BENCANA itu datang justru ketika pembenahan sarana pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalam hampir rampung. Delapan puluh persen dari 614 gedung sekolah yang dibakar saat konflik di provinsi ini memanas telah diperbaiki selama dua tahun terakhir. Belum tuntas pekerjaan ini, tiba-tiba tsunami menggulung Aceh pada 26 Desember lalu. Semua jadi berantakan. Diperkirakan 977 gedung sekolah hancur lebur dan 1.841 guru tewas.
Itulah yang merisaukan Anas Mu-hammad Adam, Pelaksana Harian Kepala Dinas Pendidikan Aceh. Lelaki kelahiran Pidie, 46 tahun lalu, ini telah merasakan berat membangun sekolah-sekolah ketika konflik antara militer dan Gerakan Aceh Merdeka mereda. Tak sekadar membangun gedung-gedung sekolah yang dibakar, tapi sekaligus juga mengembangkan kurikulum yang berciri khas budaya Aceh. "Bekerja dalam masa sulit selama dua tahun saja terasa seperti sepuluh tahun," kata Anas, yang lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Bisa dibayangkan betapa beratnya menata lagi dunia pendidikan di Aceh setelah digulung tsunami. Bukan cuma karena terlalu banyak gedung sekolah yang hancur, tapi juga lantaran banyaknya guru yang meninggal. Wartawan Tempo Untung Widyanto, Jojo Raharjo, dan Mohammad Fasabeni mewawancarai Anas Muhammad di kantornya di kawasan Pante Pirak, Banda Aceh, Kamis sore dua pekan lalu. Berikut petikannya.
Berapa total murid yang menjadi korban tsunami?
Belum ada data yang final. Saat sekolah-sekolah mulai dibuka pada 26 Januari lalu, belum semua terdata. Namun, di daerah yang tersapu tsunami, kondisinya menyedihkan. Saya ambil contoh di Taman Kanak-Kanak Negeri Lamjabat, dekat Ulee Lheu, Banda Aceh. Dari 150 murid yang terdaftar, hanya tersisa 1 anak. Begitu pula gurunya, dari 18 guru dan pegawai TK tersebut, hanya 6 yang selamat. Kini masih sulit mendata semua sekolah karena laporan dari pengungsian dan luar daerah belum masuk.
Bagaimana menangani sekolah-sekolah yang hancur?
Tentu sekolah-sekolah itu harus dibangun lagi. Mengenai lokasinya juga akan dipikirkan. Apakah masyarakat yang mengungsi akan kembali lagi ke daerahnya dalam satu atau dua tahun. Yang jelas, dalam tiga bulan pertama kami pikir harus menyelesaikan dulu masalah darurat dan programnya.
Bisa Anda jelaskan apa saja program darurat selama tiga bulan pertama?
Kami sudah menetapkan 130 titik pembelajaran yang tersebar di Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Jaya, Pidie, Aceh Utara, Lhok Seumawe, dan Aceh Timur. Titik-titik itu bisa ditempatkan di sekolah terdekat yang tidak hancur. Misalnya saja anak-anak SD 1 Banda Aceh. Di antara mereka yang selamat kini bersekolah di SD 22. Gurunya kita tambah dari mereka yang selamat. Begitu pula siswa-siswa SMP 1 Banda Aceh. Karena gedungnya hancur, mereka belajar di gedung SMP 3. Mereka memanfaatkan gedung secara bergiliran, pagi untuk siswa SMP 3, dan siangnya digunakan oleh siswa SMP 1. Titik lainnya di fasilitas umum, seperti masjid, surau, atau meunasah. Alternatif terakhir, mendirikan tenda untuk kegiatan belajar anak-anak korban tsunami.
Bagaimana dengan anak-anak yang tinggal di kompleks pengungsian?
Mereka boleh bersekolah di dekat lokasi pengungsian. Saya tahu rapor mereka hilang, jadi mereka tinggal lapor ke sekolah itu tanpa perlu memperlihatkan dokumen rapor. Ketika rapat di pendopo gubernur, Dinas Perhubungan berjanji akan menyediakan bus Damri gratis untuk mengangkut anak-anak di lokasi pengungsian menuju gedung sekolah terdekat.
Apakah akan ada penyesuaian?
Jadwal sekolah jelas sudah bergeser. Anak-anak sekolah akan mendapat tambahan pengajaran untuk mengejar ketertinggalan. Untuk anak yang berada di tempat pengungsian, ada kurikulum khusus, namanya kurikulum darurat. Dari berbagai kelas akan digabung. Pembelajarannya ditekankan pada kemampuan baca, tulis, dan hitung.
Khusus siswa SMP dan SMA tidak akan belajar di tenda darurat, kecuali di lokasi yang jauh dari kota. Mereka kita arahkan untuk belajar sore hari di sekolah terdekat. Kurikulumnya juga berbeda dan ada pelajaran tambahan sesudah tiga bulan, setelah trauma mereka hilang.
Bagaimana kondisi para guru?
Saya lihat guru lebih sedih lagi karena mereka sudah tidak memiliki rumah lagi. Kami buat iklan di surat kabar, mengumumkan paling lambat tanggal 29 Januari, jika tidak melapor, akan dianggap hilang. Kemudian banyak guru yang menelepon dan mengabarkan bahwa mereka sedang berada di rumah sakit. Ada juga yang berada di Medan atau Lhok Seumawe.
Saya katakan tidak apa-apa, yang penting lapor saja, lewat SMS pun boleh. Ada juga sebagian yang bilang, "Kami harus pulang ke mana, karena rumah kami sudah rata dengan tanah dan kami tidak memiliki apa pun." Saya bisa merasakan bagaimana kita telah bekerja, sementara tabungan tidak punya. Dulu mereka menabung pelan-pelan untuk memiliki rumah, tapi kini lenyap dalam sekejap.
Dengan keadaan seperti itu, bagaimana guru-guru bisa mengajar?
Kalau kita paksakan langsung mengajar, saya rasa kurang baik. Kondisi mereka lebih parah karena mereka juga mesti memikirkan harus pulang ke mana. Itu sebabnya, kami berusaha menyantuni para guru dan juga anak-anak. Bayangkan misalnya ada guru yang mau pensiun, ia selamat, namun rumahnya hancur. Rumah itu kan dibangun dengan menabung atau pinjam kredit dari bank. Dari mana mereka harus meneruskan cicilan dan membangun kembali rumahnya, sementara dirinya akan pensiun? Jadi, bisa dimengerti jika dikatakan trauma para guru lebih besar dibandingkan dengan para murid. Soalnya, tanggung jawabnya lebih besar, mereka juga harus memikirkan keluarganya sendiri.
Adakah guru yang mengalami stres berat?
Ada. Dua pekan setelah bencana, pernah datang ke saya guru SD di Punge, Banda Aceh. Setelah dia ngomong, tiba-tiba berbalik arah dan tidak bicara lagi dengan saya. Ada juga kawan lama saya yang istrinya guru. Dia mengungsi ke Blangbintang. Ketika saya turun dari pesawat, dia melihat saya dan mau memanggil tapi tidak tahu siapa saya. Yang keluar dari suaranya hanya "ooo" saja. Dua minggu berselang, barulah saya ketemu lagi. Dia memang sempat mengungsi di Blangbintang, kawasan dekat bandara. Dia mengaku melihat saya, namun tidak ingat nama saya, jadi tidak bisa bersuara.
Ada juga guru yang datang ke saya, namun omongannya tidak jelas, hanya memanggil "Pak..., Pak...." Itu karena pikirannya kosong. Setelah saya ajak duduk, baru dia cerita. Ada pula guru yang istrinya terseret air sampai jauh, lalu meninggal. Sang suami baru sepekan bisa ngomong normal.
Apa langkah untuk menghilangkan trauma mereka?
Pendekatan agama akan lebih bisa diterima oleh orang Aceh. Kami pernah melakukan konseling pasca-trauma ketika sekolah-sekolah dibakar. Waktu itu, pembakaran sekolah dilakukan di depan guru dan anak-anak. Mereka jadi trauma. Saya katakan kepada psikolog-psikolog, tolong gunakan pendekatan daerah.
Bagaimana upaya membantu guru-guru yang berada di pengungsian?
Memang ada guru yang tinggal di lokasi pengungsian. Bahkan saya menemukan ada delapan guru di satu lokasi pengungsian. Kita siapkan tempat pembelajaran di dekat kamp pengungsian. Namun, bagi guru yang sekolahnya hancur dan muridnya tidak ada lagi, kita tarik dan gabungkan ke sekolah-sekolah yang memerlukan guru.
Kabarnya para guru memperoleh santunan Rp 500 ribu?
Itu merupakan uang panik. Kita berikan kepada semua guru yang kena musibah. Ada yang anak, istri, atau suaminya hilang. Ada juga yang rumahnya hancur. Kami berikan bantuan sekadar untuk membeli lauk-pauk. Jadi, bukan santunan. Karena kalau santunan, kita harus pikirkan bagaimana nasib anaknya jika seorang guru meninggal. Makanya saya usulkan, bagi guru yang kehilangan rumah, perlu dibangunkan rumah oleh pemerintah. Caranya bisa memberikan kredit lunak dengan bunga 2 persen per tahun. Uang ini bisa diputar terus dan diberikan bagi mereka yang belum mendapatkan rumah.
Anak-anak mereka, terutama yang ditinggalkan oleh orang tuanya, perlu juga diberi beasiswa. Mereka bisa pula diberi uang kontan untuk biaya hidup. Ada lagi anak guru yang kuliahnya di luar Aceh dan setiap bulan dikirim uang oleh orang tuanya. Ini juga harus kita pikirkan. Bukan kami tidak memikirkan kelompok lain, mereka mungkin akan diurus oleh Dinas Sosial. Karena kami bertugas di Dinas Pendidikan, kami mesti memikirkan keperluan para guru dan keluarganya.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
