• Home
  • 14 Maret 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
    • Sosok
  • Arsip
  • 14 Maret 2005

    Kulit Putih di Keraton

    Pentas itu dibuka oleh sebuah lagu pop dari grup De Pazz berjudul Something Special. Serombongan penari berlenggak-lenggok kenes dalam sebuah iring-iringan. Tubuh mereka terlihat sekali menirukan ekspresi anak-anak berdisko yang konyol dan banal.

    Tapi keriangan itu hanya seperlima waktu dari rentang 50 menit pertunjukan. Selanjutnya atmosfer diseret ke suasana temaram dan mencekam. Sebuah sosok "aneh" muncul. Ia mengenakan kerudung jubah loreng militer dengan daging mentah yang terjuntai. Dan dari sudut lain muncul sosok berkerudung merah.

    Sosok itu kemudian bertemu. Dan kemudian membawa semua penari yang tadinya girang melakukan gerak dhodhok bedayan. Berjalan dengan posisi jongkok. Sebuah ekspresi kontras terjadi. Wajah mereka semua tampak seragam, pahit tak ada keceriaan atas hadirnya sosok personal. Lalu mereka menggeliat-geliat dalam pola irama gerak lamban seakan-akan seperti bedayan.

    Bedaya tersohor karena geraknya yang mengalir lambat. Penuh energi dari dalam. Tapi, yang sering dilupakan orang adalah sesungguhnya bedaya adalah representasi dari pemitosan kalangan adiluhung Jawa tentang keindahan, kecantikan, keagungan, dan pengabdian seorang perempuan.

    Selama empat bulan koreografer Fitri Setyaningsih mengamati para penari bedaya Mangkunegaran, dan ia melihat ada pergeseran citra ideal tubuh.

    Dahulu kuning langsat adalah kulit yang diidam-idamkan oleh para penari dan kalangan elite sosial di lingkungan kebudayaan Jawa. Tapi kini para penari bedaya diharuskan berkulit putih. Kenapa kulit putih dianggap sempurna? Citra tubuh seperti apakah yang paling diidamkan oleh para penari bedaya kini?

    Hasil pengamatan personal itulah, dibarengi dengan diskusi-diskusi intensif, mengantarkannya menciptakan teater tari bertajuk Bedoyo Silikon: Daging dari Dataran Tinggi. Ia bekerja sama dengan penata artistik Afrizal Malna, M. Toha, Popo, dan Tyas Sumarah.

    Bagi sementara publik, pertunjukan ini dianggap sederhana, bahkan cenderung simplistik, kurang nuansa, terlalu polos, tidak seperti catatan-catatan prosesnya yang disajikan dalam katalog yang intelektualistik. Tapi, bagi saya, ada banyak hal yang bisa dicatat, bahwa seorang koreografer harus menyadari bahwa dirinya hanya sebagian dari peristiwa pertunjukan.

    Bahwa riset merupakan sesuatu yang mesti dilakukan oleh koreografer bersama orang lain. Pertunjukan tanpa struktur dan tanpa bentuk yang jelas, yang dirasakan hampir-hampir seperti improvisasi yang santai, malam itu justru menjadi salah satu kekuatan sajian ini.

    Para musisi yang tidak berpretensi menjadi pertunjukan tersendiri, yang selama ini sering terjadi dari kalangan musisi muda lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang terlampau percaya diri dan selalu "menunggangi" pertunjukan tari untuk kehadiran dirinya.

    Sajian ini tampak sekali terasa sebagai peristiwa bersama yang masing-masing memberikan ruang untuk kehadiran berbagai elemen dalam ruang yang diyakini sebagai tempat menyatakan sesuatu kepada publik.

    Dan di situ pula saya bisa menikmati gerak penari yang menyatakan diri tanpa pola dan seluruh suasana tanpa beban, tanpa dramatisasi masalah dan gerak tubuh yang selama ini begitu dominan di lingkungan para penari-koreografer STSI Solo.

    Halim H.D.

  • Networker Kebudayaan

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Saat Galungan Berimpit Nyepi

Album

Album

Buku

Jaring Narasi Richard Oh

Catatan Pinggir

Adil

Indonesiana

Indonesiana

Tari

Kulit Putih di Keraton

Televisi

Bingkisan Berdarah di Layar Kaca

Tayangan di Wilayah Abu-abu

TEMPO|interaktif

Cara Promotor Bangun Citra Positif Lady Gaga

Nasional

Suporter AC Milan di Kediri Selamatkan Seragam Sekolah

Gaya Hidup

Cangkok Rahim, Harapan Baru Hadirkan Buah Hati

Nasional

Siswa Coret Seragam Terancam Tak Terima Ijazah  

Nasional

Setelah Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian

Nasional

Di Balik Pengusiran Anas, Thaib Diduga Ulur Musda

Olahraga

Dzeko Tegaskan Bertahan di Manchester City  

Britney Spears, Juri Populer

Blanc Khawatirkan Pertahanan Prancis  

Metro

Gedung SD Negeri 15 Jakarta Barat Hangus Terbakar  

Nasional

Siswa SMA Pamekasan Bagi Nasi Bungkus kepada Tukang Becak  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif