahraga

Kemana Guardiola Berlabuh: Liverpool atau Chelsea?

Kim Kardashian Diduga Kecanduan Pil Valium?

Pacar Tara Reid Seumur Kakeknya

Seni & Hiburan

Lady Gaga Ternyata Ogah Didikte

Seni & Hiburan

Ongkos Datangkan Gaga Sekitar Rp 20 Miliar

Nasional

Usai Grasi Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian 'BLBI'  

Nasional

Rata-rata Nilai UN SMA DKI Jakarta Kalah Jauh dari Jatim

Jumlah Perempuan Perokok di Indonesia Naik Empat Kali Lipat

Olahraga

Inter Milan Rintis Sekolah Bola di Jakarta

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif