• Home
  • 14 Maret 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
    • Sosok
  • Arsip
  • 14 Maret 2005

    Bingkisan Berdarah di Layar Kaca

    Amarah Rika meledak seperti petir. Ya, Alya, anak tirinya, ngotot melanggar larangannya pergi ke sekolah. Kini kamera menangkap wajahnya yang mengencang, matanya yang melotot, kemudian tangannya yang melayang. Alya (Revalina S. Temat), gadis berwajah teduh, berseragam abu-abu, ambruk ke lantai. Kamera dalam sinetron Bawang Merah Bawang Putih itu pun merekam jelas: Rika menginjak-injak kaki anak tirinya.

    Memang, kekerasan bukan menu utama Bawang Merah Bawang Putih. Cerita rakyat Jawa Tengah itu, landasan sinetron ini, punya sebuah pesan luhur: kesewenang-wenangan pasti berakhir, kemenangan ada di tangan si baik yang teraniaya. Tapi kita tahu, Rabu malam itu kamera memperlihatkan telapak kaki Rika menghantam Alya yang terkapar. Kita tahu, sebelumnya, Minggu malam, dalam Ada Apa dengan Cinta?, seseorang memukuli Rangga (Revaldo), tokoh utama sinetron itu. Alkisah, Rangga diculik dan, untuk mengorek pengakuan dari mulutnya, si penculik menyiksa. Kamera mengikuti kejadian dengan seksama: ia memukul tiada henti. Pemuda berambut keriting itu jatuh terduduk, lalu tubuhnya rebah di lantai. Rangga tetap bungkam, pukulan terus menghantam, tubuh pemuda itu melemah, kemudian tak bergerak.

    Ya, kekerasan bukan lagi sesuatu yang digambarkan dengan kiasan: diawali dengan pedang berkilat, cepat diakhiri dengan tubuh tergenang darah. Dengan kata lain, adegan di layar kaca nyaris sama persis dengan kejadian di dunia nyata. Adakah para sutradara tidak melihat cara lain kecuali "memindahkan" adegan kekerasan ke layar kaca?

    Sinetron yang kita saksikan di layar kaca adalah sebuah kerja kolektif. Produk sepanjang 20 menit per episode itu adalah hasil kerja sama?juga hasil "pertarungan"?beberapa pihak: sutradara, penulis skrip, etika, produser, pasar, bahkan kamerawan. Masing-masing berkesempatan mempengaruhi hasil akhir, tapi yang satu mungkin lebih dominan dari yang lain. Dan kita semua tahu, pasar salah satu faktor yang paling menentukan.

    Penulis skenario Ada Apa dengan Cinta?, Jujur Prananto, punya pengalaman menarik. Dan itulah yang akhirnya menelurkan adegan kekerasan di atas. Ia tak menyebut tekanan itu suatu paksaan. Jujur hanya merasa berkali-kali ia "digelitik" pihak rumah produksi, sampai akhirnya ia menyanggupi desakan itu. Di sana-sini ia menambahkan-mengurangi skenario. Hasilnya: adegan Rangga diculik, ditutup matanya, lalu dibawa ke suatu tempat. "Dalam skenario, saya menulisnya tidak detail. Jadi, skenario saya sangat terbuka untuk ditafsirkan seperti itu," kata Jujur. Dan di layar televisi, muncullah adegan Rangga diculik, dimasukkan ke sebuah ruangan, ditendang. Dia juga dipukuli hingga tubuhnya tak bertenaga. Adegan lainnya, ia duduk di kursi dengan tangan diikat di belakang. Ia ditampar, dipukul, ditendang hingga jatuh terjengkang.

    Jujur belajar. Dan sekarang ia telah berhasil menumbuhkan kebiasaan baru. "Dalam setiap naskah, saya sering kali rajin menulis catatan kaki. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu."

    Cerita penulis skenario Aris Nugraha lain lagi. Sutradara bisa meminta adegan sesuai dengan keinginannya, dan sutradara berhak menerjemahkan naskah. Tapi, "Saya kira ini tanggung jawab kita semua. Tidak hanya penulis dan sutradara. Semua pihak harus bisa membedakan mana media privat, mana media publik," ucap Aris.

    Ya, sinetron adalah kerja kolektif. Pasar, muara dari pertarungan di atas, kadang bergerak dengan kecenderungannya sendiri. Dalam sinetron Ada Apa dengan Cinta?, pasar?disempitkan menjadi rating?tampaknya berseberangan dengan penggambaran kekerasan "realistis". "Dari rating rata-rata 15-20 besar, akhirnya melorot ke urutan 45," kata Jujur. Jujur mengakui, ada yang ironis di sini. Penambahan adegan kekerasan mulanya ditujukan untuk mendongkrak rating yang mulai melorot dari 10 besar menjadi 15-20 besar. Strategi yang terbukti salah.

    Memang, Bawang Merah Bawang Putih, sinetron yang memiliki cukup banyak adegan kekerasan, menikmati popularitas tinggi. Menurut rating yang dilakukan AC Nielsen, sepanjang 2004 Bawang Merah Bawang Putih menempati posisi teratas (rating rata-rata 11,7 dengan sharing penonton 32,7). Tak melanggar batas-batas yang ditentukan LSF (Lembaga Sensor Film), sinetron ini cepat menembus pasar. "Kami menyadari ada kenyataan seperti itu. Ada fenomena, semakin kejam, semakin antagonis, rating-nya semakin tinggi," ujar Teguh Juwarno, Kepala Hubungan Masyarakat RCTI.

    Sinetron di Indonesia adalah sebuah dunia yang luas. Raam Punjabi, pemilik rumah produksi PT Tripar Multivision Plus, menyebut beberapa sinetronnya yang tak mengumbar kekerasan: Terajana, Jamilah Binti Selangit, Bule Masuk Kampung, dan Titipan Ilahi?sayang semuanya tergolong sinetron komedi, kecuali Titipan Ilahi yang punya muatan religius tinggi. Sementara itu, sutradara Garin Nugroho tak keberatan dengan adegan kekerasan, asal kekerasan itu tidak berhenti sebagai tontonan atraktif belaka.

    Apa pun, yang terang, sebuah data menyebut: anak Indonesia menonton televisi 35 jam per minggu, rata-rata 5 jam per hari (lihat, Tayangan di Wilayah Abu-abu). Kini lengkaplah, mereka bisa menyaksikan dan belajar kekerasan di jalan raya, di pasar, di terminal, dan di televisi.

    L.N. Idayanie


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Saat Galungan Berimpit Nyepi

Album

Album

Buku

Jaring Narasi Richard Oh

Catatan Pinggir

Adil

Indonesiana

Indonesiana

Tari

Kulit Putih di Keraton

Televisi

Bingkisan Berdarah di Layar Kaca

Tayangan di Wilayah Abu-abu

TEMPO|interaktif

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA

Olahraga

Babak Pertama, Novara Mampu Tahan Inter Milan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif