Dua puluh enam tahun berlalu setelah pemimpin Cina, Deng Xiaoping, mengucapkan pidato yang menggetarkan itu. "Kaya adalah mulia," katanya. Lalu Cina berubah: perdagangan bebas diterapkan, desa-desa disulap menjadi kota modern. Ekonomi jadi panglima, sementara ideologi dan sejarah jadi barang suvenir.
Akhir November lalu wartawan Tempo, Arif Zulkifli, mengunjungi Beijing, Qinghai, dan Xiamen di Provinsi Fujian dan menemukan Cina yang bersalin wajah.
Dalam 24 tahun, Xiamen berubah dari desa udik menjadi kota modern. Investor asing diundang, termasuk para pengusaha Taiwan, negeri seteru Cina. Politik dua wajah pemerintah Cina.