• Home
  • 14 Februari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 14 Februari 2005

    Pengiring Dansa dan Kematian

    Repertoar barat dari alat musik Eropa diperdengarkan. Ditingkahi oleh gerakan tari tandak dua sejoli. Budak wanita dan tamu tuan tanah. Penampilan pemain musik memakai kostum setengah militer dan ikat kepala. Mereka juga para budak, namun penyajian musik Eropa benar-benar baik.

    Pesta ini terjadi di Gedong Panjang, daerah Citrap (baca: Citeureup), 1817. Di kediaman Mayor Jantje, nama panggilan Augustijn Michiels. Pria keturunan Portugis yang menjadi tuan tanah Klapanoenggal dan Citeureup, 33 km dari Batavia, ibu kota Hindia Belanda.

    Ia pencinta pesta. Selalu ingin menyenangkan tamu. Musik Eropa, musik Tionghoa, iringan suling, dan perangkat gamelan selalu berkumandang setiap malam. Para budak pribumi, serdadu dari Portugis, Arab, dan Madagaskar selalu dilibatkan dalam masyarakat kolonial Hindia Belanda, terutama dalam menghibur para majikan dan mengambil hati para tamu.

    Cerita itu merupakan bagian dari kisah nyata dalam fiksi De zwaluwen van Klapanoenggal karya Johan Fabricius, penulis Belanda. Karya yang diterjemahkan sebagai Burung Burung Walet KlapaNoenggal dan diterbitkan oleh Pustaka Azet, Jakarta, 1986.

    Di dalam fiksi ini ikut berdampingan makalah ilmiah karya Mona Lohanda M.Phil, seorang ahli sejarah dan pengajar ilmu sejarah di Universitas Indonesia yang mengulas asal-usul tanjidor, salah satu musik rakyat tradisional Betawi yang punya sejarah panjang. Dimulai ketika para budak di zaman Indo Belanda, di kalangan para tuan tanah diberikan mandat memainkan alat musik Eropa dan repertoar barat. Namanya konser atau orkes budak. Yang biasa menggunakan alat musik tiup dan pukul seperti klarinet, trompet Prancis, tambur, drum, bas, dan lain-lain.

    Namun, menurut Remy Silado, tanjidor muncul pada masa pendudukan Prancis di Belanda. Zaman Batavse Republik, ketika Napoleon berhasil mengalahkan Eropa. Semua negeri jajahan Belanda otomatis jatuh di tangan Prancis. Tidak hanya politik, pengaruh musik juga didominasi yang berkuasa. Musik Prancis saat itu quardrille. Musik dengan ketukan 6/8 ini dimainkan dengan cara tiup. Biasanya diperdengarkan untuk mengiringi dansa noni dan tuan, atau untuk mengiringi orang meninggal untuk dibawa ke pemakaman.

    Belakangan, musik ini diajarkan kepada para budak di Batavia, dan menjadi warisan setelah Prancis hengkang dari tanah Batavia. Tradisi pengalihan musik ini mirip sejarah asal-usul musik tiup dalam komunitas para budak kulit hitam yang melahirkan musik jazz di New Orleans, AS.

    Kata tanjidor itu ditulis tanjidur dalam Kamus Bahasa Indonesia Mohamad Zein yang diperbaiki Yus Badudu. Asal katanya dari bahasa Belanda, tiende, artinya kesepuluh. Dalam musik, arti disesuaikan menjadi tiendeduur, pukulan kesepuluh. Warisan ini diterima dengan sepenuh hati, dengan embel-embel perlakuan supranatural. Alat musik dianggap benda keramat. "Setiap tanjidor memainkan 10 lagu langsung mandi air bunga. Seperti memperlakukan keris," kata Remy sambil terbahak. Para budak belian zaman dulu memang miskin ilmu dan penafsiran mereka selalu dihubungkan dengan alam gaib dan mengukur benda berusia ratusan tahun memiliki kesaktian.

    "Tapi mereka yakin, makin sember, makin bagus. Kita sakit telinga mendengar. Malah makin syur," tutur Remy sembari terkekeh. Namun, di satu sisi, lagu yang terdengar pekak di telinga itu malah dibilang seru dan unik. Alat musik barat tapi dengan repertoar dan pemusik sangat lokal.

    Tradisi menganggap alat musik tanjidor punya "isi" masih berlanjut sampai 1980, "Ketika saya melakukan penelitian kesenian tanjidor di Pasar Rebo," kata Remy, yang terlibat dalam konservasi kebudayaan betawi sejak zaman Gubernur Ali Sadikin dan berakhir di era Gubernur Suprapto sebagai koordinator konser musik betawi.

    Mona menulis, repertoar tanjidor merupakan hasil perkawinan antara lagu betawi asli (kromongan), laras Mandalungan, lagu zaman Belanda yang merupakan lagu mars (mares Merin, dari kata Marine, mares Duelmus, dari kata Wilhelmus) dan walsa (lagu musik dansa) serta lagu Melayu modern yang dikenal sebagai irama dangdut.

    Menurut Remy, mandalungan merupakan nama halus istilah karawitan sunda untuk laras Mandarin atau Cina. Nadanya bukan urut seperti do-re-mi-fa-sol, tapi do-re-sol-la dan makin meninggi. Musik dengan nada diatonis ini disebut kromatik. Juga mencakup nada pentatonis dengan adanya nada slendro atau nada slang metiau Cina. "Semua lagu Betawi ada laras mandalungan seperti dalam lagu Jali-jali dan Keroncong Kemayoran yang juga dapat pengaruh dari Portugis; dari pentatonis Cina. Tanjidor juga memainkan laras Melayu seperti dalam lagu Cente Manis."

    Tanjidor juga mampu memainkan lagu pop 1980-an seperti Madu dan Racun. Repertoar walsa, yang disebut was oleh masyarakat Betawi itu, kini tinggal kenangan, karena para pemain musik tempo dulu hanya menghafal di luar kepala dan hanya mengandalkan rasa, pendengaran serta penafsiran musik sendiri. "Jangan harap ada yang paham teks musik," kata Remy.

    Yang jadi masalah, generasi muda tak tertarik meneruskan musik warisan ini. Apalagi anak muda Jakarta kebanyakan pendatang baru dengan asal budaya etnis berbeda. "Bertahan semata-mata dianggap sebagai bagian tradisi betawi saja, " kata Remy, yang berpendapat pelestarian dan pengembangannya jangan sampai merusak selera musik banyak orang. Masih menurut Remy, "Mendengar tanjidor, kuping kita seperti Mahatma Gandhi. Harus sabar."

    Yahya Andi Saputra dari Badan Pemberdayaan Budaya Betawi menyebutkan, tanjidor sama seperti semua seni tradisional betawi, memiliki kedudukan sama untuk dilestarikan seperti gambang kromong, rebana, ondel-ondel dan lain-lain. Tanjidor mulai masuk pembinaan sejak awal di Lembaga Kebudayaan Betawi yang berdiri pada 1977. "Tanjidor masih bisa diselamatkan. Dari sanggar yang kami bina, generasi lama menurunkan kebiasaan main musik ini kepada anak-anaknya," katanya.

    Kegiatan ini lebih banyak untuk mengamen. Sesekali diundang acara resmi pemerintah daerah DKI Jaya atau untuk acara seperti perayaan di hotel dan lain-lain. Kostum pemusiknya dibenahi, juga pemeliharaan alat-alat yang kabarnya mendapat dana dari pemerintah daerah.

    Tanjidor sesekali mengisi acara pesta pernikahan orang betawi, namun tidak hanya mempertontonkan tanjidor. Melainkan melebur dengan kesenian betawi lainnya. Mona berpendapat, tanjidor asli kurang dikenal; biasanya digabungkan dengan orkes, menjadi jikres, tanji dan orkes. Lalu ada jinong, tanji dan pertunjukan musik lenong, serta tanji dan topeng betawi. Daerah-daerah yang masih memiliki segelintir pemusik tanjidor antara lain Pekayon, Kampung Makasar, Pasar Rebo, Jagakarsa, Tangerang, dan Puri Indah.

    Akankah tanjidor berakhir menjadi "musik kuburan" dalam arti sebenarnya. Seperti kisah mayor Jantje? Begitu meninggal para budak pemusiknya bagai anak ayam kehilangan induk. Tidak diketahui siapa majikan baru, tempat para pemusik mengabdikan bakat musiknya.

    "Untuk terakhir kalinya korps musik bermain untuk dia, tidak sebagai pada malam menghibur yang gembira, tapi dalam suatu upacara pemakaman sedih, suatu ucapan selamat jalan yang juga menandai akhir dari orang Mardijk terkenal yang terakhir dalam sejarah Hindia Belanda."

    Evieta Fadjar


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Pancang Kenangan

JI di Mata Indonesianis Kultural

Catatan Pinggir

Bekuganjang

Indonesiana

Indonesiana

Layar

Tanjidor di Bulan Syawal

Demi Seni, Demi Dapur

Pengiring Dansa dan Kematian

Seni Rupa

Keindahan pada Sebuah Kursi

TEMPO|interaktif

Gerrard : Capello Tak Percaya Saya Jadi Kapten

Nasional

Rachland: Klaim Ruhut-Sutan Obrolan Warung Kopi  

Inforial

Megawati Beri Apresiasi Peringatan 1 Juni  

MPR RI

Inforial

Kongres dan Pemerintah AS Menolak Kemerdekaan Papua

DPR RI

Inforial

JCG Management Competency Assessment

JAKARTA CONSULTING GROUP

Inforial

Memperkenalkan Jajaran Manajemen Baru

Telkomsel

Inforial

Sambut Liburan dengan Fasilitas Menarik

Aston Marina Jakarta

Inforial

Kepedulian Tim Hijau di Balekambang

Best Western Premier Hotel Solo

Inforial

Serunya Memasak dan Menembak

Aston Primera Pasteur

Inforial

Kumpul Bersama Peduli Kanker

Hotel grandkemang Jakarta

Teknologi

Pelaku E-commerce Berharap Transaksi PayPal  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif