• Home
  • 14 Maret 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
    • Sosok
  • Arsip
  • 14 Maret 2005

    Tayangan di Wilayah Abu-abu

    Sulit dibuktikan bahwa adegan kekerasan di layar televisi itu menular kepada pemirsa. Tapi Ketua Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, Gunarto, bertahan pada penelitian Dr. Leonard Eron dan Dr. Rowell Huesmann dari University of Michigan. Penelitian itu menunjukkan: anak yang menghabiskan banyak waktu di depan televisi cenderung lebih agresif, bisa terdorong melakukan hal yang sama seperti yang dilihat di televisi. Padahal, di Indonesia, kata Gunarto, anak-anak menonton televisi 35 jam per minggu. Berarti setiap hari anak-anak menonton televisi selama lima jam

    Mengukur sebuah sinetron yang mengandung adegan kekerasan layak tayang memang tidak mudah. Teguh Juwarno, Kepala Hubungan Masyarakat RCTI, melukiskan batas kelayakan itu merupakan hasil kesepakatan berbagai pihak: rumah produksi, stasiun televisi, Lembaga Sensor Film, dan masyarakat. Sejak 14 Oktober tahun lalu, RCTI membuat sendiri sensor internal. "Memang tidak jauh berbeda dengan aturan Lembaga Sensor Film, tetapi lebih rinci," katanya. Ia memberi contoh, sebuah klip video Nafa Urbach terpaksa tidak lolos sensor, padahal Lembaga Sensor Film sudah meloloskannya.

    Sensor internal itu berisi 19 poin standar umum etika siaran. Di antaranya tentang kejahatan, kekerasan, seks bebas, sesuatu yang menimbulkan kerusakan rumah tangga, SARA, perjudian, ketamakan, keegoisan, penindasan terhadap sesama, takhayul dan kepercayaan, penampilan wadam atau waria. "Kekerasan yang tidak pada tempatnya atau berlebihan tidak diperkenankan. Program yang berisi kekerasan harus menyertakan sisi buruknya."

    Meski telah memiliki aturan tertulis secara internal, kata Teguh, RCTI selalu terbuka menerima kritik dan saran dari masyarakat. Dia memberi contoh, gara-gara protes dari masyarakat, sejak Mei lalu stasiun televisi ini telah menghapus program berbau mistis. "Kami menyadari, dampak tayangan itu tidak baik, semacam pembodohan," ujar Teguh.

    Aturan semacam juga dimiliki SCTV. Namun, tidak dibuat secara khusus. "Secara formal kami mengacu ke Lembaga Sensor Film. Tetapi, sejak ada KPI, kami juga menambahkan input dari KPI," kata Haryanto dari Bagian Humas SCTV. Aturan itu memang tidak kaku, kata Haryanto. "Kami menyadari bahwa karakter televisi berbeda dengan bioskop. Rujukan pemirsa kami jadikan yurisprudensi," ujarnya.

    Secara umum, sensor memang telah dilakukan Lembaga Sensor Film. Sayangnya, filter itu hanya berdasar tampilan fisik semata. Garin Nugroho menyebut, televisi bukan ruang hampa. Akting visual dengan kekerasan simbolis, tanpa memperhatikan dramaturgi, lebih berbahaya.

    L.N. Idayanie


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Saat Galungan Berimpit Nyepi

Album

Album

Buku

Jaring Narasi Richard Oh

Catatan Pinggir

Adil

Indonesiana

Indonesiana

Tari

Kulit Putih di Keraton

Televisi

Bingkisan Berdarah di Layar Kaca

Tayangan di Wilayah Abu-abu

TEMPO|interaktif

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif