• Home
  • 11 April 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 April 2005

    Pembunuh Berseragam Polisi

    Tubuh perempuan muda itu terbujur bersimbah darah. Dingin. Kaku. Sebuah lubang akibat tertembus peluru menganga di bagian pelipis. Lima peluru lain bersarang di bagian tubuh, melubangi kemeja bermotif Cina yang dikenakannya.

    Setahun lalu, temuan mayat itu menggegerkan Dusun Kemang, Palalawan, Riau, yang biasanya sunyi. Tak ada warga yang mengenali jati diri wanita malang tersebut. Ia jelas bukan penduduk setempat. Warga dusun yang lugu kemudian mengubur jenazah di lahan belukar, dua kilometer dari jalan beraspal.

    Misteri baru terkuak Senin tiga pekan lalu. Petugas dari Kepolisian Daerah Riau yang melakukan pembongkaran makam dan pengenalan jenazah memastikan wanita muda itu adalah Nurmarta Lily, karyawati sebuah salon di Jambi. Usianya 33 tahun.

    Nurmarta adalah istri sekaligus salah satu korban kebiadaban Inspektur Satu Gribaldi Hamdayani. Anggota Kesatuan Telematika Polda Jambi ini diduga terlibat serangkaian kasus pembunuhan. Setidak-tidaknya ia telah menghabisi tujuh nyawa di wilayah yang terentang antara Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

    Semua terbongkar setelah Gribaldi ditangkap oleh petugas dari Polda Riau dua bulan lalu dalam kasus lain. Perwira polisi berusia 38 tahun itu diduga terlibat kasus penipuan dan pemilikan kendaraan bermotor dengan nomor palsu.

    Tak disangka, ketika melakukan penggeledahan untuk mencari barang bukti di rumah tersangka di Jambi, petugas menemukan ratusan peluru senjata jenis Colt 38, revolver yang biasa digunakan polisi. Kecurigaan pun mencuat. Soalnya, sejak berdinas lima tahun lalu di Polda Jambi, ia tak pernah diberi kepercayaan memegang senjata api.

    Kebetulan akhir tahun lalu polisi Sumatera Selatan dan Riau menemukan sejumlah mayat di wilayah mereka dengan bekas luka tembak. Di kawasan Banyu Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, misalnya, polisi menemukan jenazah Listy Kartika Baiduri, 30 tahun, dan Ngadimin, 50 tahun.

    Kedua korban ditemukan tewas dengan kepala tertembus peluru dan tubuh hangus terbakar. Listy, janda beranak satu, adalah warga Payo Silincah, Kota Jambi. Begitu juga Ngadimin adalah warga Kota Jambi dan bekerja sebagai wartawan tabloid Derap Hukum. Tempat tinggal kedua korban berjarak ratusan kilometer dengan lokasi ditemukannya jenazah mereka.

    Di Bagan Batu, Riau, polisi juga menemukan jenazah Gusmarni, 31 tahun. Lagi-lagi dengan bekas luka tembak di bagian kepala dan tubuh hangus terbakar. Janda tanpa anak warga Kota Baru Jambi tersebut dilaporkan hilang tiga tahun lalu dengan membawa sebuah sepeda motor dan mobil Toyota Hardtop.

    Dari hasil penyelidikan polisi, diketahui bahwa peluru yang bersarang di tubuh ketiga korban sama jenisnya dengan yang disita dari rumah Gribaldi. Maka, petugas mencurigai sejawat mereka itu terkait dengan tewasnya orang-orang tersebut.

    Namun polisi kesulitan mengungkap kasus itu secara cepat karena Gribaldi selalu diam membisu. Kekhawatiran mencuat. Jangan-jangan tersangka tak waras. Pemeriksaan kejiwaan pun dilakukan. Hasilnya? "Dia sehat. Tak menderita gangguan jiwa akut atau gila," kata juru bicara Polda Riau, Ajun Komisaris Besar Polisi Amien Rachimsyah.

    Pemeriksaan yang telaten disertai pengajuan sejumlah bukti kembali dilakukan. Akhirnya Gribaldi mau buka mulut. Dia mengaku telah merampas nyawa ketiga orang tersebut. Pengakuan perwira yang memulai karier dari jenjang bintara itu belum berakhir.

    Ternyata masih ada empat korban lain yang telah ia bunuh. Mereka adalah Rusdin Sidauruk, warga Medan, Sumatera Utara, Mohammad Ali alias Mamad, warga Jambi Selatan, dan Yeni Farida, warga Telanai Pura, Kota Jambi. Dan terakhir adalah istri simpanannya sendiri, Nurmarta Lily.

    Berdasar keterangan Gribaldi, polisi bergerak menelusuri lokasi-lokasi pembuangan mayat korban. Tiga jenazah dapat ditemukan dan dikenali. Hanya satu yang belum ditemukan, yaitu Yeni Farida, yang jenazahnya, menurut pengakuan Gribaldi, dibuang di daerah Air Molek, Riau.

    Polisi tentu tak hanya bersandar pada pengakuan Gribaldi. Upaya pencarian tetap dilakukan. Mengingat kepintarannya mengaburkan identitas korban dan kegilaannya yang telah berlangsung sejak enam tahun lalu, polisi juga tak menutup kemungkinan adanya korban lain. "Ini masih terus kita kembangkan," kata seorang penyidik di Polda Riau.

    Entah setan apa yang bersemayam di tubuh Gribaldi. Perwira muda berkulit cerah itu enteng saja mencabut nyawa orang. Alasannya kadang sepele. Nurmarta, misalnya, ia bunuh hanya karena rasa cemburu. Ia mencurigai istri simpanannya itu memiliki kekasih lain.

    Adapun Rusdin, Mamad, dan Gusmarni harus meregang nyawa karena Gribaldi ingin menguasai mobil dan motor milik mereka. Hal itu terbukti dari ditemukannya Kijang hitam yang biasa dikemudikan Rusdin yang telah berganti nomor polisi. Semula nomornya adalah BK 1274 EP, Gribaldi kemudian mengubahnya menjadi B 2539 AD. Begitu pula Isuzu Panther kepunyaan Mamad, yang semula bernomor B 8467 CE dan telah diganti dengan nomor pelat Jambi.

    Lain lagi alasan yang membuat maut menjemput Ngadimin dan Listy. Kedua orang itu diduga mengetahui permainan curang Gribaldi sebagai calo penerimaan pegawai negeri dan polisi di sekolah calon bintara Jambi. Maka keduanya harus dilenyapkan. Dalam melakukan kejahatannya, Gribaldi diduga menggunakan pistol milik anggota Polres Bungo, Jambi, yang hilang empat tahun lalu.

    Beberapa tahun terakhir Gribaldi memang terlihat lebih asyik dengan pekerjaan sampingan sebagai calo ketimbang tugas utamanya sebagai polisi. Tak mengherankan bila ia bisa menempati rumah besar di Perumahan Pondok Sejahtera, Kota Jambi. Dalam bekerja, ia biasanya menggunakan beberapa nama samaran seperti Heri, G. Handa T.G., dan Grihanda.

    Beberapa rekannya di Polda Jambi bercerita, Gribaldi kurang profesional dalam menjalankan tugas kepolisian. Dia tak serius be-kerja, bahkan tak betah tinggal lama di kantor. Biasanya ia datang ke kantor untuk apel pagi. Seusai apel, ia segera meninggalkan kantor dengan berbagai alasan. Sering ia pergi berjam-jam dengan mengabaikan tugas dan baru kembali saat apel sore.

    Di luar sikap yang tak profesional, perilaku Gribaldi relatif wajar. Tak ada gelagat kelainan. Ia suka bergaul dengan siapa saja. Tapi ia juga gampang marah. "Sikapnya keras terhadap petugas yang pangkatnya lebih rendah," kata sejawatnya di Polda Jambi yang tak mau disebut namanya.

    Perilaku Gribaldi yang tak profesional diakui Ajun Komisaris Besar Polisi Djoko Turochman. Sebagai ganjaran, beberapa kali Gribaldi terkena hukuman. Ia juga pernah menjalani sidang disiplin akibat kasus perempuan dan asusila.

    Gribaldi bahkan pernah menjual nama salah seorang pimpinannya untuk kepentingan pribadi sewaktu bertugas di Polres Kerinci, Jambi. "Dia pernah ditahan dan mengalami penundaan kenaikan pangkat selama dua periode," ujar Kepala Bidang Humas Polda Jambi itu.

    Kini Gribaldi masih terus menjalani pemeriksaan di Polda Riau. Berkali-kali Tempo berusaha mewawancarainya, tapi selalu tidak diizinkan oleh petugas.

    Akibat dari perbuatannya, tersangka diancam dengan hukuman mati. Ini sesuai dengan harapan keluarga korban yang ia bunuh. "Nyawa harus diganti nyawa." Begitu keinginan Emi, 55 tahun, ibu kandung Mamad. "Saya minta penegak hukum menjatuhkan hukuman mati kepada tersangka. Sama seperti dia membunuh anak saya."

    Nugroho Dewanto, Jupernalis Samosir (Pekanbaru), Syaiful Bakhori (Jambi)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Malam yang Gelisah

Catatan Pinggir

Vatikan

Layar

Festival Keselamatan di Bulan Kedua

Penolak Bala Pengantin Baru

Ritual Magis bagi Harmoni Kehidupan Duniawi

Seni Rupa

Kembali ke Arok, Kembali Dekoratif

Televisi

Sang Ustad di Sudut Sinetron

Bangkit dengan Sinetron Religius

TEMPO|interaktif

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif