• Home
  • 07 Maret 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 07 Maret 2005

    Indonesiana

    Tak Bikin PR, Susah Kencing

    Banyak murid di Sekolah Dasar Negeri Sitoluama, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara, tak bisa kencing dengan normal. Osman—bukan nama sebenarnya—misalnya, setiap kencing selalu meringis dan susah betul air kencingnya keluar. Warga agak heran melihatnya, apa mungkin bocah kelas dua SD ini kena penyakit kelamin? Didapat dari mana penyakit laknat itu?

    Selain Osman, ada 31 bocah lainnya yang punya penyakit serupa. Orang tua akhirnya berkumpul dan berupaya menanyakan penyebabnya. Ternyata penyakit aneh itu mengejutkan warga. Menurut Osman, ini gara-gara pak gurunya di sekolah. Setiap murid yang tak mengerjakan PR mendapat hukuman aneh. Pak guru mengikat "burung" si murid dengan karet gelang yang dirangkai panjang, lalu karet digantung di leher si murid.

    Hukuman seperti itu sudah berlangsung setahun. Bahkan ada murid yang mengaku pengalamannya lebih seru. Suatu hari, sekitar 15 siswa tak mengerjakan PR. Hukuman "mengikat burung" diberlakukan. Kali ini ada tambahannya, guru mengumpulkan 15 murid wanita untuk memelototi murid lelaki yang dihukum itu.  "Kalau menolak, kami disuruh membuka rok sambil mengelilingi sekolah," ujar seorang siswi.

    Terang saja warga marah. "Anak-anak kami bisa impoten dibuatnya," kata Wakil Kepala Badan Perwakilan Desa Sitoluama, Manuntun Pangaribuan. Lalu warga mendatangi sekolah. Mereka menggiring empat guru: Henry Simanjuntak, Nurmawanty Silalahi, Rismeri Panjaitan, dan Roslinda Tambunan, ke Polsek Laguboti, pada Minggu dua pekan lalu. Keempat guru ini diusut. "Mereka sudah mengakui perbuatannya," kata Kepala Polsek Laguboti, Inspektur Satu Gibson Siagian.

    Henry mengaku menyesali perbuatannya. "Saya siap menanggung pengobatannya dan dihukum adat," kata guru yang dikenal ramah dan senang bercanda ini. Polisi tak menahan para guru. Tapi mereka tak berani pulang ke rumahnya di Desa Sitoluama. Mereka menginap di rumah warga di sebelah kantor Polsek Laguboti. Padahal warga desa tidak lagi marah. Mereka hanya menyindirnya dengan pelesetan pepatah: "Guru naik darah, murid susah kencing".

    Kisah Maling Mabuk

    Mau tahu rasanya bir campur Intisari? Tanya pada Maman Sulaeman. "Bawaannya pengen nyolong aje," kata pria 42 tahun ini. Oh, ya, yang dimaksud Intisari adalah merek minuman keras murahan yang beredar di kampung-kampung padat.

    Maman, yang bermukim di Gang Permata Biru, Matraman, Jakarta Timur, hampir saban malam menyambangi warung milik Sunarto. Dia sering datang ke warung yang berlokasi di Gang Bunga, Matraman, ini karena dekat. "Jika ada uang, saya minum bir. Jika tidak, saya minum Intisari," katanya.

    Malam itu, duit di kantong pria yang bekerja serabutan ini antara ada dan tiada. "Jadi, minuman bir saya campur Intisari," katanya. Beberapa gelas lewat ke tenggorokan, hik, Maman pun mabuk. Bicaranya mulai ngelantur. Jalannya pun sempoyongan. Bahkan, tatkala menyusuri gang, dia belok ke rumah tetangganya. Terkunci. Dibukanya secara paksa. Eh, rupanya, meski mabuk, dia tahu ada barang berharga. Sebuah televisi diembatnya, dan kini berada dalam pelukannya.

    Maman memanggil pengojek. Dia minta diantar ke warung Sunarto. Ditawarkan televisi itu ke Sunarto seharga Rp 400 ribu. Tanpa jelas melihat wujudnya, Sunarto menawar Rp 200 ribu. Maman menggeleng. Saat tawar-menawar itu, lewat penjual martabak, Kamaluddin. "Saya lihat pintu rumahmu terbuka," kata Kamaluddin kepada Sunarto. Sunarto pun buru-buru tutup warung, langsung pulang.

    Maman sendiri ngeloyor ke kolong jembatan. Dia tidur-tidur ayam sambil memeluk televisi curiannya. Samar-samar dia melihat Sunarto menghampirinya. Dan, bak buk plak plok, Sunarto menghajar Maman. Maman tanpa perlawanan. Maklumlah, untuk jalan saja ia susah, masih mabuk. Bahkan Maman manut ketika Sunarto menyeretnya. Sunarto mengurung Maman di kamar rumahnya. Soalnya, televisi yang dicuri Maman itu miliknya. Anehnya, Maman setuju saja ketika ia dibawa ke kantor Kepolisian Sektor Matraman.

    Di sini Maman baru sadar, ternyata dia telah mencuri televisi dan bahkan menawarkan televisi itu ke pemiliknya. "Saya tak bermaksud mencuri. Saya antara sadar dan tidak," katanya. Jawaban itu tentu tak menjadi penghapus pidana. Maman dikurung dalam sel. Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Matraman, Inspektur Satu Bambang S., mengatakan perbuatan Maman bisa diancam dengan hukuman tertinggi tujuh tahun penjara. Mendengar itu, Maman bergidik. Makanya bir jangan dicampur Intisari.

    Nurlis E. Meuko, Yuswardi A. Suud (Jakarta), dan Bambang Soedjiartono (Medan)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Koordinator Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla:

Kami Tidak Membangun Mazhab

Album

Album

Buku

Sebuah Jendela bagi Pelajar

Mencicil demi Pengetahuan

Catatan Pinggir

Minyak

Indonesiana

Indonesiana

Layar

Seorang Anti-Hero Bernama Eastwood

Jika Eastwood Bertutur dengan Sederhana

Dunia Kepalan, Nyali, dan Rasa Hormat

Seni Rupa

Mendengar Para Kartunis Bicara

TEMPO|interaktif

Olahraga

Dzeko Tegaskan Bertahan di Manchester City  

Britney Spears, Juri Populer

Blanc Khawatirkan Pertahanan Prancis  

Metro

Gedung SD Negeri 15 Jakarta Barat Hangus Terbakar  

Nasional

Siswa SMA Pamekasan Bagi Nasi Bungkus kepada Tukang Becak  

Olahraga

Aguero: City Sejajar dengan Madrid dan Barca  

Seni & Hiburan

Bens Leo: Lady Gaga Tak Bakal Tampil Erotis  

Olahraga

Krisis Keuangan Persibo Bojonegoro Masih Berlanjut  

Olahraga

Wawancara CEO Inter: Kami Sekarang Lebih Siap

Gerrard: Capello Tak Percaya Saya Jadi Kapten

Nasional

Rachland: Klaim Ruhut-Sutan Obrolan Warung Kopi  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif