Tidak ada agaknya gambar yang lebih sederhana dari karya pelukis ini: sekelumit torehan, sekilas garis, dan aneka bidang warna yang terkesan datar tak selesai, dengan raut muka cuek meringis. Gambar yang mengingatkan kita pada karya anak-anak bila tidak diimbuhi nada sinis dan komentar aneh yang mencerminkan sepekikan luka.
Itulah Jean Michel Basquiat. Dan siapa lagi yang memboyong Basquiat, pelukis yang konon masyhur ini, kalau bukan Jais Dargawijaya, pialang seni yang tak hanya memiliki galeri di Sanur dan Paris, namun kerap pula ulang-alik mengikuti auction di New York, London, Paris, dan kota kosmopolitan lainnya. Jais sebelum ini sempat pula memamerkan maestro dunia seperti Picasso, Matisse, dan Miro. Kini, mulai 29 Januari hingga 27 Februari 2005, dia menghadirkan anak hitam jalanan Amerika itu.
Si junky Basquiat memang bukan orang biasa, seperti terlihat pada foto-foto yang mengiringi pameran karyanya. Sorot matanya tajam menyayat ingatan siapa pun. Kulitnya hitam, tapi bukan sembarang orang hitam. Dia keturunan Haiti-Porto dan konon darah Prancis mengalir dalam dirinya. Tak mengherankan bila ia berlagak layaknya aristokrat kaum pinggiran. Belum lagi gaya khas rambutnya, dengan kuncir liar terikat di sana-sini-sebagian menjulang, menantang langit, dan terlihat berayun mengikuti irama jalannya. Di Kota New York kala jayanya, tahun 1980-an, boleh jadi ciri sosoknya tiada bandingan.
Kehadiran Basquiat memang tidak lepas dari situasi kultural tahun-tahun itu. Mazhab modernis akhir tengah merajai jalanan dan galeri-galeri New York. Ekonomi lagi booming dan kuasa modal sedemikian menjerat, sehingga batas antara seni dan komoditas samar: modal mengendalikan media, media menentukan selera, dan "selera" mempermainkan pasar. Gerakan seni muncul bersusulan, dipacu akumulasi modal dan kuasa media.
Sinergi antara modal dan media telah diekspos oleh Pop Art (1960-an) yang mengangkat kebanalan keseharian dunia konsumtif modern sebagai pernyataan seni: komik, perabot rumah tangga, bahkan sampah sekalipun dihadirkan, dimaknai, dan diironikannya. Pada Pop Art, muncul figur Andy Warhol yang menjadikan pengelabuan oleh media sebagai hakikat ekspresi kesenian. Dia "mengikonkan" diri dengan "meng-ikon-kan" tokoh-tokoh yang menjadi ikon media: reproduksi dalam bentuk multiple dari foto Marilyn Monroe, Jacqueline Kennedy, dan lain-lain ditahbiskan sebagai benda seni. Andy Warhol mewakili sekaligus "kebesaran" dan keabsurdan kemodernan kita.
Apakah Basquiat seorang pelukis dalam artian umum? Tidak! Muncul pada tahun 1970-an sebagai Samo, sang pegrafiti liar Kota New York, dia sejatinya tidak "melukis". Dia meluapkan sesuatu, apa saja; bisa berupa sketsa, puisi, komentar tertulis, kolase, dan lain-lain. Dia bisa mengekspresikan diri di aspal, di semen, di kertas surat kabar, di atas kain, di atas kayu, pendeknya dengan sarana apa pun. Bahkan dia terkesan tak gentar dengan warna; dia mencoba menaklukkannya, namun aneka warna di tangannya selalu mengambil bentuk grafis bukan bidang. Jadi, hakikat karya Basquiat lebih terkedepankan sebagai ekspresi karya grafis-yang bukan membentuk obyek representasi, melainkan malahan sebaliknya membongkar segalanya; segala wujud, segala makna, segala genre, dan terutama segala norma.
Itu semua dihasilkan oleh perilaku bebasnya dalam menoreh, mencoret-coret, mewarnai, menerakan puisi, atau menegaskan pernyataan. Dia membuat lukisan, tetapi dia pula membawa seni lukis ke ujung "pembongkarannya", ke tapal batas antara figurasi dan abstraksi. Manusia tidak pernah hadir sebagai sosok, namun lebih sebagai kerangka tubuh atau kontur kepala. Di dalam bahasa visual Basquiat, semua memang disederhanakan sampai ke hakikat ekspresif primernya, ke dekonstruksi bentuk dan lambang. Karyanya adalah wujud dari kehampaan yang sempurna dan pemberontakan terhadap kehampaan itu sendiri.
Namun, meskipun bahasa seni Basquiat berupa pekikan tak teratur itu, dia adalah seniman sesungguhnya. Dia telah membangun "sosok karya" yang utuh, yang dikerjakan sebagai cerminan keseharian jalanan kaum pinggiran. Maka, dia menjadi sosok seniman yang tak tertolak lagi.
Basquiat bukan pelukis pertama yang menggali kemampuan ekspresif dari grafisme primitifis. Klee sebelumnya mengawali kespontanan kejenakaan kanak-kanak. Lebih lagi Dubuffet telah dengan sistematis menggali keprimitifan bentuk. Bahkan, Dubuffet telah juga menghadirkan figur-figur "outsiders", yang tidak memiliki latar belakang seni sama sekali, untuk menghasilkan "art brut" yang naif-primitif itu. Tetapi, untuk kebanyakan pelukis itu, fokusnya tetap pada "seni lukis", yang ingin ditemukan sarana ekspresi belaka. Sebaliknya, Basquiat justru tidak peduli apa itu budaya seni. Dia melayani naluri purbanya; gambarnya hanyalah luapan naluri primitif kreatifnya itu.
Bukan kebetulan Andy Warhol-lah yang paling dini menyadari bahwa si pecandu muda yang "mencemari" tembok-tembok New York dengan graffiti itu layak dientaskan menjadi "seniman". Dia tahu bahwa dunia modern menghasilkan "limbah" sosial, dan bahwa "limbah" tersebut berhak pula bersuara. Di dunia, musik bukan fenomena baru, tapi bunyi musik tak "bersuara"! Dengan menjadi mentor Basquiat, Warhol memelopori munculnya wakil "limbah"-kaum hitam-ke permukaan seni rupa Amerika. Yang "terpilih" Warhol, merangkul si tersisih biseks nan liar itu. Dengan dirangkul, dikemas, diekspos, dan dimediakan, gugatan sosial yang dipekikkan Basquiat seketika menjadi kesenian besar-meski bersamaan dengan itu gema politiknya redam dengan sendirinya.
Basquiat adalah figur balikan dari Warhol, namun yang satu menyempurnakan yang lainnya: yang satu putih, yang lainnya hitam; yang satu anggun, yang lainnya funky. Sementara Warhol secara sadar menghasilkan sebentuk seni yang "kering", yaitu figur-figur para bintang yang tampil tak berjiwa, Basquiat sebaliknya mempresentasikan sosok-sosok intens, lugas polos, lepas bebas tak terkungkung apa pun. Terlebih lagi, Warhol sadar benar akan peran media, tetapi menikmatinya. Sedangkan Basquiat mungkin tidak menyadari hal itu, malahan berontak. Warhol berada di puncak budaya yang diwakili, sedangkan Basquiat adalah puncak gerakan penolakan budaya tersebut.
Mimpikah Warhol bahwa Basquiat bakal hadir di Indonesia? Mungkin tidak, tetapi bukan sedikit seniman Indonesia yang tak cukup sabar menunggu kehadirannya untuk "menghadirkannya". Goresan ala grafiti pun marak, bukan berawal di dinding, melainkan di sudut-sudut kecil kanvas para perupa. Apakah "grafiti" mereka pekikan luka kaum tersisih pula, ekspresi "limbah" sosial Indonesia? Boleh jadi tidak. Di negeri ini, para "outsiders" tulen belum menyuarakan diri dan kaumnya. Grafiti ala ini lebih merupakan anutan estetik kaum "terpilih" untuk mengekspresikan sikap sosial dan corak keprihatinan pribadinya. Tafsir-nya lain. Dan kenapa tidak!?
Sejak tahun 1980-an, banyak di antara para penyanyi pop papan atas, bintang film termasyhur, serta pedagang saham Wall Street yang ingin memiliki Warhol, banyak pula yang berlomba memiliki Basquiat. Apakah para "the have" Indonesia kini telah gilirannya untuk mengkoleksinya? Siapa tahu dengan itu mereka akan mendengar nyaringnya pekikan luka kaum tersisih. Dan bahkan mungkin juga memahami sinisnya nada ironis si anak buangan ini.
Jean Couteau *)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
