Gadis muda itu tergolek pucat diranjang. Di lengan kirinya menancap jarum selang infus. Di sisi pembaringan, ibu dan beberapa kerabatnya cemas menemani. "Dia masuk ke sini sejak tengah malam tadi," kata Andri, kakak Liana, nama sang pasien, kepada Tempo Kamis pekan lalu.
Liana menempati kamar 2 Ruang Cempaka III Rumah Sakit Pelni Petamburan, Jakarta Barat. Kamar kelas tiga seukuran separuh lapangan badminton itu berisi tujuh tempat tidur. Cukup sesak. Untungnya, hawa segar masih mengalir dari pendingin ruangan. Tiap ranjang dipisah kain hijau. Pelajar kelas I SMA itu menempati ranjang paling ujung dari arah pintu masuk.
Andri bercerita adiknya dibawa ke rumah sakit setelah empat hari terjangkit demam tinggi dan kondisinya tak kunjung membaik. "Sudah dikerok karena dikira masuk angin, tapi panasnya tak turun juga," ujarnya.
Setelah diperiksa di rumah sakit barulah ketahuan trombosit alias sel darah merah sang adik tinggal 135 ribu. Bahkan Kamis itu trombosit Liana turun lagi menjadi 100 ribu. Padahal, normalnya, jumlah trombosit di tubuh manusia 150 ribu hingga 450 ribu.
Untuk merawat Liana, pihak keluarga telah mengeluarkan Rp 750 ribu. Uang tersebut digunakan untuk membayar ka-mar rumah sakit selama 10 hari. "Belum tahu untuk biaya perawatan, obat, dan lain-lainnya," kata Andri lagi.
Warga Gang Kober, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan itu mengaku tak tahu persis adanya pengobatan gratis bagi penderita demam berdarah. Ia memang mendengar di televisi, Presiden mengatakan hal itu. "Tapi tak tahu siapa yang berhak," katanya.
Di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur, Melda, gadis sebaya Liana, juga terbujur lantaran terserang virus demam berdarah. Warga Cipinang Pulo, Jakarta Timur, itu sudah tiga hari tergolek di Ruang Dahlia, sebuah kamar perawatan kelas tiga di rumah sakit tersebut.
Untuk melakukan pemeriksaan darah, keluarga Melda telah mengeluarkan Rp 43 ribu. Biaya lain untuk obat, infus, perawat, dan laboratorium belum dibayar. "Kami tak punya uang," kata Amat, seorang kerabat Melda. Dia tak tahu ada pengobatan gratis bagi pasien demam berdarah.
Wahyudin dan Eka adalah kisah sedih yang lain tentang wabah massal demam berdarah. Pasangan muda yang tinggal di Bogor ini begitu khawatir ketika mengetahui Faizal, putra kesayangannya, terjangkit virus mematikan tersebut. Pemeriksaan di laboratorium menunjukkan trombosit di tubuh Faizal menyusut tinggal 30 ribu.
Orang tua malang itu langsung melarikan anaknya ke RS PMI Bogor. Apa hendak dikata, ruang perawatan kelas tiga sudah penuh. Wahyudin pun terpaksa merawat anaknya di Ruang Aster, kamar kelas dua yang tarifnya Rp 160 ribu per hari. "Saya tak lagi memikirkan berapa biaya yang harus saya tanggung, yang penting anak saya selamat," ujarnya saat ditemui Tempo.
Selama Faizal dirawat, Wahyudin harus menebus pelbagai obat. Mulai dari yang berharga Rp 18 ribu sampai yang harganya Rp 93 ribu. Baru lima hari, ia mengaku sudah kehabisan uang untuk membeli obat, sehingga harus berutang ke kerabat.
Wahyudin mengungkapkan ingin memindahkan anaknya ke kamar kelas tiga. Namun ia mendapat jawaban, kamar murah yang diinginkannya masih terisi penuh. Maka kini tak ada yang diinginkannya kecuali mengharap keringanan pembayaran. Tak putus asa ia mencari tahu cara untuk mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Bogor. "Kalaupun harus membayar semua biaya perawatan, saya pasrah," kata Eka, sang istri.
Pasangan Wahyudin-Eka berbagi nasib dengan Supardi-Walwati. Lantaran kamar kelas tiga sudah penuh, Muhaimin, anak tercintanya yang mengidap demam berdarah, terpaksa dirawat di ruang kelas dua rumah sakit yang sama.
Selama itu pula mereka harus menebus resep obat senilai Rp 30 ribu sampai Rp 150 ribu dari kantong sendiri. Belum lagi infus dan perlengkapan lain seharga Rp 300 ribu. "Semuanya saya beli langsung, tidak gratis," kata Walwati.
Ibu muda itu mengaku tak yakin pemerintah mau menanggung biaya pengobatan anaknya. "Masalah biaya, biar suami saya saja yang mikirin," ujarnya pasrah.
Nasib lebih baik dialami Andi, warga Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Berbekal surat pengantar dari dokter puskesmas Jatinegara yang menerangkan ia terkena demam berdarah, Andi langsung mendapat perawatan di RS Budhi Asih, Jakarta Timur. Tak ada bekal lain yang ia bawa, termasuk surat keterangan keluarga miskin.
Toh, Andi bisa menikmati perawatan sonder membayar. "Kalau demam berdarah gratis, itu saja," katanya sambil melahap sepotong roti dengan tangan kiri, sementara lengan kanan terkulai di atas kasur tertusuk jarum infus. Berdasar informasi dari perawat dan dokter, Andi tahu fasilitas gratis itu mencakup semua yang disediakan rumah sakit, mulai dari obat, dokter, sampai penginapan.
Setelah lima hari dirawat, Andi mengaku kondisi kesehatannya makin baik. Dan ia ingin pulang. Namun dokter yang menangani belum memberikan izin. "Mudah-mudahan saja besok, saya sudah tak betah," katanya enteng.
Di bangsal anak-anak, wajah Nurul Huda juga mulai berseri. Siswa kelas tiga SD Pancoran, Jakarta Selatan, ini sudah lima hari dirawat di RS Budhi Asih. Selang infus masih tertancap di lengan kanannya. Bajunya agak lusuh dengan kancing bawah terbuka memperlihatkan sebagian perutnya.
Selama terbaring sakit, Nurul selalu didampingi Mak O'oy Komala, neneknya yang khusus datang dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Seperti Andi, Huda juga mendapat perawatan cepat dan gratis kendati tak menggunakan kartu keluarga miskin.
Ketika datang Jumat dua pekan lalu, Hamid, sang kakek, hanya perlu 15 menit untuk mengurus tetek-bengek administrasi. Selanjutnya Nurul Huda langsung masuk ruang perawatan. "Saya tak dimintai biaya pengobatan," kata Hamid senang.
Dokter, perawat, dan petugas kesehatan lain yang merawat sang cucu pun dinilainya cukup simpatik. Sehari tiga kali Nurul Huda mendapat jatah makan. "Hanya minuman yang kami beli sendiri," ujar Mak O'oy sambil menunjuk botol air mineral dan Pocari Sweat yang berderet di meja dekat pembaringan.
Begitulah, kendati pemerintah telah memaklumatkan adanya pelayanan gratis bagi korban demam berdarah dengue, masih banyak orang yang belum mengetahuinya. Padahal selebaran dan stiker telah disebar sejak 1 Februari lalu. Hal ini diakui oleh Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan, Dr Sriastuti Suparmanto. "Memang perlu waktu untuk sosialisasi," ujarnya.
Pemerintah tak punya banyak waktu karena wabah sudah berada di depan mata. Rendahnya kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang nyamuk membuat rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti tak pernah bisa diputus. Apalagi di tengah musim hujan seperti sekarang. Tahun ini jumlah warga yang terjangkit demam berdarah sudah melebihi 5.000 orang. Dan korban meninggal tercatat 113 orang. Gawatnya situasi membuat beberapa provinsi dinyatakan sebagai daerah kejadian luar biasa.
Layanan gratis sebenarnya bisa mengurangi munculnya korban jiwa yang lebih banyak. Hanya, menurut Sriastuti, hal ini untuk sementara belum menjadi tanggung jawab Departemen Kesehatan. "Dana kami kecil sekali," ujarnya. Jadi, tiap provinsi diminta menangani dulu secara langsung. Jika mereka sudah tak sanggup, barulah Departemen Kesehatan mengambil alih.
Di Jakarta, pemerintah daerah cukup tanggap menangani wabah demam berdarah. Ketika menerima pasien, petugas rumah sakit tak lagi melihat isi dompet pasien, pemilikan kartu keluarga miskin, atau keterangan lain. "Jika dicurigai mengidap demam berdarah, pasien langsung dirawat secara gratis," ujar Dr Salimar dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.
Apa saja layanan yang gratis? "Semua," kata Salimar. Sebut saja ongkos rawat inap, pengobatan, dan berbagai tes. Bahkan, jika perlu, biaya di unit perawatan intensif. Untuk melayani pasien miskin, Pemerintah DKI Jakarta telah menyediakan dana Rp 100 miliar, yang diambil dari anggaran jaring pengaman kesehatan keluarga miskin dan bencana.
Tercatat ada 17 rumah sakit umum daerah, rumah sakit pemerintah, dan rumah sakit TNI/Polri di Jakarta yang melayani rawat gratis reaksi cepat. Kendati begitu, ada pula sejumlah rumah sakit swasta yang tetap meminta pasien menunjukkan kartu keluarga miskin atau surat keterangan dari lingkungan tempat tinggalnya untuk memperoleh layanan gratis.
Untuk pasien yang sudah telanjur membayar, tapi belakangan bisa menunjukkan kartu keluarga miskin, pihak rumah sakit akan mengembalikan uang bersangkutan. Hal itu, misalnya, ditegaskan Udin, petugas RS Fatmawati, Jakarta Selatan.
RS Fatmawati, juga beberapa rumah sakit lain seperti RS Koja di Jakarta Utara, bahkan menerima pasien yang tak memiliki KTP Jakarta. Asal saja ia memiliki KTP dari daerah lain. "Yang penting masih berlaku," ujar Udin kepada Suliyanti Pakpahan dari Tempo.
Pelayanan sonder bayar baru sirna jika pasien memilih tinggal di kelas satu. Di kelas itu, pasien diperlakukan sama dengan penderita penyakit biasa. "Biayanya sama," ujar Mince, petugas di RS Budhi Asih.
Nugroho Dewanto, Utami Widowati, Muchamad Nafi, Deffan Purnama (Bogor)
Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti, penyebar penyakit demam berdarah:
Cara menangani penderita
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
