Pancang Kenangan
Samudera Air Mata Manajemen produksi: Oscar Motuloh Tebal: 176 halaman Penerbit: Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA)
Di media cetak, gambaran tsunami dan kehancuran yang ditinggalkan berhenti pada kejutan sensasional. Ini menunjukkan kegagapan bersikap dari para fotografer di garis depan (juga para editor di belakang meja). Sebuah buku foto, walau dengan judul yang juga sensasional, Samudera Air Mata, menjadi alternatif yang dapat menunjukkan bahwa foto jurnalistik dapat segera melampaui keterpanaan dan menempatkan peristiwa sebagai bagian dari sejarah dengan bertanggung jawab.
Suatu siang di awal Januari lalu, saya tersedak oleh foto halaman muka majalah ini. Sebuah baskom retak merah luntur berselimut lumpur, tampak penuh menampung sesosok mayat bayi. Ternyata kita begitu cinta darah dan air mata, dan gayung ini disambut media dalam hukum supply and demand: "if it bleeds, it leads!". Dari hari ke hari, tan-pa sadar emosi kita semakin mendatar dan kita semakin majal ketika kita "menuntut" foto-foto yang lebih "dahsyat" lagi. Foto itu telah berubah fungsi. Dia tak lagi datang untuk membantu membaca situasi, tapi lebih untuk memuaskan rasa ingin tahu kita akan penderitaan, tanpa harus merasakannya.
Apa yang kita tahu sekarang selalu berhubungan dengan visual, tidak lagi literal, apalagi oral. Berita tidak cukup lagi kita dengar atau baca, dia harus kita lihat. Namun, justru dengan dunia yang semakin menjadi visual ini, sebagai masyarakat penonton, kita sebenarnya tidak boleh lagi melihat sebuah foto tanpa bertanya mengapa kita ingin melihatnya, apa dampak foto ini pada kita dan orang lain, dan mengapa foto ini yang ditampilkan kepada kita. Kita harus semakin kritis atas setiap representasi visual yang dibawa ke publik. Sebab, hari ini, buta huruf tak lagi berkait dengan kata, tapi pada ketidakmampuan membaca gambar.
Landasan ingatan kita adalah satu bingkai imaji diam. Berdasar ini, fotografi tentulah berjaya sebagai penancap ingatan paling dominan sejak ia ditemukan 177 tahun lalu. Kemampuannya merekam detail dengan akurasi yang tak tertandingi, ditambah kecepatan penyebarannya yang semakin tinggi, menjadikan fotografi sebagai pemegang otoritas atas imajinasi, yang sebelumnya dimiliki dunia cetak dan tutur. Dia menjadi sebuah pernyataan langsung, tanpa penjelasan dan argumentasi. Gambar bergerak memang berada di sekeliling kita. Namun, bila sudah sampai pada urusan mengingat, sebuah foto memiliki kekuatan lebih dahsyat.
Dalam konteks ini, pernahkah kita membayangkan perasaan ibu-ibu yang kehilangan anak-anak mereka saat tsunami menerjang Minggu pagi itu ketika melihat bayi dalam baskom di atas? Tidakkah kita membayangkan kesia-siaan mereka yang kehilangan sanak keluarga dan kawan dekat saat berusaha mengenali foto-foto jajaran mayat di koran dan majalah? Kadang mereka marah ketika foto itu menghadirkan mayat yang sudah dibungkus. Kita harus ingat bahwa foto bayi dalam baskom itulah kenangan yang akan dibawa sang ibu tentang anaknya yang hilang.
Mengenang adalah sebuah laku etis. Menghadirkan tubuh yang rusak, oleh sebab apa pun, hanya bisa dipertanggungjawabkan dalam konteks medis, hukum, dan keilmuan. Penghormatan kepada tubuh yang mati seharusnya tidak hanya mewujud pada debat tentang boleh-tidak mayat dibakar atau dikubur sebelum dimandikan. Tapi seharusnya juga menyentuh masalah bagaimana penggambaran sosok semayam jiwa, citraan Allah itu, ke depan publik.
Buku foto Samudera Air Mata (GFJA, 2005) adalah bentuk penghormatan itu. Rasa hormat yang diwujudkan dalam kerja untuk menerbitkannya, dan terutama dalam hal yang ditampilkan di dalamnya.
Tujuh belas fotografer yang tergabung dalam Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) ini secara simultan berada di lokasi bencana mulai 26 Desember 2004 sampai 13 Januari 2005. Dari sekitar 10.000 foto yang mereka hasilkan, koordinator Oscar Motuloh menyeleksinya menjadi 130 foto, dan disusun dalam pertimbangan kronologis dan geografis, disertai tiga esai dari Goenawan Mohamad, Sobari, dan Ignas Kleden, ditambah dua puisi dari Taufiq Ismail dan Debra H. Yatim. Terbitnya buku ini, yang kurang dari dua bulan setelah bencana, menunjukkan luar biasanya kerja yang mereka lakukan. Tapi, menakjubkan lagi adalah sikap yang mereka tunjukkan terhadap bencana dan penghargaan mereka kepada korban.
Salah satu foto pembuka dari buku setebal 176 halaman ini sepintas menampakkan tiang-tiang yang terkomposisi apik di pinggir pantai yang nyaman. Ombak mengalun tenang, pasir tampak bersih, sebersih biru langit yang dihiasi sesaput putih awan. Namun, bila kita perhatikan lagi, tiang-tiang itu adalah pohon-pohon kelapa yang patah. Tak satu pun patahan atau batang daunnya yang masih sanggup bergelayut pada pokok pohon. Sedangkan di pasir itu, serabut-serabut akarnya tampak serentak mengarah ke darat, seperti berpegangan pada bumi dari tarikan yang begitu hebat. Melihat foto karya Maha Eka Swasta ini, kita segera membayangkan betapa dahsyatnya kekuatan yang menghasilkan pemandangan semacam ini. Ketenangan, rasa sepi dan kosong yang indah itu begitu tampak mengerikan.
Manusia di tengah bencana yang digambarkan dalam buku ini adalah semangatnya dalam bertahan dan meneruskan hidup. Kedahsyatan tragedi ini memang membuat bahasa kata sering kali gagal mendeskripsikan. Dalam tragedi, kita sering merasa salah dalam berkata-kata (sebagaimana dibuktikan oleh puisi Membaca Tanda-Tanda dari Taufiq Ismail, yang masih bersuka dengan "berpuluh, beratus, beribu mayat bergelimpangan"). Namun, bahasa gambar yang ditampilkan foto-foto ketujuh belas fotografer itu dalam masing-masing kualitasnya berada dalam kerangka penggambaran citra-citra yang penuh semangat tanpa iba. Bahkan tangis pun adalah air mata kebahagiaan ketika dua saudara bertemu kembali (Jefry Aries, hlm. 79). Bocah 4 tahun Desila, yang kehilangan separuh kaki kirinya (Donang Wahyu, hlm. 84), dihadirkan terbaring ditemani boneka-bonekanya dengan sorot penuh harap bahwa hidup masih bisa diteruskan.
Sedangkan rangkaian hitam-putih karya Arief Sunarya, Oscar Motuloh, dan M. Iqbal, di bagian akhir buku ini, kita akan merasakan usaha mereka yang sia-sia mencari tanda-tanda kehidupan di tengah kehancuran itu. Bumi Aceh tampak seperti bermetamorfosis ke dalam bentuk barunya. Segalanya kembali menjadi debu. Saujana kota yang mereka hadirkan benar-benar membebaskan pandang mata, semua rata dengan tanah. Satu-dua tiang bersembulan seolah menjadi pancang nisan kehidupan yang baru lewat. Dengan menampilkan ruang hidup yang hancur ini, dengan rasa hormat, mereka bercerita tentang kehancuran manusia-manusianya, tanpa harus secara verbal menampilkannya. Kekosongan yang mereka hadirkan, dengan demikian, tetap membahanakan kehidupan. Sebab, kita yang melihatnya tiba-tiba merasa sebagai para survivor.
Alex Supartono Pengajar fotografi IKJ dan redaktur jurnal KALAM
