• Home
  • 11 April 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 April 2005

    Harga Minyak, Bukan Sekadar Asumsi APBN

    Iman Sugema
  • *) Staf Pengajar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB

    Apa jadinya kalau prediksi Goldman Sachs bahwa harga minyak dunia akan menyentuh US$ 105 per barel benar? Ini akan merupakan sebuah realitas yang pahit bagi seluruh dunia, terutama negara-negara berkembang seperti Indonesia. Pertumbuhan dunia akan terkoreksi sangat drastis, harga barang lain ikut melonjak naik, dan sebagai akibatnya negara-negara yang masuk kategori miskin semakin banyak.

    Dengan tingkat harga yang sekarang saja, yaitu sekitar US$ 57 per barel, negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa telah dipaksa memangkas prediksi pertumbuhan ekonominya. Sementara sebelumnya mereka mengharapkan pertumbuhan rata-rata dua persen, kini perkiraan tersebut hanya menjadi 1,6 persen. Karena minyak masih merupakan sumber energi utama, hampir semua aktivitas kehidupan?baik sisi produksi maupun sisi konsumsi?menjadi sangat terpengaruh.

    Dari sisi produksi, minyak adalah sumber energi dan bahan baku, sehingga kenaikan harga minyak secara otomatis akan meningkatkan biaya produksi. Sebagai sumber energi, minyak digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik dan mesin-mesin produksi. Sebagai bahan baku, minyak merupakan bahan dasar plastik yang digunakan dalam setiap sendi kehidupan kita mulai dari pembungkus makanan, tekstil, alat elektronik, sampai kendaraan bermotor.

    Minyak juga dikonsumsi langsung oleh masyarakat dalam bentuk bahan bakar rumah tangga dan kendaraan bermotor. Hidup kita hampir tidak mungkin dipisahkan dari minyak dan plastik. Karenanya, wajar kalau kenaikan harga minyak akan mengoreksi pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan ekspektasi inflasi.

    Dengan ekspektasi pertumbuhan dunia yang rendah, permintaan ekspor dari negara-negara berkembang akan cenderung melemah. Globalisasi telah menciptakan saling ketergantungan antarnegara. Memburuknya kinerja ekonomi di sebuah kawasan akan merembet ke kawasan lainnya. Negara berkembang akan mengimpor barang-barang modal dari negara maju dengan harga yang lebih mahal, dan sementara itu ekspornya semakin berkurang. Posisi negara berkembang?terkecuali pengekspor minyak?akan makin sulit. Dan Indonesia sekarang adalah net importer, bukan net exporter minyak.

    Singkatnya, perkiraan harga minyak $ 105 adalah skenario kiamat, doomsday for everybody. Sayangnya, terhadap berita semacam ini kita selalu menyikapinya secara enteng-enteng saja. Pemerintah terkesan tidak siap, bahkan untuk urusan yang sangat sederhana, yaitu menghitung pemasukan dan pengeluaran negara yang berkaitan dengan minyak. Padahal isu minyak bukan hanya isu anggaran, melainkan isu ekonomi global yang menghantui setiap bilik rumah tangga di mana pun. Kita tidak siap menghadapi kemungkinan terburuk.

    Untuk itu, di bawah ini saya ingin menegaskan bahwa prediksi Goldman Sachs adalah suatu kemungkinan yang memiliki peluang untuk terjadi. Saya tidak berpretensi bahwa prediksi tersebut akan betul-betul terjadi atau tidak akan terjadi. Yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi kalau hal itu benar-benar terjadi. Isu minyak bukanlah sekadar isu yang menyangkut asumsi dalam APBN.

    Kenaikan Harga Minyak Dunia

    Saya masih ingat ketika pada pertengahan Januari 2004 kami sekelompok ekonom membicarakan kecenderungan harga minyak yang terus-menerus meningkat beberapa tahun belakangan. Pada saat itu, tak ada satu pun di antara kami yang yakin bahwa kelak harga minyak akan melewati angka $ 50 per barel. Saat itu harga minyak masih berkisar US$ 30-35. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang kejadian yang akan datang masih sangat terbatas.

    Pelajaran yang diambil dari situ adalah bahwa kita tidak boleh mengingkari suatu kemungkinan terhadap apa yang akan terjadi, walaupun secara nalar kemungkinan itu kecil sekali. Selain itu, kita menjadi sadar bahwa setidaknya ada empat faktor di bawah ini yang sebelumnya tidak pernah kita hitung dalam memperkirakan pergerakan harga minyak.

    Pertama, pertumbuhan ekonomi di dua negara berpenduduk terbesar di dunia, yaitu Cina dan India. Pertumbuhan ekonomi di Cina selama sepuluh tahun terakhir rata-rata di atas 10 persen. Di India, kurang-lebih setengahnya. Industrialisasi dan kenaikan pendapatan telah meningkatkan konsumsi energi di kedua negara itu. Harga minyak di masa yang akan datang sangat bergantung pada apakah pertumbuhan ekonomi di kedua negara tersebut melambat atau tidak. Jika melambat, prediksi Goldman Sachs kemungkinan kecil akan menjadi kenyataan.

    Kedua, efek rumah kaca dan penggundulan hutan. Konsumsi bahan bakar fosil telah mempercepat pemanasan global yang disebut efek rumah kaca. Sementara itu, produksi oksigen menjadi lebih terbatas karena penggundulan hutan tropis secara masif. Musim panas menjadi lebih panas, dan musim dingin menjadi lebih dingin berkepanjangan.

    Efek rumah kaca merupakan lingkaran setan. Supaya kita tetap dingin di musim panas, semakin banyak orang menggunakan AC, di rumah, kantor, maupun perjalanan. Tentu kita masih ingat, dua puluh tahun lalu AC masih barang mewah. Kini barang itu telah menjadi sebuah kebutuhan. Di musim dingin, orang butuh penghangat lebih banyak lagi. Akibatnya, baik di musim dingin maupun musim panas, konsumsi energi bertambah besar.

    Gas karbon dioksida dari hasil pembakaran kian menumpuk dan karenanya efek rumah kaca menjadi makin meningkat. Kita pun harus membakar energi yang lebih banyak lagi. Hanya ada satu alternatif untuk itu, yakni beralih ke energi yang lebih bersahabat dengan lingkungan, yakni tenaga air, angin, dan matahari. Persoalannya, mampukah kita mengeluarkan investasi untuk itu. Teknologinya masih terlalu mahal.

    Ketiga, semakin lemahnya pengaruh negara-negara OPEC terhadap pembentukan harga minyak. Di tahun 1970-an, OPEC adalah kartel yang sangat berkuasa dalam menentukan harga minyak dunia. Sekarang, harga minyak lebih ditentukan oleh kartel multinasional yang disebut the seven sisters dan para pialang di bursa komoditas berjangka di New York dan London. OPEC kini hanya menguasai 40 persen dari total produksi minyak dunia.

    Dengan realisasi produksi OPEC 29,5 juta barel per hari atau 1,5 juta barel lebih banyak dari kuota, tetap saja kenaikan harga minyak tak bisa dibendung. Agaknya, akar masalahnya bukan pada ketidakcukupan produksi sekarang, melainkan lebih karena ada ekspektasi bahwa di masa yang akan datang akan terjadi kelangkaan minyak dunia. Kalau ini benar, sulit bagi kita mengharapkan harga minyak dunia akan turun sampai di bawah angka US$ 35.

    Keempat, biaya produksi minyak makin mahal. Dewasa ini produksi minyak makin banyak yang berasal dari pengeboran di laut dalam. Hasil pengeboran di darat dan laut dangkal secara gradual menyusut. Akibatnya, biaya investasi dan biaya operasional pengeboran kian mahal. Tren ini akan terus berlanjut dan kenaikan harga minyak dewasa ini merupakan cerminan dari tren tersebut.

    Bisakah Harga Minyak Turun?

    Pertanyaan tersebut bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan lebih merupakan harapan. Tentu jawabannya bisa kapan saja. Pada Februari lalu, harga kontrak minyak masih berkisar US$ 42-44 per barel. Kini pergerakan harga minyak lebih mirip arung jeram, naik-turun secara drastis. Harga minyak untuk pengiriman Mei dan September di Bursa Komoditas New York dan London masih bertengger di atas US$ 57. Melihat tren seperti ini, sulit mengharapkan dalam setahun ini harga minyak akan kembali normal ke level US$ 20-30. Selain itu, dengan mempertimbangkan empat faktor tersebut, peluang penurunan harga tampaknya lebih kecil.

    Melihat perkembangan tersebut, IMF telah dua kali merevisi perkiraan harga rata-rata minyak dunia tahun 2005. Revisi pertama dilakukan Maret lalu, yaitu dari US$ 37,3 menjadi US$ 46,5. Kini, mereka memperkirakan harga rata-ratanya akan mencapai US$ 52. West Texas Intermediate (WTI) memperkirakan harga rata-rata tahun 2005 dan 2006 akan mencapai US$ 50 dan US$ 55 per barel. Dengan demikian, ada ekspektasi ke depan bahwa harga sulit kembali ke tingkat harga pada tahun-tahun sebelumnya.

    Sementara itu, rancangan APBN-P 2005 tampaknya tidak berupaya mengakomodasi perkembangan itu. Malahan, setelah mendapat kritik dari banyak ekonom, pemerintah berteguh bahwa asumsi tersebut adalah realistis. Coba kita lihat seberapa realistiskah asumsi itu. Dengan tingkat harga selama tiga bulan terakhir, maka untuk mencapai harga rata-rata US$ 35, harga rata-rata April-Desember 2005 harus turun sampai US$ 29. Karena kita mulai dari harga di atas US$ 55, harga terendah yang harus tercapai adalah US$ 13,6. Jelaslah asumsi itu tidak realistis. Yang lebih mendekati kenyataan mungkin adalah angka WTI dan IMF. Tapi itu pun dengan asumsi bahwa harga minyak akan menyentuh angka US$ 40-42 per barel selama kurang-lebih satu bulan berturut-turut.

    Bagi saya, persoalannya bukanlah pada realistis atau tidak realistis asumsi dan prakiraan tersebut. Yang lebih penting adalah apakah kita siap menghadapi kemungkinan yang terburuk seperti yang digaungkan Goldman Sachs. Perspektif yang lebih komprehensif tentang dampak kenaikan harga minyak akan lebih bermanfaat. Kita harus menyiapkan masyarakat untuk melakukan penghematan energi, beralih ke energi alternatif yang lebih ramah lingkungan, membuat sistem transportasi yang lebih efisien, dan menyiapkan infrastruktur jaringan gas. Siapkah kita?


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Malam yang Gelisah

Catatan Pinggir

Vatikan

Layar

Festival Keselamatan di Bulan Kedua

Penolak Bala Pengantin Baru

Ritual Magis bagi Harmoni Kehidupan Duniawi

Seni Rupa

Kembali ke Arok, Kembali Dekoratif

Televisi

Sang Ustad di Sudut Sinetron

Bangkit dengan Sinetron Religius

TEMPO|interaktif

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif