Menunggu kurikulum baru, bagi Subiyanto, laksana menunggu godot. Kesetiaan tetap mengembang, kendati yang dinanti tak kunjung tiba. Empat tahun sudah Kepala Editor Penerbit Ganeca Exact itu bersabar menunggu janji pemerintah menyelesaikan kurikulum berbasis kompetensi.
Semula, kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dijanjikan meluncur pada 2004. Tentu lengkap dengan pengesahan berupa keputusan Menteri Pendidikan Nasional. Itu pula sebabnya pemerintah menggadang-gadang nama "Kurikulum 2004" untuk kurikulum baru, mengikuti penamaan kurikulum sebelumnya, Kurikulum 1975, 1984, dan 1994.
KBK disebut-sebut mengandung tiga karakteristik utama yang cemerlang, memadukan struktur ilmu pengetahuan, keutuhan hasil pendidikan, dan partisipasi seluruh jajaran pendidikan. Bagi siswa, KBK diyakini mampu mengembangkan kemampuan otak, hati, dan tangan.
Apa hendak dikata, 2004 sudah berlalu, namun KBK tak jua disahkan. Entah macetnya di mana. "Sampai sekarang masih dalam proses penyusunan," kata Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo.
Di tengah upaya menunggu itulah banyak pemerintah daerah yang tak sabar, lalu berinisiatif membeli lagi buku-buku lama yang direvisi. Pada April 2004, Bupati Sleman malah nekat mengadakan buku pelajaran terbitan Balai Pustaka lewat penunjukan langsung, yang sekarang diributkan.
Kendati Kurikulum 2004 belum disahkan, anehnya Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Indra Jati Sidi, telah mengeluarkan beleid tentang standardisasi buku pelajaran pada akhir tahun lalu. Ada empat mata pelajaran yang bukunya distandarkan, yaitu matematika, bahasa Indonesia, sains, dan pengetahuan sosial.
Lewat kebijakan itu, Indra meminta para penerbit mengajukan buku pelajaran baru. Kemudian dengan dua surat keputusan, masing-masing bernomor 455/C/Kep/LK/2004 dan 505/C/Kep/LK/2004, ia mengesahkan buku yang dinilai memenuhi standar.
Untuk matematika, dari 22 penerbit yang mengajukan buku pelajaran, hanya 11 yang bukunya terpilih dan disahkan. Ganeca Exact beruntung lolos lewat buku berjudul Mari Belajar Matematika Kelas 1-6, yang ditulis Jautar M. Sugio dan Sarman.
Pada pelajaran bahasa Indonesia, dari 25 penerbit yang mengajukan buku, semuanya lolos. Termasuk di dalamnya penerbit besar seperti Balai Pustaka ataupun penerbit baru seperti Surabaya Intellectual Club. Namun, untuk pelajaran sains, dari 25 penerbit, hanya 14 yang bukunya lolos. Sedangkan untuk pelajaran pengetahuan sosial, dari 26 penerbit, 24 berhasil lolos.
Indra Jati Sidi berkilah standardisasi dan penerbitan buku baru tak bakal mubazir, kendati kurikulum baru sudah di pelupuk mata. Jika ke depan ada perubahan, katanya, tinggal dibuat suplemennya. Pelengkap itu pun tak harus berbentuk buku. "Bisa fotokopi yang dibuat oleh guru, sehingga tak membebani masyarakat untuk membeli buku baru," ujarnya.
Dalam situasi tanpa pilihan, para penerbit tak bisa menolak ketika diminta menerbitkan buku baru. "Kalau kurikulum baru disahkan, kita otomatis mengganti buku. Kita mengikuti," kata Dharma Hutauruk, Kepala Promosi Penerbit Erlangga.
Subiyanto mengaku melakukan hal yang sama. "Kita mengikuti karena cari makan di situ," ujarnya kepada Ramidi dari Tempo. Soalnya, kalau tidak mengikuti, bisa-bisa ketinggalan pangsa pasar. Untuk mengurangi risiko, Ganeca seoptimal mungkin bersandar pada draf terakhir kurikulum yang sudah diuji coba. "Mustahil tak akan digunakan, karena merupakan hasil kerja pusat kurikulum yang cukup lama," katanya.
Peliknya persoalan tersebut diakui pengamat pendidikan Ki Supriyoko. Namun, ia berpendapat idealnya tetap menunggu kurikulum disahkan. Sebaiknya pemerintah mengesahkannya sebelum Juli tahun ini, saat tahun ajaran baru dimulai. Setelah itu, direktur jenderal memberlakukannya di sekolah-sekolah, disertai penjelasan buku yang harus digunakan. "Kalau kurikulumnya bingung, bukunya tentu juga bingung," kata tokoh Taman Siswa itu.
ND, Lis Yuliawati, Eni Saeni
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
