Di Aceh, masa lalu tak pergi begitu saja. Lewat bidikan kameranya, fotografer Hendra Suhara mencoba mengajak melongok ke sebuah masa tatkala kehidupan sekonyong-konyong menjadi puing-puing. Sebuah masa ketika rangkaian perpisahan tak terduga itu datang begitu cepat, tergulung gelombang dahsyat yang menerjang pada penghujung tahun lalu.
Foto-foto itu hadir tak biasa. Foto yang dibuat sepanjang 12 hingga 18 Januari lalu itu, sekitar tiga pekan setelah bencana, menyuguhkan sebuah lanskap simbolis Aceh yang berduka. Foto-foto itu menampilkan sisi lain dari sekadar onggokan mayat-mayat akibat tersapu gelombang tsunami. Hendra mengakui: ia ingin menyajikan sesuatu yang pernah begitu dekat dengan pemiliknya. Sesuatu yang merepresentasikan hubungan batin. "Sesuatu yang begitu dicintai, sangat personal, dan menjadi bagian dari kesehariannya," ujarnya menjelaskan.
Lihatlah sebuah rumah di kawasan Ulee Lheu itu. Ya, di rumah yang telah porak-poranda itu, kebahagiaan sebuah keluarga terkoyak. Pemiliknya telah dipisahkan dengan rumah yang begitu dicintainya. Begitu dalam cintanya, sampai-sampai ia pun harus menorehkan "fatwa" pada dinding yang telah kusam itu: "Pemilik rumah ini masih hidup. Orang-orang yang sudah mengambil barang-barangnya adalah orang kafir!" Tersiar kabar, keluarga itu kini hijrah ke Medan, Sumatera Utara, membawa kepedihannya.
Sementara itu, di daerah Kahju, hanya sepelemparan batu dari jalan raya yang mengarah ke Krueng Raya, sebuah boneka kelinci tergolek. Boneka tanpa daya yang boleh jadi telah terempas sekian kilometer, terlepas dari pelukan hangat seorang gadis kecil yang begitu "menyayanginya". Di atas hamparan lumpur, boneka itu tampak kesepian di tengah kelengangan kawasan yang telah rata dengan tanah. Boneka yang lucu dan romantis, tapi terlihat begitu sendirian dalam lingkungan mengerikan.
Tercerai-berainya sesuatu yang pernah begitu dekat dan erat dengan pemiliknya juga tersaji dalam selembar kartu identitas yang terempas. Selembar pengenal yang begitu berarti bagi penduduk Serambi Mekah itu terjepit di antara reruntuhan. Kartu merah-putih itu tak lagi menjadi penanda eksistensi seseorang di tanah Aceh yang bergolak. Di Aceh kini, selembar identitas pun sekonyong-konyong menjadi bagian dari bebatuan berlumpur, puing-puing.
Nurdin Kalim
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

