• Home
  • 21 Februari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 21 Februari 2005

    Sayap-sayap Lie Fhung

    Di dinding pemakaman para Sunan di Sendang Dhuwur, Jawa Timur, banyak relief tentang sayap. Gunung bersayap, gapura bersayap, singa bersayap, gua bersayap. Sayap dalam ragam hias candi-candi kita sesuatu yang kudus. Sayap simbol bagi pelepasan, jiwa yang merdeka dari kurungan badan. Bahkan Suluk Malang Sumirang menggunakan lambang sayap burung-burung sebagai perumpamaan hakikat.

    Ternyata sayap yang berkepak, jiwa yang membubung, bukan milik suluk semata. Ia bisa muncul dari sebuah degup dinamis metropolitan. Lihatlah sayap-sayap kecil terbuat dari porselen di CP Art Space. Mungil, sekilas seperti kupu-kupu alit yang bertaburan di udara. Sayap yang tidak ada urusannya sama sekali dengan kematian. Malah ia sebuah perayaan hidup. "Ini metafor pembebasan," tutur Lie Fhung.

    Fhung datang ke Jakarta dan berpameran setelah lama tak mengikuti keramaian dunia seni rupa kita. Sayap-sayap itu melambangkan Lie Fhung sebagai warga urban yang mengembara dari kota ke kota. Lulus dari Fakultas Keramik ITB pada 1994, ia memamerkan tugas akhir sarjananya bertema Krisis pada 1995 di Taman Ismail Marzuki. Kemudian ia bekerja sebagai perancang desain di perusahaan boneka E&J Classic Ltd. di Jakarta, yang pabriknya berbasis di Cina. Selama 1998-1999, ia bolak balik Jakarta-Shanghai-Hong Kong.

    Tahun 2000, oleh perusahaannya ia ditempatkan di Shanghai. Ia mendesain Teddy Bear, kelinci-kelinci paskah, anjing-anjing dan kucing-kucing bulu. Perusahaannya khusus memproduksi soft toys, boneka-boneka bukan plastik. "Pokoknya, boneka yang empuk-empuk," kenangnya. Produksinya dipasarkan di pertokoan besar seperti Walmart di Amerika. Pada 2001, ia ditarik di Hong Kong-sejak itu ia tinggal di sana.

    Hidup dengan mobilitas tinggi membuat dirinya bagai terbang. "Telah lama saya memikirkan sayap." Gagasan itu menggumpal terus. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya, langsung kembali ke dunia lamanya: keramik. Dan Flight, judul bagi pamerannya ini, menunjukkan refleksinya tentang betapa mudah ia berpindah-pindah kota.

    Bila kita cermati variasi idiom karya-karyanya, semuanya berkisar soal eksplorasi ketegangan antara keinginan sayap tinggal landas dan terhambat. Simak Invisible Cages. Puluhan kubus alit dari kawat digantung senar pancing. Di dalamnya terdapat sayap-sayap putih kecil, masing-masing terbelit benang, seperti tertawan. Dari puluhan kubus, ada kotak yang kosong-menandakan "sudah lepas", sementara yang lain masih terpenjara.

    Atau Self Exile, sayap-sayap kecil dalam sebuah botol gelas transparan. Sayap-sayap seolah berkepak tapi terbentur dinding. Soaring, sayap-sayap seperti kuntum-kuntum mekar di pot-pot bunga. Atau Wandering Soul, malaikat dengan sayap terputus.

    Terasa semuanya dibuat dengan perasaan sangat intim. Antara sayap satu dan lain berbeda. Masing-masing menunjukkan bahwa ia sangat suka detail. Kerut-merut badan sayap dengan banyak versi. Lie Fhung tak terikat hanya pada materi porselen atau stoneware. Ia mencoba berbagai materi. Sayap-sayapnya ada yang terbuat dari kawat kasa halus. Pemilihan "benang" untuk membelit juga beraneka ragam. Semua se-olah untuk "membayar utang", pekerjaan sebelumnya ditujukan untuk produksi massa.

    Perempuan itu, kini 35 tahun, sampai kini tak menguasai bahasa Mandarin. Menganggap dirinya bagian dari diaspora Cina, ia merasa tercerabut dari akar. Sehari-hari ia berbahasa Inggris. Apalagi suaminya adalah warga Irlandia yang mengajar filsafat di Universitas Hong Kong dan sehari-hari di rumah berbahasa Inggris. Ia merasa lebih menjadi seorang warga negara anonim. Karya-karyanya tak berusaha bertolak dari tradisi Cina setempat yang khazanah mitologinya tentu memiliki tradisi ornamentasi sayap yang kaya. "Di Hong Kong saya merasa orang luar." Justru berposisi sebagai "orang asing" itulah ia merasa lebih merdeka.

    Tinggal di apartemen, semua dikerjakannya sendiri. Ia membawa lempung ke rumah. Membentuknya sendiri, mengglasir sendiri, terus membakarnya di tungku. Bahkan untuk membuat kotak-kotak, ia tak mengorder tukang. Persentuhan langsung itu tentunya membuat karya-karyanya lebih jujur. "Sebagian kamar apartemen saya, saya bikin studio dengan perlengkapan tungku kecil," katanya.

    Sayap-sayap Lie Fung di malam hari bertaburan seperti merjan. Puluhan cahaya kecil berbinar di ruang gelap. Seolah mengembang. Seakan hendak melesat bersama. Entah dari Jakarta, Hong Kong, Shanghai, ke mana lagi....

    Seno Joko Suyono


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Sang Gadis Pemburu Senja

Catatan Pinggir

Al-Ghazali

Fotografi

Dari Kengerian yang Santun

Seni Rupa

Sayap-sayap Lie Fhung

TEMPO|interaktif

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif