• Home
  • 21 Februari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 21 Februari 2005

    Lintas Internasional

    Thailand Thaksin Disambut Tiga Bom

    TIGA ledakan bom menyambut kedatangan Perdana Menteri Thaksin Sinawatra di Thailand Selatan, pekan lalu. Bom meledak beberapa jam sebelum ia mengunjungi Provinsi Narathiwat, Yala, dan Pattani untuk meninjau proses pemulihan stabilitas wilayah konflik dan berdialog dengan para petinggi muslim dan Buddha lokal. Bom pertama meledak di pasar Distrik Rangae Narathiwat, kedua di kawasan Ruso Narathiwat, dan yang ketiga di kampus Universitas Rajabhat Yala. "Tak ada korban tewas," kata Superintenden Watcharin Ammarapitak. Tapi tiga anggota polisi dan tiga warga setempat cedera.

    Menurut radio BBC London, ledakan itu disengaja untuk mengingatkan Thaksin soal kebijakan penempatan resimen khusus di tubuh militer Thailand, yang berjumlah 12 ribu orang. Saat itu memang juga bertepatan dengan rencana pengesahan resimen tersebut. Padahal petinggi muslim lokal telah mengingatkan bahwa penambahan jumlah pasukan militer di wilayah konflik justru akan jadi bumerang. Ditambahkan, pemerintah terkesan tak bersahabat dengan warga muslim.

    Amerika Serikat Dua Wartawan Terancam Penjara

    BAGAI dicekoki buah simalakama, Judith Miller dan Mathew Cooper diharuskan memilih dua opsi yang sama pahitnya. Apakah mengungkapkan identitas sumber berita seperti diinginkan pengadilan tingkat banding di Distrik Columbia, atau bungkam dan terancam masuk penjara. Sebagai wartawan—masing-masing dari New York Time dan majalah Time— kredibilitas Miller, 57 tahun, dan Cooper, 42 tahun, memang diukur dari komitmen menutup rapat sumber rahasianya.

    Pengadilan banding itu menganggap Miller dan Cooper melanggar Undang-Undang Perlindungan Identitas Agen Rahasia. Soalnya, mereka membuat laporan dengan membocorkan identitas Valerie Plame dari sumber di pemerintahan Bush. Isinya, Plame sebenarnya agen lapangan Dinas Rahasia Amerika, CIA. Ketiga hakim banding menyatakan, dalam kasus tersebut, amandemen pertama konstitusi AS menjamin kebebasan hak bersuara warga Amerika tidak berlaku untuk wartawan yang menyembunyikan informasi hasil sebuah penyelidikan kriminal.

    Nama Plame sendiri muncul beberapa pekan setelah pada Juni 2003 suaminya, mantan duta khusus Joseph C. Wilson IV, mengkritik pemerintah George W. Bush. Wilson, yang sempat dimintai CIA menyelidiki rencana Irak membeli uranium dari Nigeria, menuding Bush telah membesar-besarkan bukti yang tidak signifikan sebagai pembenar penyerbuan ke Irak.

    Irak Bom Bunuh Diri di Masjid Syiah

    SASARAN bom bunuh diri di Irak bukan monopoli markas tentara Amerika. Pekan lalu dua masjid milik kaum Syiah di Bagdad juga dihajar bom. Serangan pertama menimpa masjid di Distrik Doura, disusul di masjid Syiah lain di wilayah itu. Akibatnya, kata polisi Irak, sedikitnya 18 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Akibat lebih jauh, perbatasan Irak ditutup sementara.

    Menurut petugas polisi, saat serangan terjadi, warga Syiah Irak sedang merayakan hari Asyura di masjid-masjid itu. "Bom dibawa pelaku di Masjid Kazimain di Abu Dish dekat Doura," kata polisi. Hari Asyura adalah salah satu hari suci kaum Syiah untuk memperingati syahidnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.

    Pihak keamanan Irak sendiri telah meningkatkan pengamanan selama perayaan Asyura. Tujuannya untuk menjaga jangan sampai terulang kembali serangan bom seperti pada tahun lalu, yang menelan 181 korban jiwa. Namun, upaya itu gagal.

    Amerika Serikat Negroponte Memimpin Badan Intelijen AS

    PRESIDEN Amerika Serikat, George Walker Bush, akhirnya mengumumkan John Dimitri Negroponte sebagai Kepala Badan Intelijen Amerika Serikat. Di antara tugas-tugas yang harus dijalankan adalah, "Merekrut petugas intelijen baru dan memastikan pertukaran informasi berlangsung antara agen," kata Bush dalam sambutannya. Termasuk di dalamnya, mengawasi dan mengkoordinasikan ribuan agen mata-mata, termasuk membawahkan Direktur CIA.

    Banyak analis menyebut Negroponte dipilih karena kedekatannya dengan Presiden Bush. "Misi utamanya adalah 'menjinakkan' dan menyatukan 15 biro intelijen yang tidak jelas administrasinya sejak undang-undang tentang intelijen dibuat pada 1947," begitu analisis Robin Wright dari Washington Post. Tidak hanya itu, Negroponte juga bertanggung jawab atas anggaran tahunan untuk intelijen nasional. Tahun lalu, anggaran intelijen sekitar US$ 40 miliar (sekitar Rp 360 triliun).

    Dilahirkan di London, 21 Juli 1939, ayah lima anak itu lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri sebagai diplomat. Sebelum menjabat kepala intelijen, Negroponte adalah Duta Besar AS di Irak. Jabatan duta besar pernah disandangnya di PBB, Filipina, dan Honduras. Alumni Universitas Yale itu tidak pernah berkecimpung di dunia intelijen.

    Iran Masjid Terbakar, 59 Jiwa Melayang

    "JAGO merah" tiba-tiba mengamuk di tengah padatnya jemaah sedang menjalankan salat. Sebanyak 59 orang tewas dan 210 lainnya luka-luka dalam kebakaran di Masjid Tua Ark di Teheran pada pekan lalu. Kebakaran ini terjadi tepat beberapa hari sebelum perayaan besar muslim Syiah, Asyura—perayaan memperingati kematian Husain, cucu Nabi Muhammad, di padang Karbala pada 680 Masehi. "Api berasal dari bagian wanita, kemudian menyebar ke bagian pria," kata Mortezza Talaie, Kepala Kepolisian Teheran.

    Melihat lokasi asal api, kebakaran diduga berasal dari alat pemanas yang dibawa ke dalam masjid. Alat penghangat ruangan dari sengatan hawa dingin itu terbakar, lalu api menjilati tenda pembatas antara jemaah pria dan perempuan. Suasana menjadi panik saat jemaah berebut keluar hingga jatuh bertindihan. Sebagian besar kekurangan oksigen karena asap tebal.

    Cina Tambang Meledak, 203 Orang Tewas

    LEDAKAN gas di tambang batu bara di Kota Fuxin, Provinsi Liaoning, Cina timur laut, menewaskan 203 pekerja pekan lalu. Kejadian ini juga mencederai 28 pekerja tambang dan memerangkap 13 korban. Menurut kantor berita Xinhua, ledakan gas di kedalaman 242 meter bawah tanah ini adalah bencana terburuk di negeri itu dalam 15 tahun terakhir. "Kami tak pernah melihat kecelakaan sebesar ini sebelumnya," kata pejabat Biro Pengawasan Keamanan Tambang Batu Bara Fuxin yang minta namanya disimpan.

    Sekitar 10 menit sebelum kejadian, para pekerja sudah merasakan gempa dahsyat. Menurut Wakil Manajer Tambang Zhang Yunfu, detektor gas tiba-tiba kehilangan sinyal dan satu lorong utama tambang penuh asap. Padahal separuh dari total 574 pekerja sedang di dalam tambang. Perdana Menteri Wen Jiabao buru-buru memerintahkan pejabatnya menyelamatkan korban. Gubernur Liaoning, Zhang Wenyue, bahkan membatalkan libur tahun barunya untuk mengawasi evakuasi. Sebanyak 180 anggota tim penyelamat diterjunkan. Tercatat, bencana tambang terburuk di Cina pernah terjadi pada 26 April 1942 di Honkeiko, yang menewaskan 1.572 orang.

    Inggris Lenyapnya 30 Kilogram Plutonium

    SEJUMLAH plutonium—salah satu unsur dalam proses berantai nuklir—dikabarkan lenyap dari catatan Pusat Tenaga Listrik Sellafield, London, Inggris. Menurut harian The Times, sebuah laporan tahunan yang segera terbit akan memperlihatkan sedikitnya 30 kg plutonium "hilang" dari catatan selama 2004. Jumlah ini cukup untuk membuat tujuh bom nuklir.

    Pihak Badan Tenaga Atom Inggris (BNF) sendiri menyatakan kehilangan itu tak lebih dari semacam "kehilangan pembukuan" dalam proses akuntansi. Tahun 2003 lalu, 19 kilogram bahan tersebut juga hilang dari catatan BNF. Sangkalan yang sama juga disampaikan Departemen Industri dan Perdagangan Inggris (DTI). "Itu hanya proses akuntansi biasa," kata seorang pejabat DTI. "Audit itu tidak menunjukkan adanya kehilangan bahan tersebut." Namun, keterangan itu dianggap semata untuk meredam meluasnya ketakutan di masyarakat. Pakar nuklir Dr Frank Barnaby, yang dikutip BBC, menyebutkan memang selalu ada sejumlah kecil bahan hilang dari catatan. Tetapi, katanya, "Jumlahnya tak pernah sedramatis itu."

    EKD, JSP, DS (AFP, BBC, Reuters, Wpost)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Sang Gadis Pemburu Senja

Catatan Pinggir

Al-Ghazali

Fotografi

Dari Kengerian yang Santun

Seni Rupa

Sayap-sayap Lie Fhung

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Bens Leo: Lady Gaga Tak Bakal Tampil Erotis

Olahraga

Krisis Keuangan Persibo Bojonegoro Masih Berlanjut

Olahraga

Wawancara CEO Inter: Kami Sekarang Lebih Siap

Gerrard: Capello Tak Percaya Saya Jadi Kapten

Nasional

Rachland: Klaim Ruhut-Sutan Obrolan Warung Kopi  

Inforial

Megawati Beri Apresiasi Peringatan 1 Juni  

MPR RI

Inforial

Kongres dan Pemerintah AS Menolak Kemerdekaan Papua

DPR RI

Inforial

JCG Management Competency Assessment

JAKARTA CONSULTING GROUP

Inforial

Memperkenalkan Jajaran Manajemen Baru

Telkomsel

Inforial

Sambut Liburan dengan Fasilitas Menarik

Aston Marina Jakarta

Inforial

Kepedulian Tim Hijau di Balekambang

Best Western Premier Hotel Solo
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif