• Home
  • 14 Februari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 14 Februari 2005

    Antibiotik Made in Indonesia

    Sudah hampir sebulan Nike, 29 tahun, merasakan batuk disertai radang di tenggorokannya tidak kunjung sembuh. Obat antibiotik dari resep dokter spesialis yang didatanginya pun sudah habis ditenggak menurut anjuran, tetapi toh peradangan yang menyiksanya itu tak pula mereda. Mungkinkah penyakit langganannya itu sudah kebal dan resep yang biasa didapatnya sudah tidak ampuh lagi? Yati H. Istiantoro, spesialis farmakologi klinik dari Fakultas Kedokteran UI, memberikan jawaban: sangat mungkin.

    Setiap kuman, apakah itu virus ataupun bakteri, memiliki kemampuan mekanisme yang ujung-ujungnya menjadikannya resisten terhadap obat-obatan. "Makin banyak variasi antibiotik yang digunakan, kuman itu bisa menjadi multiple drug resistance, akhirnya apa yang ada (antibiotik) menjadi sulit," ujar Yati.

    Akhir-akhir ini, menurut Yati, para ahli infeksi dunia semakin rajin berkumpul untuk menelurkan turunan (strain) baru antibiotik yang bentuk atau struktur kimianya berbeda, agar dapat mengatasi kuman yang resisten. "Kita seakan terus berlomba terhadap kemampuan mekanisme kuman melahirkan daya resistensinya," kata dia. Tetapi upaya agar dapat menang dalam perlombaan mensyaratkan proses pengembangan dan pengujian, seperti harus ada penemuan sumber baru?apakah itu melalui rekayasa genetik ataupun sumber baru di alam?mengujinya di laboratorium, eksperimen dengan hewan, sebelum akhirnya dapat digunakan manusia.

    Penemuan sumber alternatif di alam dari antibiotik yang telah ada itulah yang dalam dua tahun terakhir ini sedang digeluti sejumlah peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI di Cibinong, Jawa Barat. Mereka yang di lapangan dipimpin oleh Dr Puspita Lisdiyanti, 37 tahun, itu mencoba mencari spesies bakteri Actinomycetes baru di dalam tanah Indonesia. Cita-citanya, meski belum sampai memproduksi antibiotik sendiri, obat-obatan yang mungkin dihasilkan nantinya akan menyandang label made in Indonesia. Sangat menjanjikan karena selama ini sekitar 60 persen bahan aktif antibiotik diproduksi dari mikroorganisme pemberi bau tanah ini.

    Sejauh ini dari 1.200 isolat bakteri Actinomycetes yang dapat dikumpulkan dari beberapa kebun raya di Tanah Air, 970 telah pasti dipesan oleh dua perusahaan farmasi Jepang, Kyowa Hakko dan Chu Gai. Kontrak sewa selama setahun senilai 1.000 yen (sekitar Rp 8,8 juta) setiap isolatnya telah ditandatangani. Karena sejak penelitian, pengumpulan, serta identifikasi isolat didukung sepenuhnya secara teknis oleh pemerintah Jepang, keuntungan akan dibagi dua sama rata.

    Selain nilai sewa, Lilis?sapaan Puspita Lisdiyanti?menambahkan bahwa akan ada juga nilai royalti yang dinikmati apabila terdapat bahan aktif yang dihasilkan untuk menjadi sebuah obat baru. "Dan bila terjadi hit dari penjualan obat itu, kita masih akan mendapat uang paten," kata Lilis.

    Penelitian memang memasang target mendapatkan Actinomycetes jenis ja-rang, yang selama ini belum diketahui dan belum dimanfaatkan sebagai bahan baku antibiotik. Untuk tujuan itu, teknik isolasi yang digunakannya pun bukan yang umum. Teknik sentrifugasi tergolong baru, yang memungkinkan peneliti mendeteksi dan memanen spora bakteri yang mampu "berenang". Selama ini Actinomycetes yang banyak digunakan sebagai bahan baku antibiotik adalah yang didapati mengendap di dasar sampel, biasanya jenis Streptomyces.

    Lilis dan kawan-kawan boleh bangga karena dari 1.200 isolat itu hampir 25 persennya sudah diketahui jenis baru, meski tahap kesimpulannya secara penampakan atau morfologi. "Kita optimistis, jenis baru itu akan memiliki metabolisme baru serta menghasilkan bahan aktif yang juga baru," kata wanita yang memilih meninggalkan kuliah kedokteran di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1987, dan sekolah ke Jepang untuk mengejar semua gelar akademisnya saat ini di bidang mikrobiologi terapan. Karena pernah tinggal di negeri itu selama tujuh setengah tahun, ibu dua anak ini dipercaya pemerintah Jepang sebagai perantara dalam program penelitian bersama yang sedang berjalan.

    Berdasarkan kerangka program itu pula, verifikasi secara taksonomi hingga ke level spesies akan dilakukan di Jepang. Sambil menunggu perjanjian proyek pertama seusai 2006, pengumpulan isolat pun masih diteruskan. Tahun ini mengincar tanah alkali (basa) di kebun raya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan juga di Sulawesi Selatan. "Diharapkan kita mendapatkan lebih banyak Actino-mycetes lagi yang aneh-aneh di sana," kata peneliti yang belum lama ini juga berhasil menemukan lima spesies dan satu genus baru bakteri asam asetat asli Indonesia ini.

    Profesor mikrobiologi dari IPB, Latifah K. Darusman, mengatakan bahwa penelitian untuk menggali potensi bakteri Actinomycetes di Indonesia sebenarnya bukan baru kali ini dilakukan. Penggalian skala besar pernah dilakukan pada 1998, buah kerja sama antara Pusat Riset Bioteknologi ITB dan pemerintah Korea Selatan. Saat itu fokusnya pada jenis Streptomyces, tapi sayang belum sampai ke arah komersialisasi. "Kita sudah melakukan screening, tetapi bahan aktifnya ternyata masih belum lebih baik dari yang sudah ada di pasar," kata Latifah.

    Karena pengalaman itulah, Latifah mengingatkan, temuan spesies baru belum dapat diharapkan menghasilkan bahan aktif baru untuk menjadi antibiotik baru. Meski tentu saja, peluang itu ada.

    Wuragil


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Pancang Kenangan

JI di Mata Indonesianis Kultural

Catatan Pinggir

Bekuganjang

Indonesiana

Indonesiana

Layar

Tanjidor di Bulan Syawal

Demi Seni, Demi Dapur

Pengiring Dansa dan Kematian

Seni Rupa

Keindahan pada Sebuah Kursi

TEMPO|interaktif

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif