Perjuangan Aceh adalah pergulatan merealisasi gagasan tentang sebuah negeri idaman. Riwayatnya terjalin oleh padatnya konflik. Mulanya melawan Belanda, menyusul kemudian pertempuran antara kaum ulama dan ulee balang (bangsawan). Kemudian berlanjut dengan pemberontakan Daud Beureuh atas kebijakan Jakarta (pemerintah pusat) yang dianggap mengabaikan nilai-nilai rakyat Aceh. Karena watak sosial budayanya yang khas, Aceh dikembalikan menjadi daerah istimewa oleh Presiden Soekarno.
Dengan sifat masyarakatnya yang religius, serta wataknya yang keras, Aceh telanjur memiliki stigma sebagai daerah tertutup, sehingga masyarakat di sana menjadi tampak terisolasi. Pada September 1972, Aceh mulai dicoba untuk membuka diri dari lewat pintu kebudayaan, yaitu Pekan Kebudayaan Aceh II.
Usaha itu rupanya berhasil membuka mata terhadap Aceh. Wilayah yang ada di semenanjung Sumatera ini memiliki potensi budaya dan alam yang kaya. Konflik terbuka antara gerilyawan Aceh Merdeka dengan pemerintah RI menyulitkan pengembangan ekonomi daerah itu.
Kini Aceh luluh lantak. Bencana yang datang telah melumat wilayah Aceh pada 26 Desember 2004. Untuk membangun kembali Aceh dari puing-puing, dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada titik inilah Aceh menjadi ajang pertemuan berbagai kepentingan.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
