• Home
  • 07 Maret 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 07 Maret 2005

    Mencari Wamang di Sela Grasberg

    Antonius Wamang. Nama yang lamat-lamat sudah lepas dari ingatan publik itu kini seperti menyela perhatian. Pemilik nama ini adalah seorang pria yang dijadikan tersangka dalam kasus penembakan di Mil 62 Tembagapura, Papua, dua setengah tahun silam. Sebuah peristiwa yang gaungnya sampai ke Amerika Serikat karena menyebabkan tewasnya dua warga negara itu: Ted Burcon dan Rickey Lean Spear. Satu orang lagi yang ikut meregang nyawa adalah warga negara Indonesia bernama FX Bambang Riwanto.

    Kini Wamang dibicarakan karena dicopotnya segel program pelatihan militer internasional AS dengan Indonesia (International Military Educational and Training Program/IMET). Salah satu alasannya, Indonesia dianggap menangani dengan baik tragedi yang terjadi di punggung Pegunungan Grasberg itu.

    Penanganan peristiwa berdarah di Timika itu seperti rapor bagus bagi pemerintah Indonesia. Dan nama Wamang, yang dimunculkan sebagai tersangka, bagai polesan yang mempercantik rapor tersebut. Maklum, bersama pemunculan namanya itu sekaligus tertepis tudingan keterlibatan anggota TNI dalam peristiwa "Grasberg berdarah". Kepala Dinas Penerangan Umum Mabes TNI, Kolonel Ahmad Yani Basuki, mengatakan kasus penembakan dua warga Amerika Serikat di Timika itu sudah selesai. "Hasil investigasi TNI AD, Polri, dan FBI menyatakan tidak ada keterlibatan anggota TNI dalam kasus itu," katanya, Rabu pekan lalu.

    Apa boleh buat, nama Antonius Wamang memang terpatri bersama peristiwa berdarah di Mil 62 Tembagapura pada 31 Agustus 2002 tersebut. Namanya muncul sebagai tersangka setelah penyelidik dari FBI melakukan investigasi selama 21 bulan. Kesimpulan itu disampaikan FBI kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, akhir Juni 2004 silam. Mengutip lembaga penyelidik dari Negeri Abang Sam itu, Jenderal Tarto mengatakan Wamang adalah anggota Tentara Papua Merdeka (TPM) yang merupakan sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM).

    Dugaan keterlibatan TNI datang dari tim investigasi Polda Papua, yang dipimpin Wakil Kapolda (saat itu) Brigjen Raziman Tarigan. Dugaan itu disandarkan pada keterangan Decky Murib?seorang sipil binaan Kopassus? yang mengaku berada di sekitar tempat kejadian. Olah TKP yang dilakukan polisi pun kian memperkuat keterangan Murib. Memang, belakangan ia mencabut kesaksiannya itu di depan sidang gugatan pencemaran nama baik Pangdam XVII/Trikora vs Elsham Papua.

    Kini, dua setengah tahun sudah aksi kekerasan itu berlalu. Tetapi Wamang belum tertangkap hingga sulit diungkap benarkah dia pelakunya. Ketidakserasian temuan antara polisi dan FBI berimbas sampai sekarang. Polisi menyatakan belum bisa meringkus Wamang karena nihilnya saksi dan bukti yang mendukung sangkaan. "Bukti-bukti tidak kuat, dan saksi langsung tidak ada," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol. Aryanto Budiharjo, pekan lalu.

    Seorang perwira di Mabes Polri lebih tegas menyatakan bahwa nama Wamang tidak bisa diterima kepolisian. Dari olah TKP, diambil kesimpulan pelakunya bukan berasal dari OPM. Ia menceritakan FBI pernah mendatangi Mabes Polri usai melakukan investigasi. Saat itu FBI menyatakan pelaku penembakan adalah Wamang. "Tetapi identitas Wamang tidak disebutkan. Dia dari daerah mana, dan berada di mana, tidak disebutkan," kata sumber yang tidak bersedia disebut namanya itu. Dia kian menjadi skeptis karena nama Wamang bukanlah nama yang berasal dari suku Timika maupun Wamena.

    Sayang sekali, beberapa anggota polisi yang pasca-kejadian di Mil 62,3 ikut melakukan penyelidikan kini enggan bicara banyak. Mantan Kepala Polisi Papua, Irjen Made Mangku Pastika, misalnya, menilai hasil penyelidikan FBI yang mencuatkan nama Wamang itu tidak perlu dipertentangkan dengan hasil investigasinya. "Penyelidikan saya waktu itu baru sampai tahap olah TKP," kata Pastika, yang kini menjabat Kepala Polda Bali.

    Ada satu nama lagi yang juga terjun menyelidiki, yakni mantan Kepala Polres Mimika, AKBP Sumardjiyo, yang kini menjabat Kepala Polres Bondowoso, Jawa Timur. Dia mengaku dipindah ke posnya sekarang sebelum penyelidikannya tuntas. "Waktu itu pelaku penembakan belum jelas," katanya, pekan lalu. Keterangan ini agak berbeda dengan penjelasannya kepada Tempo pada 2003 silam. Saat itu Sumardjiyo tegas menyatakan pelaku penembakan bukan OPM. "Sejak semula penyelidikan kami tidak mengarah pada OPM," katanya (Tempo edisi 46 tanggal 19 November 2003).

    Sekarang, terungkap atau tidak peran Wamang dalam peristiwa di Mil 62,3 itu mungkin sudah tidak penting lagi?utamanya bagi Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice pekan lalu menyatakan IMET sudah pasti dibuka kembali untuk Indonesia. Dan nama Wamang mungkin hanya tinggal menjadi gema belaka di sela-sela punggung Pegunungan Grasberg.

    Tulus Wijanarko, Martha Warta, Mahbub Djunaidiy (Bondowoso), Rofiqi Hasan (Bali)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Koordinator Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla:

Kami Tidak Membangun Mazhab

Album

Album

Buku

Sebuah Jendela bagi Pelajar

Mencicil demi Pengetahuan

Catatan Pinggir

Minyak

Indonesiana

Indonesiana

Layar

Seorang Anti-Hero Bernama Eastwood

Jika Eastwood Bertutur dengan Sederhana

Dunia Kepalan, Nyali, dan Rasa Hormat

Seni Rupa

Mendengar Para Kartunis Bicara

TEMPO|interaktif

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif