• Home
  • 11 April 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 April 2005

    Dari Malam yang Gelisah

    Cermin Merah Penulis : N. Riantiarno Tebal : 426 + xii halaman Penerbit : PT Grasindo, Jakarta, 2005

    Di sebuah malam yang gelisah, percintaan tak lazim itu bergelora. Sang narator, si aku yang menjadi tokoh utama, melukiskan asmara itu, asmara di antara dua insan sejenis: "Dia tetap asing, meski kami berdampingan dan beberapa saat lalu kami menyatu. Penyatuan dalam beberapa menit rasanya tak menjamin timbulnya isyarat yang memandu. Sebab, sesudahnya hanya ada kosong. Dan gelap. Perasaan aneh segera mencipta jarak pemisah. Kami seperti udara dan air. Meski menyatu dalam gelas, di dalam sebuah danau, unsur-unsurnya tetap saja terpisah."

    Ya, si aku dalam novel Cermin Merah adalah kepedihan yang berangkat dari perpisahan, dari rasa kehilangan: ayah yang lenyap ditelan huru-hara politik 1965, kakak yang tewas dalam pendakian gunung. Ia hengkang dari kota kelahirannya dan menggelandang di Jakarta. Di sanalah, dalam setting penghujung tahun 1960-an, ia terjebak petualangan percintaan tak lazim.

    Jakarta tahun 1968, kota dengan banyak pemuda berambut kribo di jalanan—gaya rambut yang dipengaruhi drama musikal Hair dari Broadway, New York, yang kemudian diangkat ke layar putih. Kota dengan Jakarta Fair, perayaan di bulan Juni yang menyelenggarakan pemilihan the best wadam (wanita adam, waria istilah sekarangnya). Dan Nano Riantiarno, penulis Cermin Merah, menangkap "keberanian" itu.

    Sepanjang 1968-1971, di pinggiran rel kereta api di Jalan Krakatau—sekarang Jalan Latuharhary—Jakarta, lokasi komunitas kaum wadam "buka bisnis", Nano mencoba mengamati, menyerap impian mereka. Termasuk eM, sumber inspirasi novel ini, seorang wadam yang lari dari desanya. Ayahnya difitnah, dituduh komunis, diciduk tentara, lantas tak jelas hidup-matinya. Sang kawan terdampar di Jakarta, menjadi wadam pekerja seks. Dari pengalamannya, lahirlah Cermin Merah, novel yang telah direvisi sembilan kali, sepanjang 1973-1983.

    Gaya penulisan novel ini sangat lancar menggambarkan suasana yang berbeda-beda, menghidupkan dialog di antara tokoh-tokohnya. Sejak SMA, Nano memang banyak bersentuhan dengan bermacam jenis sastra. Bahasanya lentur, tapi teknik berceritanya yang penuh kilas balik membuat novel ini agak njelimet.

    Buku ini dibuka dengan adegan ranjang di atas. Memikat, tapi berpotensi membuat pembaca kehilangan jejak. Dari ranjang, cerita tiba-tiba melompat ke sebuah adegan di pantai. Lalu sekonyong-konyong terbang ke sebuah masa di Kota C. Penulis menyebut gaya bercerita seperti ini gaya "bingkai berbingkai yang berbingkai-bingkai". Teknik ini dapat dijumpai dalam buku sepanjang 462 halaman itu. Teknik yang dipengaruhi Hikayat Bayan Budiman karya Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi dan Kisah Seribu Satu Malam. Juga gaya berkisah para penulis cerita silat, seperti OKT dan Boe Beng Tju.

    Sebagai sebuah novel yang utuh, Cermin Merah terkesan "serakah". Ia seolah ingin menelan permasalahan besar sebanyak-banyaknya, lalu mengisahkannya sekaligus. Ia melingkupi banyak hal yang berbeda, baik dari segi isi cerita maupun gaya menulis. Alhasil, sejumlah pertanyaan menggantung tak berjawab. Novel ini berakhir tanpa ending jelas. Menurut Nano, Cermin Merah merupakan trilogi pertama dan lebih sebagai sebuah prolog. Beberapa tokoh dalam cerita ini sengaja digantung, seperti tokoh ayah, ibu, Nina, dan Johari. Dia berjanji akan menyelesaikannya dalam trilogi kedua, Cermin Bening: Langkah Menuju Panggung. Dan sebagai epilognya adalah trilogi ketiga: Cermin Cinta.

    Cermin Merah memang tak mudah diikuti. Tapi, bagi pembaca yang mencari alternatif cara bercerita linear dan konvensional, mungkin novel ini cukup menantang untuk ditelusuri.

    Nurdin Kalim


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Malam yang Gelisah

Catatan Pinggir

Vatikan

Layar

Festival Keselamatan di Bulan Kedua

Penolak Bala Pengantin Baru

Ritual Magis bagi Harmoni Kehidupan Duniawi

Seni Rupa

Kembali ke Arok, Kembali Dekoratif

Televisi

Sang Ustad di Sudut Sinetron

Bangkit dengan Sinetron Religius

TEMPO|interaktif

Olahraga

Kritik Wasit, Pelatih Miami Heat Dihukum

Teknologi

IMO Rilis Tablet Android 4.0

Internasional

Pria Singapura Damba Pasangan yang Bisa Masak  

Internasional

Pesawat tanpa Awak AS Serang Afganistan

Bisnis

Bank Sentral Incar Spekulan Rupiah  

Internasional

Hobi Pria Ini Kumpulkan Pakaian Bekas Artis

Olahraga

Sagna Minta Arsenal Perpanjang Kontrak Van Persie  

Nasional

3.228 Anak di Jember Susun Balok Kreatif Raih Rekor MURI  

Cara Promotor Bangun Citra Positif Lady Gaga

Nasional

Suporter AC Milan di Kediri Selamatkan Seragam Sekolah  

Gaya Hidup

Cangkok Rahim, Harapan Baru Hadirkan Buah Hati

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif