• Home
  • 28 Maret 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
    • Sosok
  • Arsip
  • 28 Maret 2005

    Tips Kesehatan

    Lebih Murah dengan Daun Meniran

    Agar sembuh dari sakit, kini Anda tidak harus memakai obat-obat yang mahal. Cobalah menggunakan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan. Dijamin harganya jauh lebih murah. Pekan lalu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan telah memberikan sertifikasi kepada 17 obat herbal dan lima fitofarmaka. Bahan alami yang dipakai antara lain temulawak, daun meniran, daun katuk, daun jambu biji, dan ginseng.

    Ada tiga jenis obat dari bahan tumbuhan alami, yakni jamu, obat herbal, dan fitofarmaka. Untuk jenis jamu, khasiatnya didasarkan hanya pada data empiris. Uji praklinis baru dilakukan untuk kelompok obat herbal. Adapun untuk jenis fitofarmaka, persyaratannya lebih ketat lagi. ?Mereka juga harus membuktikan khasiatnya berdasarkan uji klinis,? kata Sampoerno, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan.

    Ternyata banyak bahan alami yang lolos uji klinis. Misalnya daun meniran atau Phyllanthus niruri. Daun ini berkhasiat menjaga daya tahan tubuh dan menghentikan penularan penyakit tuberkulosis (TBC). ?Obat berbahan dasar daun meniran yang disertifikasi sebagai fitofarmaka ini ternyata 80 persen bisa menghentikan penularan bakteri TBC,? ujar Sampoerno. Kelak, seperti obat biasa, penggunaan fitofarmaka juga lewat resep dokter.

    Manfaat Cokelat Hitam

    ADA kabar gembira bagi penggemar cokelat. Sebuah penelitian terbaru dari Univeristas L?Aquila di Italia menyatakan: cokelat hitam, bukan cokelat yang telah dicampur susu, dapat menstabilkan tekanan darah. Tak hanya itu, cokelat juga bisa menjaga kesehatan jantung dan meningkatkan metabolisme tubuh.

    Uji coba telah dilakukan terhadap 15 orang dengan tekanan darah rendah. Setelah makan 100 gram cokelat setiap hari selama dua pekan, mereka merasa lebih sehat. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal klinik nutrisi Amerika, Selasa pekan lalu.

    Menurut Dr Claudio Feri, salah seorang peneliti, cokelat mengandung flavonoids yang dapat membantu kesehatan jantung, menjaga tekanan darah, serta mencegah serangan jantung dan stroke. Antioksidan ini juga mampu meningkatkan metabolisme tubuh.

    Hanya, orang mesti hati-hati menerjemahkan hasil penelitian ini. Selain mengandung antioksidan, cokelat juga menyimpan lemak dan kalori. Bagi orang yang ingin menambah cokelat pada dietnya, sangat dianjurkan untuk mengurangi jumlah kalori dari makanan lain. ?Ini penting untuk menghindari bertambahnya berat badan,? kata Feri.

    Yoghurt, Si Penyegar Napas

    BAU napas yang tak sedap selalu menjadi masalah bagi banyak orang. Mereka menjadi kurang percaya diri saat berbincang-bincang dengan orang lain. Masalah ini sekarang bisa diatasi secara mudah, cukup dengan mengkonsumsi yoghurt tanpa gula. Yoghurt adalah susu yang diawetkan lewat fermentasi bakteri.

    Itulah hasil penelitian sejumlah peneliti dari Jepang yang dipresentasikan dalam forum Asosiasi Internasional Peneliti Kesehatan Gigi baru-baru ini. Ternyata yoghurt bisa mengurangi kadar hydrogen sulphide, penyebab utama bau napas. Selain itu, yoghurt juga bisa melawan pembusukan gigi dan sakit gusi, yang menjadi biang bau mulut.

    Penelitian melibatkan 24 sukarelawan. Selama dua minggu, mereka menghindari yoghurt dan makanan sejenis, seperti keju. Lalu, peneliti mengambil contoh air liur dan lapisan lidah untuk mengukur kadar hydrogen sulphide mereka. Langkah berikutnya, para sukarelawan itu diminta mengkonsumsi 90 gram yoghurt setiap hari selama sekitar satu bulan. Hasilnya? Kadar hydrogen sulphide mereka menurun, dan bau napas mereka pun menjadi lebih segar.

    Dr Nigel Carter dari Yayasan Kesehatan Gigi Inggris mengatakan, tidak diragukan lagi, yoghurt tanpa gula sebagai alternatif camilan lebih sehat dibanding permen. Meski begitu, cara terbaik melawan bau mulut dan napas tetaplah dengan menyikat gigi dengan pasta gigi ber-flouride.

    (Reuters/BBC)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Perempuan di Mimbar Jumat

Album

Album

Buku

Catatan Panjang tentang Ambon

Catatan Pinggir

Amina

Indonesiana

Indonesiana

Seni Rupa

Litani Tubuh Hijau

Yang Duduk di Atas Sampah

TEMPO|interaktif

Internasional

Pria Singapura Damba Pasangan yang Bisa Masak

Internasional

Pesawat Tanpa Awak AS Serang Afganistan

Bisnis

Bank Sentral Incar Spekulan Rupiah

Internasional

Hobi Pria Ini Kumpulkan Pakaian Bekas Artis  

Olahraga

Sagna Minta Arsenal Perpanjang Kontrak Van Persie

Nasional

3.228 Anak di Jember Susun Balok Kreatif Raih Rekor MURI

Cara Promotor Bangun Citra Positif Lady Gaga

Nasional

Suporter AC Milan di Kediri Selamatkan Seragam Sekolah

Gaya Hidup

Cangkok Rahim, Harapan Baru Hadirkan Buah Hati  

Nasional

Siswa Coret Seragam Terancam Tak Terima Ijazah  

Nasional

Setelah Corby, Australia Proses Ekstradisi Adrian

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif