• Home
  • 04 April 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Perjalanan
    • Iqra
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 04 April 2005

    Yang Dipuja di Negeri Orang

    DI Stadion Shah Alam, Selangor, gerimis tak berhenti mericik. Lapangan jadi basah, puluhan ribu penonton pun kuyup. Toh, mereka tetap setia menanti pertandingan digelar. Sempat ditunda selama 15 menit, pertandingan itu akhirnya dimulai juga. Inilah pertarungan yang mereka tunggu-tunggu: kesebelasan tuan rumah Selangor FC menghadapi tim Melaka.

    Sorak-sorai selalu riuh saat pemain Selangor menguasai bola dan mulai menusuk jantung pertahanan lawan. Maklum, hampir seluruh tribun di stadion dikuasai oleh suporter berbendera merah-kuning, bendera negeri Selangor. Dan lihatlah di salah satu sudut tribun selatan. Di sana juga berkibaran bendera merah-putih. Sebuah spanduk besar bertulisan "bonek" alias bondho nekat pun terpancang. Slogan ini biasa dipakai suporter Surabaya, Jawa Timur. Tapi Senin pekan lalu itu, mereka tidak sedang mendukung Persebaya. Para bonek di Malaysia selalu meneriakkan nama Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy yang memperkuat tim Selangor.

    Begitulah, sejak dua pemain asal Indonesia itu bergabung dengan Selangor FC, Stadion Shah Alam menjadi lebih semarak. Jumlah penonton yang biasanya di bawah 20 ribu orang kini rata-rata mencapai 25 ribu, bahkan pernah mencapai angka 50 ribu. "Karena kehadiran Bambang dan Elie, kami mendapat tambahan sekitar lima ribu penonton," ujar Dollah Salleh, pelatih Selangor FC. Mereka adalah para pekerja, pedagang, dan mahasiswa asal Indonesia yang berada di sana.

    Bambang Pamungkas, 25 tahun, dan Elie Aiboy, 26 tahun, cukup kondang di Indonesia. Bambang yang kelahiran Salatiga adalah striker andal yang terkenal dengan sundulannya. Sempat "merumput" bersama tim Divisi 3 Belanda, EHC Norad, namanya mulai mencorong setelah kembali ke Indonesia dan memperkuat tim Persija Jakarta. Dia kerap tampil di tim nasional, meski setahun terakhir tak dipanggil lagi.

    Tatkala masih junior, Elie pun pernah mengasah kemampuannya bermain sepak bola di luar negeri, tepatnya di Italia. Pemain sayap kanan ini sempat bergabung dengan tim Semen Padang, memperkuat Persija, sebelum akhirnya hengkang ke Selangor bersama Bambang, tiga bulan lalu. Hingga kini pemain asal Papua ini jadi andalan tim nasional Indonesia.

    Mereka rupanya bisa menggaet banyak penonton, terutama para pekerja Indonesia di Malaysia. Ini juga diakui oleh Jafar Bafagih, seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang malam itu bergabung dengan para bonek.

    Sebelumnya, lelaki 32 tahun ini tak pernah tertarik menonton pertandingan antarklub di Malaysia. Apalagi, Selangor FC kini bermain di Liga Perdana A-setingkat dengan Divisi Satu di Indonesia). "Setelah Bambang dan Elie bermain di klub Selangor, rasa ingin nonton tiba-tiba datang," katanya.

    Lain lagi dengan Ismail Ghani, 35 tahun. TKI asal Nusa Tenggara Barat ini sudah sering menonton pertandingan sepak bola di Malaysia, tapi tidak pernah menyokong klub tertentu. "Barulah sesudah datang Bambang dan Elie Aiboy, saya jadi pendukung setia klub Selangor," ujarnya.

    Begitu pula Rusdiyanto, mahasiswa asal Indonesia yang mengambil program S-2 di Universiti Kebangsaan Malaysia. Bersama rekan-rekannya, kini dia semakin kerap datang ke Stadion Shah Alam untuk menonton aksi Bambang dan Elie dari dekat.

    Malam itu, Jafar dan kawan-kawan terpuaskan. Elie Aiboy yang sudah dua minggu absen karena cedera kembali diturunkan. Di lapangan yang basah dan licin, Elie masih mampu menunjukkan aksi individunya yang menawan. Tu-sukannya dari sayap kanan beberapa kali membuat lini belakang Melaka kocar-kacir. Tiap kali Elie membawa bola penonton terus mengumandangkan namanya, "Elie! Elie!"

    Bambang Pamungkas tak kalah apik. Pada menit ke-20 dia mempersembahkan gol pembuka ke gawang Melaka setelah mendapat umpan dari sundulan striker lokal, Khalid Jamlus. Gol ini yang ketujuh yang disumbangkan Bambang untuk Selangor. Di timnya dia menjadi pemain tersubur kedua setelah pemain asal Argentina, Brian Fuentes, 29 tahun, yang sudah mengemas 11 gol.

    Dalam pertandingan malam itu, Selangor akhirnya menang 3-0. Hasil itu memperkuat posisi mereka di puncak klasemen Liga Perdana A. Mereka mengumpulkan nilai 19 sebagai hasil dari enam kemenangan, satu kali seri, dan satu kali kalah.

    Meski pertandingan masih tersisa 13 kali, Elie Aiboy yakin Selangor berpeluang promosi ke Liga Super atau liga utama. Tim ini memiliki materi yang bagus. Selain dirinya dan Bambang, juga masih ada dua pemain asing yang hebat. Mereka adalah Brian Fuentes dan Buddy Farah asal Australia. Di jajaran pemain lokal juga ada tujuh pemain tim nasional Malaysia, termasuk Khalid Jamlus. "Meski hanya tim Divisi I, tapi tim ini cukup bonafid. Itu pula alasan saya mau bermain di sini," kata Elie.

    Di mata Dollah Salleh, dua pemain asal Indonesia itu telah memberi kontribusi cukup bagus bagi tim. Itu sebabnya, ia berharap kontrak mereka diperpanjang menjadi tiga tahun. Sejauh ini, Bambang dan Elie baru dikontrak selama setahun. "Kalau ada kekurangannya, kedua pemain ini masih terlalu tergantung satu sama lain," kata pelatih berusia 45 tahun itu.

    Jika kontrak diperpanjang, maka isi saku Bambang dan Elie akan makin menggelembung. Sebuah sumber dalam tim membisiki Tempo bahwa kedua pemain ini digaji sekitar RM 45.600 (sekitar Rp 116 juta) per bulan. Gaji keduanya lebih tinggi dari pemain lain. Khalid Jamlus, misalnya, digaji sekitar Rp 81 juta. Bandingkan dengan pemain bintang di Liga Indonesia. Mereka hanya digaji sekitar Rp 20 jutaan sebulan.

    Dollah enggan berterus terang soal gaji. Dia hanya menegaskan, klubnya mencoba bersikap profesional. Kalau kehadiran mereka membawa pengaruh yang besar, tentu Selangor FC berani membayar mahal. "Dan ini sudah terbukti, semua pihak puas dengan Bambang dan Elie. Penonton pun jadi meningkat drastis," ujarnya.

    Ketika disebutkan bahwa gaji mereka melebihi angka seratus juta rupiah, Bambang maupun Elie pun tak mau berbicara blak-blakan. "Ah, itu dilebih-lebihkan," kata Elie sambil tertawa.

    Bambang mengakui dirinya mendapatkan fasilitas yang memadai. Selain diberi sebuah mobil, ia dan istrinya tinggal di apartemen berkamar tiga. Yang membuatnya betah, "Masyarakat Malaysia, terutamanya Selangor, cukup menghargai keberadaan kami."

    Elie juga mengakui hal itu. Di tengah konflik yang terjadi antara Malaysia dan Indonesia mengenai Blok Ambalat, dia sama sekali tak merasakan perubahan sikap penggemar sepak bola di sana. "Sambutan penonton di sini untuk kami sangat luar biasa," katanya.

    Mereka juga bisa menjalani hari-hari yang lebih longgar dibandingkan saat bermain di Indonesia. Di Liga Perdana A yang hanya diikuti oleh delapan tim, mereka bermain seminggu sekali. Setiap hari mereka hanya berlatih pada sore hari sekitar satu sampai satu setengah jam. Selebihnya, mereka leluasa menjalani kehidupan pribadi bersama keluarga. Bambang mengaku lebih sering menghabiskan waktu di rumah di depan komputer. Sedangkan Elie lebih suka mengajak istri dan anaknya jalan-jalan ke Kuala Lumpur.

    Nurdin Saleh, T.H. Salengke (Selangor)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Ketika Pengikut Tarekat Bicara Korupsi

Album

Album

Buku

Cerita Si Olin dan Pembacanya

Sebuah Buku, Pesaing Harry Potter

Yang Menjual Kesejukan

Catatan Pinggir

Bandung

Seni Rupa

Formula 1, Bukan Gereja

TEMPO|interaktif

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA

Olahraga

Babak Pertama, Novara Mampu Tahan Inter Milan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif