• Home
  • 14 Februari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 14 Februari 2005
    Mayjen (Purn.) Syamsir Siregar:

    De-Hendro-isasi? Saya dan Hendropriyono Biasa Saja...

    PATUNG pendekar telik sandi yang telah berdiri angker puluhan tahun di depan pintu masuk markas Badan Intelijen Negara (BIN) di Pejaten Timur, Jakarta Selatan, sudah digusur dari tempatnya. Sejak setahun lalu patung si pendekar sudah diganti dengan patung Soekarno-Hatta yang lebih ramah. Tapi tetap saja aura seram terasa di markas dengan pagar kawat tinggi itu.

    Kesan seram itu "warisan" Orde Baru. Kantor itu di masa lalu menyimpan sejumlah perkara yang luput dari pengawasan publik. Di era keterbukaan ini, ada tuntutan agar sisi "gelap" dunia intelijen itu dikurangi. Presiden Yudhoyono ketika melantik Mayjen (Purn.) Syamsir Siregar, 8 Desember 2004, berharap pejabat baru ini memperbaiki kinerja BIN. Intel Indonesia di masa depan, dalam bayangan Presiden Yudhoyono, adalah kumpulan orang swasta yang pintar dan tajam analisisnya. Selama ini "intel Melayu" sering digambarkan sebagai sosok berkacamata hitam, berjas panjang dengan kerah diangkat tinggi, sering bertindak konyol, dan bekerja mengendap-endap dalam "kegelapan".

    Tentu tak mudah mengubah pandangan masyarakat ini. Tapi Syamsir Siregar tetap harus mengupayakan perubahan itu. Ia punya bekal pengalaman cukup: pernah menjabat Kepala Badan Intelijen ABRI. Perubahan itu dimulainya dari dalam. Dua bulan menjabat, Syamsir menyeret Kepala Staf Harian Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal) Brigjen Polisi (Purn.) Zyaeri dan anak buahnya ke Markas Besar Polri. Orang-orang dalam BIN itu dituduh membuat uang dan cukai palsu.

    Selanjutnya, Syamsir menciutkan jumlah eselon satu BIN. Beberapa deputi dan direktur yang diangkat oleh Letjen (Purn.) Hendropriyono sebagai Kepala BIN lama dimutasi. Sejumlah nama baru yang dikenal sebagai anggota tim sukses Presiden Yudhoyono selama pemilu presiden akan masuk ke Pejaten Timur. Maka, muncullah isu bahwa Syamsir tengah melakukan "de-Hendro-isasi". Syamsir menangkis tuduhan itu. "Saya biasa saja dengan Hendro," katanya.

    Apa saja yang akan dilakukan Syamsir untuk mempermak wajah BIN dan 1.400 orang anggotanya? Kamis pekan lalu, wartawan Tempo Hanibal W.Y. Wijayanta, Widiarsi Agustina, Y. Tommy Aryanto, serta fotografer Bernard Chaniago menemui lelaki kelahiran Pematang Siantar, 23 Oktober 1941, itu di kantornya. Ia didampingi Deputi II/Dalam Negeri, Manunggal Maladi, dan Deputi IV/Pengamanan, Irjen Pol. J. Wahyu Saronto. Selama dua jam, Syamsir menjawab semua pertanyaan Tempo diselingi guyon dan gelak tawa. Berikut petikannya.


    Apa yang Anda lakukan setelah dilantik sebagai Kepala BIN?

    Seperti yang dikumandangkan SBY, tugas aparatur negara antara lain memberantas KKN. BIN juga harus independen, tidak berpihak kepada partai atau golongan. BIN bertugas untuk kepentingan negara dan bertanggung jawab kepada presiden selaku kepala negara. Anggota BIN harus nonpartisan, tidak berpihak kepada partai mana pun, orang profesional. Artinya, bukan hanya pintar, bukan hanya mampu. Kalau pintar tapi suka nyolong, itu enggak profesional.

    Anda menangkap Kepala Staf Harian Botasupal, Brigjen Zyaeri, karena kasus uang palsu? Bagaimana masalahnya?

    Sebelum institusi ini bertindak ke luar, saya harus menertibkan dulu yang di dalam, dari disiplin, mekanisme kerja, sampai apa yang dikerjakan. Saya cek dan saya melihat ini ada hal yang aneh. Kebetulan tertangkap oleh saya karena ada barang bukti yang layak. Kami usut. Ternyata ada anggota dan orang luar yang ikut dalam perbuatan melanggar atau tidak sesuai dengan petunjuk pimpinan. Selain barang bukti, pelakunya kami ketahui. Lalu kami serahkan kepada polisi.

    Pencetakan uang palsu itu dilakukan di kantor BIN di Jalan Madiun 34. Jangan-jangan ini operasi rahasia BIN?

    Di Botasupal, saya ketua dan Pak Zyaeri ketua harian. Dia memakai teknik bekerja, orang yang pernah memalsukan uang ia pakai. Tentu pelaku ini punya jaringan yang belum terbongkar. Tapi dia buat uang palsu untuk mencari jaringan atau untuk kepentingan diri sendiri dan anggota-anggota yang terlibat? Ternyata, di samping (mencetak) uang palsu, mereka juga mencetak pita cukai yang sempat diedarkan di Jawa Tengah. Seharusnya dia lapor pimpinan.

    Benarkah di masa Hendropriyono menjadi Kepala BIN tidak ada laporan kegiatan itu?

    Tidak ada. Kejadian ini terjadi sejak beberapa bulan sebelum Pak Hendro serah-terima jabatan. Mungkin karena tidak pernah ada laporan, terjadilah penyelewengan tugas.

    Apakah Zyaeri pernah Anda panggil?

    Anak buahnya saya panggil. Anak buahnya mengaku atas perintah dia. Kemudian kami serahkan kasus ini ke polisi untuk diusut. Saya yakin, dalam masalah-masalah begini, pasti ada sindikat di luar. Kami minta polisi meneruskan penyidikan.

    Mengapa Anda tidak memanggil Zyaeri secara langsung?

    Lho, nanti dulu. Kalau dia tidak mengaku, saya susah. Maka, kita cari dari bawah dulu. Ini ada teknik-tekniknya. Akhirnya dia mengaku.

    Ada rumor BIN sengaja mencetak uang palsu untuk operasi pemilu di masa itu?

    Tidak sampai sejauh itu. Pak Hendro tidak sebodoh itu. Saya tanya dia, "Ndro, ini gimana?" Dia bilang, "Abang sikat saja itu. Aku dibodoh-bodohinya. Aku enggak pernah tahu kalau dia (Zyaeri) begitu." Kalau ada apa-apa, pasti dia tidak akan bilang begitu. Jadi, tak ada hubungan antara masalah uang palsu dan politik. Tak ada hubungannya dengan Pak Hendro.

    Kabarnya kasus Zyaeri Anda munculkan sebagai langkah awal de-Hendro-isasi?

    Bohong. Jangan dengar isu itu. Kami adalah aparat yang harus membersihkan masalah-masalah ini. Aparat intelijen harus bersih. Syukur kalau departemen lain berani bertindak kepada anak buahnya seperti saya. Kita mau membersihkan KKN. De-Hendro-isasi? Ah, tak benar (sambil menepiskan tangan?Red). Saya dan Hendro biasa saja.

    Zyaeri bukan pejabat rendah. Bagaimana kalau di pengadilan dia membongkar berbagai masalah rahasia?

    Saya berani menyerahkan kasus ini ke polisi demi kebaikan organisasi. Tidak ada pikiran lain. Kalau tidak saya tertibkan, ketika saya memimpin kasus begini terjadi lagi, saya yang susah. Kami memang sengaja menertibkan masalah ini.

    Konon kasus ini dipicu masalah pribadi karena perselisihan Anda sebagai Komisaris PT Aria Multi Graphia dengan Zyaeri soal perpanjangan izin perusahaan?

    Di Bandung dulu saya memang pernah menjadi presiden komisaris di sana, tapi sekarang sudah keluar. Tapi tidak ada perselisihan itu. Itu hanya dikarang-karang.

    Hendropriyono adalah anggota PDI Perjuangan. Kini Anda membawa misi Presiden Yudhoyono. Bagaimana menghindarkan BIN dari pertentangan kepentingan politik ini?

    Itu soal pribadi Pak Hendro. Institusi itu tidak bisa dibawa begitu. Dan orang-orang ini (sambil menunjuk kedua deputinya?Red) juga tahu.

    Tapi orang tahu bahwa Anda dulu koordinator Tim Sekoci di tim sukses SBY.?

    Ketika itu saya bukan pejabat. Saya orang sipil yang punya hak. Saya merasa calon presiden ini yang cocok di hati saya, ya, saya bantu.

    Apakah tidak akan terjadi bias saat Anda memimpin BIN?

    Insya Allah tidak. Tugas saya memberikan saran. Mau diterima Presiden silakan, tidak juga tak masalah. Saya mau dipakai hari ini silakan, besok tidak lagi, ya, silakan. Saya nothing to lose saja.

    Soal pembunuhan aktivis Munir. Kami mendengar bahwa izin senjata Pollycarpus (salah seorang yang kenal Munir dan ada dalam pesawat terbang ketika Munir meninggal) dikeluarkan oleh BIN?

    Saya pernah dengar isu-isu itu, dan saya sudah cek semua. Saya pribadi mengecek sampai ke gudang senjata, ke administrasi, tapi tidak ada yang mengarah ke sana. Semua sudah kami serahkan ke polisi. Tak usah kalian omong, begitu mendengar saya langsung cek.

    Kabarnya ada perubahan administrasi pencatatan pengeluaran senjata di BIN setelah kasus pembunuhan Munir itu?

    Pokoknya, setelah saya masuk, sudah saya cek semua. Termasuk yang tadi itu. Saya cek senjata yang keluar itu kepada siapa saja. Tak ada yang mengarah.

    Dalam wawancara dengan Tempo, Presiden mengatakan sudah meminta BIN menyelidiki kasus ini secara tuntas.

    Ya. Sebelum Presiden omong pun saya sudah cek.

    Pollycarpus itu sebenarnya siapa? Benarkah dia agen BIN atau orang yang digalang BIN?

    Sampai saat ini dia bukan agen kami. Saya juga belum mendapat berita bahwa dia digalang atau dimainkan. Saya sudah cek semua anggota. Mungkin saja anggota ini kenal si A, si B. Itu bisa. Tapi bahwa secara institusi dia digalang, itu tidak (benar).

    Tapi, benarkah Polly pernah ke sini beberapa kali?

    Selama saya menjabat, belum pernah.

    (Wahyu Saronto menjelaskan bahwa dalam sistem BIN dikenal istilah agent angler, orang yang membina agen. Agent angler ini yang harus dicari untuk memastikan seseorang itu agen atau bukan agen. Agen itu tidak bisa muncul-muncul sendiri.)

    Menurut sumber kami, Polly dibina di bawah salah satu deputi?

    Saya sudah tanya. Tak ada semua itu. Saya sudah cek, termasuk soal administrasi sampai buku tamu. Saya juga tidak mau dibohongi orang-orang ini (sambil menunjuk kedua deputinya?Red).

    Benarkah akan ada restrukturisasi atau penyegaran personel di BIN?

    Ya, karena ada perpindahan, maka ada pergantian. Orang macam Zyaeri perlu diganti.

    Ada rencana pengangkatan deputi baru? Pemekaran?

    Malah akan saya ciutkan. Deputi dikurangi dari tujuh menjadi lima atau enam.

    Mengapa diciutkan?

    Ada bidang yang perlu disatukan. Ini untuk efisiensi. Kalau terlalu banyak orang, kerjanya cuma angop (menguap) dan kukur-kukur (garuk-garuk), repot juga.

    Kami dengar mitra Anda di tim sukses SBY, bekas Wakil Kepala BIA Mayjen Achdari, akan masuk BIN. Benarkah?

    Kayaknya belum. (Syamsir tersenyum.) Masih ada Pak As'ad, wakil saya. Keseimbangan bekas tentara dan sipil harus dijaga.

    Akan ada sejumlah mutasi?

    Benar. Salah satu deputi akan menjadi duta besar di Nigeria, membawahkan tujuh negara. Ada yang dari luar negeri akan kami tarik. Mungkin dari sini ada yang keluar.

    Beberapa nama yang akan masuk konon anggota tim sukses SBY, termasuk mantan Deputi II/Menteri Koordinator Politik Keamanan Mayjen M. Yassin?

    Sampai saat ini belum. Di sini yang digeser cuma beberapa orang. Saya tak mau menarik tentara saja, nanti dibilang BAIS hidup lagi. BIN adalah campuran sipil, bekas polisi, bekas tentara. Deputi yang masuk juga harus aktif seperti Pak Wahyu, bukan pensiunan, kecuali Kepala BIN yang pensiunan. (Syamsir tertawa.)

    Setelah sekian lama pensiun lalu kembali ke dunia intelijen, bagaimana rasanya?

    Terpaksa putar otak lagi. Teman-teman lama dihubungi lagi.

    Berapa anggaran BIN?

    (Manunggal Maladi menyebut angka Rp 280 miliar, belum termasuk gaji.)

    Berapa pun anggaran yang diberikan negara, kami terima. Kalau memaksa-maksa, bisa sulit. Jadi, berapa yang disetujui DPR, kami terima.

    Gaji anggota BIN daerah per bulan berapa?

    (Manunggal menjawab gaji tergantung golongan, dari IA sampai IVE. Tentang dana operasi, tergantung wilayah. Di Jawa, besarnya Rp 1 juta per bulan per anggota. Di luar Jawa Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta. Wahyu Saronto menambahkan, di luar itu, di wilayah yang terkena beban operasi, ada tambahan dana buat anggota?Red.)

    Jumlah ini setelah saya tambah.

    Kabarnya ada yang punya inisiatif pribadi menggalang dana sehingga bisa bekerja.?

    Kadang-kadang begitu. Dia punya teman, ada yang bantu. Pengusaha di daerah juga bisa diterima partisipasinya. Bisa saja dia lapor ini dan itu kemudian gubernurnya membantu.

    Gaji Kepala BIN dan deputi?

    Mau tahu aja?. (Tertawa.)

    Tentu lebih besar gaji Anda sebagai Komisaris JAPFA Comfeed (perusahaan pakan ternak?Red)?

    Ya, itu pasti. (Syamsir tertawa.)

    BIN biasa bekerja sama dengan Bank Indonesia dalam pemberantasan uang palsu. Bukankah ada fee? Security printing juga memberi fee ke BIN?

    Saya kurang tahu. Sampai sekarang ini tak ada. Setahu saya, dari institusi tidak ada yang memberikan kewajiban itu. Itu pernah saya cek ke wakil saya. Sampai saat ini kami tidak pernah minta. Kalau petugas yang begitu, itu kasus perorangan saja.

    Apakah itu penyelewengan?

    Ya, penyeleweng.

    Dulu pernah dibicarakan di DPR kemungkinan BIN mendapat sekian rupiah dari pencetakan cukai untuk tambahan dana operasi. Bagaimana realisasinya?

    Kami bisa kaya itu, bukan lumayan lagi. Tapi sampai saat ini tak ada perintah begitu. Kalian bisa cek lagi ke percetakan-percetakan.

    Dua tahun lalu BIN pernah mengajukan RUU Intelijen, tapi ditunda DPR karena banyak protes. Apakah akan diajukan lagi?

    Ini sedang kami evaluasi. Setelah itu, akan kami ajukan kembali.

    Termasuk soal penangkapan?

    Kalau bisa diberikan, itu lebih bagus. Tentu dengan jangka waktu tertentu.

    Kalau masih seperti usulan yang lama, pasti akan mendapat tantangan?

    Itu kami evaluasi. Kita kasih contoh. Ada maling, rakyat saja bisa menangkap, lalu diserahkan kepada polisi. Tapi kalau (tersangka pengebom) Azahari terlihat di kampung sana, dan polisi jauh, apa kami harus menunggu polisi...?

    Memeriksa, menyidik, menahan 3 x 24 jam, bukankah itu wewenang polisi?

    Kepentingan (memeriksa) itu banyak. Misalnya ada orang yang kami cari, kebetulan orang yang diperiksa ini tahu, kami minta keterangan dari dia. Setidaknya untuk tahu keberadaan orang yang dicari.

    Tapi masyarakat takut, jangan-jangan seperti dulu?.

    Menculik? Saya mengerti.?

    Apakah intelijen tidak cukup hanya mencari dan mengumpulkan data?

    Wah, tidak sekadar itu.

    Anda termasuk anggota Tim Penilai Akhir Pejabat Negara. Bagaimana hasilnya?

    Belum selesai. Baru dimulai.

    Kapan selesai?

    Sidang baru dimulai. Saya tidak sendiri. Ada beberapa pejabat yang ikut. Kami diberi sejumlah nama. Kami teliti dalam tempo dua hari, kemudian kami kirimkan lagi. Keputusan tergantung sidang dengan Presiden sebagai ketua dan Wakil Presiden sebagai wakil ketua.


    Syamsir Siregar

    Lahir:

    • Pematang Siantar, 23 Oktober 1941

    Jabatan:

    • Kepala Badan Intelijen Negara

    Pangkat terakhir:

    • Mayor Jenderal TNI

    Karier militer:

    • Lulusan Akademi Militer Nasional, 1965
    • Komandan Batalion Infanteri 305/Kostrad
    • Komandan Batalion Infanteri 412/Kostrad
    • Asisten Intelijen Brigade Infanteri 17/Kostrad
    • Komandan Brigade Infanteri 9/Kostrad
    • Kepala Staf Divisi Infanteri I/Kostrad
    • Kepala Staf Kodam Siliwangi
    • Panglima Kodam Sriwijaya
    • Kepala Badan Intelijen ABRI

    Karier politik:

    • Koordinator "Tim Sekoci" SBY-Kalla

    Kegiatan lain:

    • Mantan Presiden Komisaris PT JAPFA Comfeed
    • Mantan Presiden Komisaris PT Aria Multi Graphia


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Pancang Kenangan

JI di Mata Indonesianis Kultural

Catatan Pinggir

Bekuganjang

Indonesiana

Indonesiana

Layar

Tanjidor di Bulan Syawal

Demi Seni, Demi Dapur

Pengiring Dansa dan Kematian

Seni Rupa

Keindahan pada Sebuah Kursi

TEMPO|interaktif

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif