• Home
  • 21 Februari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 21 Februari 2005

    Tips Kesehatan

    Ketika Anak Merasa Ditolak

    Para ibu patut berhati-hati. Sebuah penelitian menyimpulkan anak-anak yang diasuh oleh ibu yang mengalami depresi berisiko mengalami masalah perilaku. Penelitian yang dimuat dalam Archives of General Psychiatry itu melibatkan 1.116 pasangan anak kembar.

    Penelitian ini menemukan sejumlah anak yang cenderung menunjukkan perilaku antisosial seperti berbohong, mencuri, dan melakukan penyerangan fisik saat berusia tujuh tahun. Mereka ternyata hasil asuhan ibu yang mengalami depresi pasca-melahirkan.

    Seorang ibu yang mengalami depresi mungkin punya kesulitan untuk sekadar bangun pagi dan mengurus dirinya sendiri. Akibatnya, ia tak peduli pada anaknya. Sang anak akan merespons sikap ini sebagai penolakan si ibu atas kehadirannya.

    Kondisi lebih parah pada anak ditemukan bila sang ibu ternyata memiliki perilaku antisosial pula. "Temuan kami menguatkan pendapat bahwa faktor keturunan semata tak menjelaskan masalah secara menyeluruh," kata Dr Julia Kim-Cohen, yang terlibat dalam penelitian. Kabar baiknya, kata Kim-Cohen, depresi masih bisa diobati dengan pengobatan dan konseling.

    Penelitian Kim-Cohen dilakukan ketika anak-anak berusia 5 sampai 7 tahun. Ibu para anak kembar tersebut diperiksa saat anak berusia 5 tahun. Para peneliti juga mengumpulkan informasi kecenderungan antisosial orang tua, seperti catatan kejahatan, pelanggaran hukum, atau perilaku tak bertanggung jawab lain.

    Secara keseluruhan, satu dari empat ibu mengalami depresi berat ketika anaknya berusia 5 tahun. Saat mereka berusia 7 tahun, anak-anak inilah yang cenderung menunjukkan perilaku antisosial dibandingkan dengan teman mereka.

    Detektor Asam Lambung

    Penderita radang kerongkongan kini punya pilihan baru untuk mengetahui kadar penyakitnya. Enam bulan lalu, untuk mendeteksi keasaman lambung di kerongkongan masih diperlukan selang. Tapi sekarang telah ditemukan alat baru berbentuk kapsul berukuran kecil.

    Penggunaan alat tersebut sangat sederhana. Cukup dipasang di kerongkongan bawah, alat itu akan memberikan sinyal listrik ke monitor. Dalam waktu 24-48 jam hasilnya sudah keluar. Kita bisa mengetahui paparan asam lambung yang ada.

    Alat buatan Amerika itu bernama Bravo dan sudah mendapat izin dari Food and Drug Administration (FDA). Di Indonesia, RS Cipto Mangunkusumo, sebagai rumah sakit pusat rujukan, berkesempatan pertama menerapkannya.

    Selain untuk pelayanan, menurut dr Ari Fahrial, spesialis penyakit dalam di RSCM, alat ini juga akan dikembangkan untuk penelitian seberapa besar pasien yang menderita penyakit itu. Dalam penelitian yang dilakukannya pada 1997-2002, dari 1.800 endoskopi pasien rata-rata sekitar 15 persen mengalami penyakit radang kerongkongan.

    Pada tahun pertama penelitian, pasien yang menderita radang kerongkongan hanya 8 persen. Tapi, lima tahun berselang telah meningkat menjadi 20 persen. "Peningkatan yang fantastis," kata Ari. Penyakit yang dikenal dengan istilah GERD ini memiliki gejala panas di dada, asam naik, mulut pahit, nyeri ulu hati, mual, kembung, cepat kenyang, batuk yang tidak sembuh-sembuh.

    Semula, pasien yang menderita gejala tersebut menyangka mereka mengidap penyakit jantung atau paru-paru. Tapi, setelah diperiksa, tidak ada penyakit di dua organ itu. Ternyata mereka menderita radang kerongkongan.

    Jika tak segera ditanggulangi, radang kerongkongan bisa mengakibatkan radang kronis. Akibatnya, penderita akan sulit makan lantaran terjadi penyempitan saluran makanan. Kemungkinan lebih buruk bisa terjadi. "Kalau paparan asam terus terjadi di kerongkongan bawah, itu bisa mengakibatkan kanker," kata Ari.

    Sayangi Hati, Minumlah Kopi

    Ini kabar gembira bagi para pecandu kopi. Tak cuma mendatangkan kehangatan dan kenikmatan, kopi ternyata bisa mencegah hampir semua jenis kanker hati. Temuan itu didapat tim peneliti yang dipimpin Monami Inoue dari Pusat Kanker Nasional di Tokyo, Jepang. Tim peneliti menduga kandungan antioksidan dalam kopi yang cukup tinggi menjadi penyebab sel kanker hati tak bisa berkembang.

    Penelitian Inoe sendiri melibatkan lebih dari 90 ribu penduduk Jepang. Hasilnya, mereka yang minum kopi setiap hari, atau hampir tiap hari, berisiko lebih kecil terkena kanker hati ketimbang mereka yang tak pernah minum kopi. Persisnya, risikonya hanya setengah. Efek perlindungan muncul pada mereka yang minum kopi satu hingga dua cangkir sehari. Dan terus meningkat pada mereka yang minum tiga hingga empat cangkir sehari.

    Sebelumnya, penelitian terhadap hewan telah membuktikan adanya hubungan antara kopi dan kanker hati. Kemudian Inoue meneliti selama 10 tahun untuk membuktikan kopi bisa pula digunakan untuk mencegah kanker hati pada manusia.

    Mereka yang tak pernah atau hampir tak pernah minum kopi berisiko terkena kanker hati dengan rasio 547,2 kasus per 100 ribu orang. Namun, mereka yang minum kopi tiap hari berisiko lebih kecil terkena kanker hati dengan rasio 214,6 per 100 ribu orang.

    (Reuters/AP)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Sang Gadis Pemburu Senja

Catatan Pinggir

Al-Ghazali

Fotografi

Dari Kengerian yang Santun

Seni Rupa

Sayap-sayap Lie Fhung

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Bens Leo: Lady Gaga Tak Bakal Tampil Erotis

Olahraga

Krisis Keuangan Persibo Bojonegoro Masih Berlanjut

Olahraga

Wawancara CEO Inter: Kami Sekarang Lebih Siap

Gerrard: Capello Tak Percaya Saya Jadi Kapten

Nasional

Rachland: Klaim Ruhut-Sutan Obrolan Warung Kopi  

Inforial

Megawati Beri Apresiasi Peringatan 1 Juni  

MPR RI

Inforial

Kongres dan Pemerintah AS Menolak Kemerdekaan Papua

DPR RI

Inforial

JCG Management Competency Assessment

JAKARTA CONSULTING GROUP

Inforial

Memperkenalkan Jajaran Manajemen Baru

Telkomsel

Inforial

Sambut Liburan dengan Fasilitas Menarik

Aston Marina Jakarta

Inforial

Kepedulian Tim Hijau di Balekambang

Best Western Premier Hotel Solo
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif