• Home
  • 14 Februari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 14 Februari 2005

    Keindahan pada Sebuah Kursi

    Anda ingin menikmati keindahan sebuah kursi atau pada bungkus makanan? Datanglah ke Erasmus Huis, Jakarta. Karena pusat kebudayaan Belanda itu, hingga 25 Februari nanti, sedang asyik memamerkan pelbagai bentuk "keindahan" yang terserak di berbagai benda pakai sehari-hari.

    Selain kursi dan bungkus makanan tadi, dalam pameran yang diprakarsai Pusat Desain Nasional, Badan Pengembangan Ekspor Nasional, bekerja sama dengan Erasmus Huis itu, ditampilkan pula 40 rancangan benda pakai sehari-hari (desain produk) yang dinilai memiliki "keindahan" yang baik oleh Indonesia Good Design Selection (IGDS).

    "Kami menggolongkan produk-produk itu ke dalam 15 kategori seleksi," ujar Irvan Noe'man, satu dari 12 juri IGDS 2004. Penggolongan itu meliputi perlengkapan hiburan audio-video, perabot kantor, perabot rumah tangga, elemen interior, alas kaki, tas, kemasan makanan, dan perhiasan.

    Lihat saja, misalnya, perangkat audio karya perancang Slamet Raharjo, yang diproduksi Polytron. Selain bentukya yang simpel, menghindari sudut-sudut lancip yang secara psikologis kurang bersahabat, warnanya pun tak terlalu me riah. Hanya ada sebidang merah tua sebagai aksen di antara warna metalik?yang memang sedang menjadi simbol zaman baru kini. Tapi lebih dari itu, "keindahan" itu muncul bukan lantaran nilai kecantikan rupa semata, namun gabungan yang menyatu antara nilai fungsi, efisiensi dan efektivitas bahan, inovasi dan artistik.

    Lain lagi dengan karya Yos S. dan Leonard Theosabrata. Kursi rancangan bapak dan anak ini agaknya mencuri perhatian para juri dibanding kategori sejenis lainnya. Keberanian memilih bahan sungguh memikat. Leonard memadukan bahan plastik, karet, dan baja secara kompak. Bahan plastik dan karet dipilih agar kursi itu lentur, mengikuti ke mana arah tubuh. Sedangkan unsur minimalis tecermin dalam pemilihan warna. Hanya putih dan hitam yang dipilih yang membalut rangka metal.

    Gagasan untuk merancang kursi yang kemudian diberi judul Accupunto Arm Chair ini sudah bertengger di benak Yos S. Theosabrata tiga tahun silam. Sepulang anaknya, Leonard, dari Art Center College of Design, Pasadena, Amerika, mulailah ide itu direalisasi bersama. Accupunto Arm Chair terpilih sebagai desain terbaik 2004 untuk kategori furnitur rumahan. Ia menyisihkan sebelas unggulan yang lolos seleksi IGDS.

    Menurut Irvan, dalam memilih produk berdesain terbaik untuk masing-masing kategori, para juri menilainya dari berbagai aspek, di antaranya aspek fungsi, inovasi, ergonomi, dan estetis. Accupunto Arm Chair, misalnya. Selain memiliki fungsi utama sebagai tempat duduk, juga mempunyai kebaruan inovasi. Bahan-bahan yang dipergunakannya?baja, plastik, dan karet?merepresentasikan kemajuan teknologi. Dari aspek ergonomi, kursi itu juga sangat baik. Perancangnya mempertimbangkan betul segi kenyamanan dan kesehatan sebagai tempat duduk.

    Begitu pula dengan Floor Lamp-Seagrass. Produk elemen interior karya desainer Nikky Almon Hamzah itu dianggap membawa unsur kebaruan. Memadukan rotan dengan besi, karya ini merupakan perkawinan antara unsur modern dan tradisional. Struktur transparan berbahan kulit kayu rotan berwarna cokelat tua, ditopang empat tiang besi yang kokoh, selain menjadikan lampu ini terlihat anggun di sudut ruangan. Pancaran sinarnya telah di-perhitungkan hingga tidak mengganggu penglihatan mata.

    Beberapa aspek penilaian tadi memang telah menjadi acuan sejak pemilihan produk berdesain terbaik digelar pada 2001. Pemilihan desain terbaik sebagai acara tahunan ini diniatkan untuk memacu kreativitas para perancang, sekaligus diharapkan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya desain produk.

    Hingga kini, masih banyak yang melihat desain hanya sebagai produk estetis. Seorang perancang cuma dianggap tukang kosmetik. Padahal, nilai estetis dari sebuah desain, baik itu desain produk atau desain industri, grafis, dan tekstil, memiliki acuan yang berbeda dengan karya seni , seperti lukisan, patung, dan lainnya. "Keindahan" pada desain dapat dikatakan hadir jika unsur-unsur fungsi, perhitungan efisiensi, inovasi, efektivitas, dan kenyamanan menjadi faktor utama pada sebuah produk.

    "Bukankah desain bisa menjadi sebuah solusi karena berangkat dari keterbatasan?" kata dosen desain Universitas Paramadina, Jakarta, itu. "Desain juga berperan menggerakkan perekonomian negara."

    Irvan mencontohkan industri karoseri mobil yang marak pada dekade 1980-an. Saat itu, puluhan pabrik di Jawa Tengah dan Timur mampu memproduksi karesori 1.000 mobil setiap bulan. Industri berbasis desain itu telah membuat perekonomian berdenyut. Ratusan bahkan ribuan tenaga kerja terserap. Sayang, industri itu mati suri di penghujung 1988 gara-gara kebijakan pemerintah waktu itu membolehkan completely built-up bagi otomotif impor. Akibatnya, industri karoseri lokal megap-megap.

    Agus Sachari melontarkan hal senada. Di mata pengajar Departemen Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB, itu, untuk merumuskan kembali arah kebijakan dan strategi desain nasional, tak cukup hanya berhenti di ruang-ruang seminar. Harus ada itikad politis dan budaya dari semua pihak, khususnya pemerintah.

    Yang terang, menurut Agus, apa pun upaya mengangkat desain nasional, seperti Pameran Indonesia Design, patut dihormati. Tapi, tanpa strategi terarah, katanya, "Upaya itu hanya akan menjadi pergelaran yang kurang bermakna."

    Nurdin Kalim, Evieta Fadjar


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Pancang Kenangan

JI di Mata Indonesianis Kultural

Catatan Pinggir

Bekuganjang

Indonesiana

Indonesiana

Layar

Tanjidor di Bulan Syawal

Demi Seni, Demi Dapur

Pengiring Dansa dan Kematian

Seni Rupa

Keindahan pada Sebuah Kursi

TEMPO|interaktif

Olahraga

Wawancara CEO Inter: Kami Sekarang Lebih Siap

Gerrard: Capello Tak Percaya Saya Jadi Kapten

Nasional

Rachland: Klaim Ruhut-Sutan Obrolan Warung Kopi  

Inforial

Megawati Beri Apresiasi Peringatan 1 Juni  

MPR RI

Inforial

Kongres dan Pemerintah AS Menolak Kemerdekaan Papua

DPR RI

Inforial

JCG Management Competency Assessment

JAKARTA CONSULTING GROUP

Inforial

Memperkenalkan Jajaran Manajemen Baru

Telkomsel

Inforial

Sambut Liburan dengan Fasilitas Menarik

Aston Marina Jakarta

Inforial

Kepedulian Tim Hijau di Balekambang

Best Western Premier Hotel Solo

Inforial

Serunya Memasak dan Menembak

Aston Primera Pasteur

Inforial

Kumpul Bersama Peduli Kanker

Hotel grandkemang Jakarta
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif