• Home
  • 28 Februari 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
  • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 28 Februari 2005

    Dilema SBY

    Akhirnya harga bahan bakar minyak (BBM) dinaikkan, mulai 1 Maret ini. Sudah terlalu lama ditunda, karena banyak keberatan dan protes yang disuarakan sebelumnya. Setelah ini belum bisa diharap penyesalan atau ulasan pedas menentang kebijakan pemerintah akan berkurang. Sifatnya mungkin lebih politis. Pemerintah mesti siap dan tetap tekun menghadapinya.

    Pada dasarnya setiap kebijakan pemerintah bersifat politis, atau punya imbas politik. Hal itu tak dapat dielakkan dan selalu harus dijadikan perhitungan ketika membuat keputusan. Pemerintah yang baik harus jeli dan sadar mengenai ini. Populer- tidaknya suatu kebijakan, besar-kecilnya dukungan atau tentangan yang didapat, bergantung pada kemampuan pemerintah mengelola dan mengarahkan pendapat umum. Dalam soal ini pemerintah terasa agak lemah dan kurang terampil berpolitik.

    Pengertian dan kerelaan berkorban tidak datang dengan sendirinya dari masyarakat hanya karena pemerintah menganggap pertimbangannya sudah benar dan tepat, atau karena tidak ada lagi pilihan kebijakan lainnya. Kenaikan harga BBM memang tak terhindarkan, sudah jadi keniscayaan. Selama ini harga jual BBM yang dibeli masyarakat bukanlah harga sebenarnya, karena sebagian ditanggung oleh pemerintah dengan memberikan subsidi. Ketika harga minyak dunia naik, seperti sekarang, subsidi pun membengkak. Anggaran untuk subsidi ini?tahun ini diperkirakan Rp 53,4 triliun?jadi beban yang terlalu berat bagi negara.

    Menghentikan subsidi untuk BBM berarti negara berhenti membantu "membayar" sebagian harga BBM yang dipakai umum. Beban harga BBM bergeser kembali jadi tanggungan masyarakat yang membelinya. Siapa membeli, harus membayar sendiri. Harga jual BBM pun jadi naik, bukan untuk menambah keuntungan Pertamina sebagai penjual, melainkan akibat subsidi yang berkurang. Jelaslah bahwa mengurangi subsidi dan menaikkan harga jual BBM adalah dua hal yang tampaknya bisa dibedakan, tapi sebenarnya tak bisa dipisahkan.

    Namun, seberapa pun jelas persoalannya, konsumen pasti tidak akan rela begitu saja terpaksa membayar lebih mahal. Naiknya harga BBM memang tak berdiri sendiri, harga kebutuhan lainnya juga akan dipengaruhi. Kecuali minyak tanah, harga BBM naik 29 persen. Diperhitungkan bahwa subsidi akan dikurangi hingga akan menghemat anggaran Rp 13 triliun lebih. Penghematan ini masih terlalu kecil, karena mestinya tahun 2005 ini subsidi untuk energi tak perlu dianggarkan lagi. Sebab, Undang-Undang Program Pembangunan Nasional tahun 2000 sudah menetapkan bahwa subsidi energi harus jadi nol pada akhir tahun 2004.

    Pemerintah agak kurang terampil meyakinkan cukupnya alasan ekonomi maupun alasan legal untuk menghapus subsidi BBM dari anggaran belanja negara. Uang untuk membantu membayar harga BBM sebenarnya uang rakyat juga. Kalau subsidi BBM dihapus, uang hasil penghematan itu harus digunakan untuk keperluan rakyat juga.

    Sekarang pengurangan subsidi BBM diberi istilah yang lebih kena, yaitu realokasi subsidi.

    Subsidi BBM?Rp 10 triliun?dipindahkan untuk membantu rakyat miskin di bidang pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok seperti beras. Ketidakpuasan belum bisa hilang, tentu saja. Efek realokasi subsidi ini tak bisa langsung dirasakan, dan tak dinikmati secara merata. Banyak yang tak akan memperoleh kompensasi subsidi pendidikan dan kesehatan, karena tak tergolong sebagai pihak yang membutuhkannya.

    Ketidakpuasan lebih disulitkan ketika diwujudkan dalam bentuk tentangan politik. Di DPR, misalnya, Komisi Keuangan, Panitia Anggaran dan Komisi Energi secara garis besar masih menolak kebijakan menaikkan harga BBM. Alasannya, pemerintah harus lebih dulu menjamin: kompensasi benar dilaksanakan tepat sasaran untuk mengurangi kemiskinan, dampak kenaikan pada harga bahan kebutuhan pokok dikendalikan, kebocoran dan inefisiensi distribusi BBM bisa diatasi lebih dulu. Persyaratan itu masuk akal, tapi mustahil bisa dilaksanakan sebelum kenaikan harga BBM diumumkan.

    Bila syarat ini tak dipenuhi, beberapa fraksi partai politik mengancam akan memberikan sanksi politik jika harga BBM tetap dinaikkan. Beberapa partai seakan-akan ingin lepas dari tanggung jawab memberikan pengertian akan keharusan naiknya harga BBM. Sikap ini amat janggal, mengingat sebagian besar partai politik itu?seperti Partai Golkar, PPP, PKB, PAN, PKS, PBB?ikut masuk di dalam pemerintah sekarang. Semestinya, sebagai anggota "koalisi", mereka mendukung setiap kebijakan pemerintah, yang juga dicerminkan pada sikap anggotanya di DPR. Kejanggalan ini bisa disebabkan oleh inkonsistensi partai politik, atau karena kegagalan Presiden Yudhoyono menggarap partai yang masuk kabinetnya.

    Tak ada jalan tengah, atau jalan setengah-setengah, untuk penghapusan subsidi BBM ini. Jangan dilupakan, setiap kebijakan pemerintah mengandung segi politik. Maka SBY harus lebih rajin dan piawai membangun pengaruh politik di kalangan pemerintahnya sendiri.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

'Buddha Cacat' Menurut Daoed Joesoef

Catatan Pinggir

In Memoriam

Fotografi

Kedekatan yang Terberai

Seni Rupa

Benda-Benda yang Bermigrasi

TEMPO|interaktif

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif