Suasana hening menyelimuti SD Negeri 07 Sore Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa petang pekan lalu. Di ruang kelas tiga yang mestinya mampu menampung 30 murid, cuma terlihat 6 murid. Duduk di bangku baris depan, dekat meja guru, mereka terlihat tengah tekun belajar menggambar.
Minimnya jumlah murid juga terjadi di lima kelas lainnya. Tiap kelas praktis hanya berisi 7-8 siswa. "Sejak tiga tahun lalu sekolah kami kekurangan murid," kata Sudarso, Kepala SDN 07. Bahkan tahun ajaran lalu sekolahnya hanya menerima tiga siswa baru. Merosot drastis ketimbang tahun sebelumnya, yang masih menerima 13 siswa. Saat ini jumlah siswanya hanya 47 orang.
Berkurangnya jumlah siswa, menurut Sudarso, karena banyak orang tua yang pindah ke daerah pinggiran. Keluarga yang masih tinggal di Jakarta kebanyakan tidak punya anak kecil. "Rumah-rumah mewah di sekeliling sekolah kami dihuni oleh keluarga tua," kata Sudarso.
Minimnya jumlah murid tentu membuat kegiatan pendidikan menjadi tak efisien dan boros biaya. Idealnya, jumlah murid di satu sekolah adalah lebih dari 100 anak. Karena itu, pemerintah terpaksa menggabungkan sekolah yang jumlah siswanya menyusut.
Di Jakarta, selama tahun ajaran lalu, sudah ada sembilan sekolah yang dilikuidasi. Situasi serupa terjadi di Tangerang. Sejak tahun 2001, sedikitnya 33 SD memilih langkah merger. Penggabungan terutama dilakukan pada sekolah yang lokasinya berdekatan.
ES, Ayu Cipta
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
