• Home
  • 11 April 2005
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 April 2005

    Bila Keramas Mengundang Cemas

    Widya Tresna Utami tergolong setia menggunakan pencuci rambut. Wanita muda yang bekerja sebagai konsultan sebuah perusahaan hubungan masyarakat di Jakarta itu sehari-hari biasa keramas menggunakan Pantene antiketombe.

    Sejak memakai sampo buatan Procter and Gambler (P&G) tersebut, Widya mengaku rambutnya menjadi lebih mudah diatur. Tak lepek lagi. "Saya merasa cocok," ujar wanita yang mengenakan kerudung itu.

    Namun alangkah terkejutnya Widya ketika membaca sampo kesayangannya itu ternyata mengandung methylisothiazoline atau MIT, yang dianggapnya bisa membahayakan kesehatan sel saraf dan otak. Widya mengunduh kabar tersebut dari situs NewsTarget.com edisi Kamis dua pekan lalu. MIT biasanya berfungsi sebagai zat pengawet pada produk perawatan tubuh yang lazim digunakan kaum hawa maupun bayi.

    Situs berita masalah kesehatan dan pengobatan itu rupanya menurunkan tulisan berdasar hasil penelitian yang dilakukan Profesor Elias Aizenman, ahli biologi saraf dari Universitas Pittsburgh, Amerika, yang terbit akhir tahun lalu. Aizenman kemudian membeberkan hasil penelitiannya dalam pertemuan tahunan American Society for Cell Biology di Washington, DC.

    Ilmuwan itu menggunakan teknik in vitro saat melakukan penelitian. Menggunakan ekstrak sel saraf tikus, Aizenman menguji efek MIT dalam tabung-tabung di laboratorium. Ia memasukkan MIT ke sel saraf dengan perbandingan 1:10. Hasilnya: sel saraf tikus tersebut rusak.

    Berdasar penelitian tersebut, Aizenman menduga hal yang sama bisa terjadi pada sel otak manusia. Ia berteori, MIT bisa mengganggu komunikasi antarsel saraf. Kondisi ini akan memperlambat jaringan kerja saraf. Akhirnya fungsi sistem saraf itu sendiri akan terganggu. Padahal, pada manusia, kerusakan sel otak sering dikaitkan dengan penyakit seperti alzheimer dan parkinson.

    Ada yang lebih dikhawatirkan Aizenman. Penggunaan produk yang mengandung MIT oleh ibu hamil bisa berdampak negatif pada janin. "Pemakaian MIT dalam jumlah konsentrasi tinggi bisa membahayakan janin."

    Aizenman tak tegas menyebut hubungan antara penggunaan MIT dan kerusakan pada sel saraf. "Saya tak bisa mengatakan bahwa memakai sampo tak aman, tapi juga saya tak bisa mengatakan tindakan itu aman," ujarnya.

    Industri kosmetik dan perawatan tubuh sendiri selama ini selalu berkampanye bahwa MIT aman digunakan. Masalahnya, kata Aizenman, kini penggunaan zat pengawet pada produk kecantikan konsentrasinya semakin lama semakin tinggi.

    Hasil penelitian Aizenman sontak menyengat kalangan industri kosmetik dan perawatan tubuh. Cosmetic, Toiletry and Fragrance Association (CTFA)?perkumpulan kelompok industri itu?menyebut hasil penelitian tersebut tak memberikan nilai lebih untuk petunjuk penggunaan produk yang aman.

    Mereka berkilah penggunaan MIT pada sampo dan produk perawatan tubuh lain sangat rendah. "Penelitian yang dilakukan pada ekstrak sel saraf tikus di laboratorium tak lantas memberikan efek yang sama juga pada manusia yang terkena MIT," demikian penjelasan CFTA.

    Perkumpulan industri besar itu, dengan mengajak Food and Drug Administration (FDA)?lembaga pengawasan obat dan makanannya Amerika?bahkan akan segera membuat penelitian ulang untuk menguji teori Aizenman.

    Wajar bila pengusaha kosmetik dan produk perawatan tubuh belingsatan. Bila konsumen terpengaruh dengan hasil penelitian Aizenman, bisa-bisa keuntungan perusahaan akan merosot. "Penelitian itu tak relevan," kata Bambang Sumaryanto, Direktur Hubungan Luar P&G, produsen sampo yang paling banyak disebut-sebut mengandung MIT.

    Kalau tak aman, kata Bambang, mengapa zat itu boleh dipergunakan selama bertahun-tahun? "Produk lain juga banyak yang menggunakan zat ini," ujarnya.

    Dalam pernyataan bantahan terhadap penelitian Aizenman, pihak CTFA menyebut selama ini kadar MIT yang dipergunakan dalam industri produk perawatan tubuh sangat rendah. Kadar itu telah disetujui Environmental Protection Agency (EPA). Juga oleh badan serupa di Jepang dan Komisi Eropa.

    Kadar MIT tersebut adalah 1 ppm per 55 galon drum. Kira-kira setara satu tetes untuk seribu liter, baik untuk sampo maupun produk lainnya.

    Fiametta S. Soenardi, petinggi P&G Indonesia lainnya, mengatakan bahwa metode penelitian in vitro yang dipakai Aizenman juga mesti ditinjau kembali. "Ia melakukan penelitian secara in vitro, dengan mengambil ekstrak jaringan saja. Cara itu beda dengan in vivo, yang meneliti tanpa melepaskan jaringan dari tubuh," kata Fiametta.

    Padahal, kata Fiametta, tubuh bekerja secara sistemik. Contohnya jika zat beracun terekspos di tangan, pengaruhnya bisa seluruh di tubuh. Antibodi akan bereaksi menolak hingga reaksi yang muncul relatif lebih rendah.

    Adapun dengan in vitro, jaringan dikeluarkan dari tubuh, jadi tidak bisa ke mana-mana. Alhasil, jumlah paparan di in vitro selalu lebih besar ketimbang yang seharusnya terjadi.

    Persoalan lain, setetes MIT tak bisa serta-merta masuk ke sel saraf dan merusak sel seperti teori Aizenman. "Tubuh kita," kata Fiametta, "Punya lapisan-lapisan kulit yang menjadi penghalang masuknya benda asing yang tidak diinginkan tubuh." Menurut penelitian terdahulu pun, MIT tak bisa masuk lebih jauh ke dalam kulit. Zat ini hanya bisa bertahan di kulit terluar.

    Pendapat Fiametta diamini Titi Moertolo, dokter spesialis kulit yang berpraktek di Jakarta. Pengawet untuk kosmetik, menurut dia, memang digunakan dalam kadar yang sangat rendah. Karenanya tak ada efek negatif. "Prinsipnya, apa pun yang menempel di tubuh kita pasti akan menimbulkan reaksi. Kalau dosisnya sedemikian kecil, tubuh tak memerlukan antibodi untuk melawannya."

    Peraturan di Indonesia tentang batas aman penggunaan MIT sudah cukup jelas. Berdasar aturan yang dikeluarkan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2004, kadar pengawet yang diperbolehkan adalah 0,0015 persen.

    Kadar itu relatif rendah. Jadi, produknya aman untuk digunakan manusia. "Lagi pula, keramas kan tak banyak memakai sampo, dan langsung dibilas pula," kata Drs Ruslan Aspan, pejabat di BPOM. Selama ini BPOM membuat aturan batas kadar aman pengawet kosmetik berdasarkan rekomendasi dari Asian Cosmetic Directive European Commission.

    Dengan prosedur keamanan seperti itu, BPOM sejauh ini belum merasa perlu meneliti bahan-bahan pengawet yang digunakan dalam produk kosmetik. Aturan yang dibuat badan-badan pengawasan obat dan makanan di luar sudah berdasarkan kajian ilmiah mendalam.

    Jadi, Widya tak perlu terlalu cemas. "Saya percaya sekarang semua produk itu ada lebih kurangnya. Saya pribadi lebih memilih melihat apakah produk tersebut berdampak langsung pada saya atau tidak," katanya bijaksana.

    Utami Widowati


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Dari Malam yang Gelisah

Catatan Pinggir

Vatikan

Layar

Festival Keselamatan di Bulan Kedua

Penolak Bala Pengantin Baru

Ritual Magis bagi Harmoni Kehidupan Duniawi

Seni Rupa

Kembali ke Arok, Kembali Dekoratif

Televisi

Sang Ustad di Sudut Sinetron

Bangkit dengan Sinetron Religius

TEMPO|interaktif

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif